Adham Somantrie

Digital media communications. MBA student. Techie. Founder of siteo.us. Editor for MakeMac. And also a runner.

hi@adha.ms adhams @adhams @adham Adham Somantrie

Time to Replace Nike+ SportBand, or Not?

I missed last Sunday morning run. Then, I did the next day (16/04), Monday morning run in Mega Kuningan district of Jakarta. Met Asep Hadian that was train for his first marathon, but I just did easy jog for 3.2 km. Everything is fine, as usual. I tracked my run with Nike+ Sportband paired with shoe sensor and Polar Wearlink+ heartrate monitor.

Finished the run, and bought breakfast in the neighbourhood. As usual, over the breakfast, I plugged the SportBand (technically, the unit is called SportBand Link) to my MacBook's USB port to sync the data and read the statistics.

The Link's display showed "CHRG" (which means it is currently charging the battery), but the Nike+ Connect did not shown up nor launched. I unplugged the Link and plugged it to another USB port. Still "CHRG", and still no Nike+ Connect. I launched Nike+ Connect app manually. It said there's no device plugged. Then, I restarted my Mac, to make sure my Mac is okay.

While the Mac was restarting, I cleaned the "USB electrode" on the Link. Maybe the electrode was dirty and caused the USB data not connected to the computer. After the reboot, the problem still happened: not detected. Then I launched the Nike+ Connect app manually, and still said there's no device plugged.

After waiting for few minutes, the Nike+ Connect finally "detect" my SportBand link. But, it said that my link was in "unusable state" and its firmware had to be "updated". Then, I followed the instruction to update it. While updating the firmware, the Link's screen show scramble (randomized pixel), but the firmware update process still running. I waited until the process finished.

When the update finished, the Link's screen goes blank. No response when I push any button on the Link. Nike+ Connect app also did not detect the link when plugged to the Mac's USB. Link's display still blank.

I tweeted this case, and @nikeplus recommended to do the "reset" with holding both toggle and record button for 10 seconds. I did it, and nothing happened. Display is still blank.

I bought my SportBand in December 2009 from Nike Store Sun Plaza, Medan. It has tracked my run for more than 800 km, and also thousands heartbeats. If people mostly got the sensor dead first, not on my case. The bundled sensor still works well. In recent weeks, the SportBand not shows any symptoms. Even battery issues. So, I don't think the battery is dead.

Okay, my SportBand is considered dead. I still have my iPhone 3GS that I can use to track my run, paired with the shoe sensor. But, I can't paired the iPhone with heartrate monitor. So, the Polar heartrate would be useless. Should I buy the new Nike+ SportBand? Probably yes since I prefer to use SportBand that bringing iPhone while running. Even with the armband.

SportBand is relatively outdated. Moreover when SportWatch with GPS tracking is available. Both SportBand and SportWatch are compatible with my Polar heartrate. So, SportWatch is also a nice alternative, especially after the price was cut from 199 USD to 169 USD, it becomes more interesting upgrade of SportBand.

Would I buy Nike+ SportWatch? As an upgrade, yes. But, since it is currently not available in Nike Store Indonesia and @nikeplus have not yet announced a release date for the Nike+ SportWatch GPS in Indonesia, I have to buy it from Amazon. It will cost more for shipping, and I have to wait for couple week. Even with price-cut, it costs more than twice of Sportband. This could be another investment consideration.

Another consideration is related to my vision to be a triathlete. SportWatch currently just can track running. It can't used to track cycling and swimming. But, since it uses GPS, technologically it is possible to track cycling. It just the matter of software. According the Nike's move to training and basket ball for Nike+ product line, it is possible that Nike will exploring the triathlete domain. With firmware update, SportWatch is possible to track cycling. But since SportWatch can not be used for swimming, perhaps Nike will launch the "upgrade" in the future that could used for triathlon. Nike TriWatch, perhaps?

So, for a while I'll just stick with the iPhone and armband.

— AdhamPlus.

1 Comments

Published on 2012-04-19 15:01:56. 551 views.
Tagged in: lari run nikeplus

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nike+ 100x365

Bukan, ini bukan program resmi Nike. Ini hanyalah program pribadi yang kebetulan melibatkan Nike+. Saya akan coba berbagi program 100x365 yang sudah saya jalankan dan berhasil memberikan motivasi untuk berlari.

Program ini adalah tantangan untuk berlari sejauh 100 km dalam setahun. Oleh karena itu dinamakan 100x365, 100 kilometers by 365 days. Berawal dari wacana keinginan Lia untuk memiliki juga Nike+ SportBand, tahun lalu ia menginginkan Nike+ SportBand sebagai hadiah ulang tahunnya. Ditambah dengan kisah awal berlari saya yang banyak dimotivasi oleh Nike+, plus keinginannya untuk mulai rutin jogging, maka dengan senang hati saya pun menghadiahi Nike+ SportBand dengan pilihan warna sesuai permintaan.

 100x365

Saya mencoba menawarkan sepatu lari yang baru. Namun dengan syarat, yakni harus rajin berlari. Tentunya agar hadiah Nike+ SportBand tidak sia-sia dan hanya menjadi penunjuk waktu saja. Apalagi mengingat sepatu yang dibelinya untuk berlari justru jarang digunakan. Nah, dengan adanya Nike+ SportBand, maka saya bisa memantau jarak tempuhnya. Sehingga, saya memberikan tantangan 100x365 ini: yakni harus berlari minimal 100 km sebelum hari ulang tahun berikutnya. Deal!

Bagi pelari yang sudah terbiasa, 100 km bukanlah jarak yang jauh, bahkan mungkin bisa dicapai dalam waktu hanya sebulan. Apalagi untuk pelari ultra, 100 km bisa dicapai hanya dengan sekali lari saja. Tapi, 100 km bukanlah jarak yang pendek untuk orang yang baru memulai.

Ya, karena adanya tanggal 29 Februari 2012, maka sebenarnya waktu yang dimilikinya adalah 366 hari, bukan 365 hari. Namun adanya hari tambahan tidak berpengaruh banyak, karena Lia berhasil menuntaskan target 100 km dalam waktu kurang dari 365 hari.

Di hari ulang tahunnya, saya harus menepati janji untuk menghadiahkan sepatu lari yang baru. Dan ia memilih Nike LunarGlide+ 3 SHIELD.

LunarGlide+ 3 Shield. Make it count.

Mari kita lihat, apakah dia mampu untuk memenuhi tantangan berikutnya: 200x365? Kali ini, permintaannya meningkat: Nike FuelBand. Saya hanya bisa berharap tahun depan sudah tersedia di Indonesia. #makeitcount

Adham Somantrie.

7 Comments

Published on 2012-03-20 09:11:26. 804 views.
Tagged in: nikeplus run lari

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nike+ Fuelband

Januari 2012 lalu, Nike kembali memperkenalkan produk baru untuk jajaran Nike+: Nike+ FuelBand. Mirip seperti Nike+ SportBand, namun FuelBand bekerja tanpa sensor sepatu karena accelerometer yang terintegrasi. Namun, tanpa sensor sepatu dan GPS, Nike+ Fuelband tidak bisa mengukur jarak dan kecepatan lari Anda. Ya, Nike+ Fuelband adalah satu-satunya perangkat Nike+ yang tidak bisa mengukur lari Anda. FuelBand juga tidak bisa disandingkan dengan Polar WearLink+ Transmitter Nike+ untuk mencatat detak jantung.

Lalu apa menariknya? Jika Sportband dan SportWatch hanya bermanfaat saat Anda berlari (selain berlari, hanya akan berfungsi sebagai penunjuk waktu), maka FuelBand akan mengukur aktivitas Anda sepanjang hari. Walaupun tidak bisa mengukur jarak, FuelBand bisa mengukur jumlah langkah (pedometer). Seiring bergeraknya tangan Anda baik dalam aktivitas sehari-hari maupun saat berolah raga, FuelBand bisa mencatat jumlah kalori yang terbakar. Mirip seperti FitBit Ultra.

Intinya, FuelBand merekam pergerakan Anda sepanjang hari dan menghitung kalori yang terbakar. Apapun aktivitasnya, selama tubuh Anda bergerak: jalan kaki, menari, bermain bulu tangkis, maupun memasak di dapur. Selama tidak berenang ataupun berendam, walaupun NikeFuel dapat bertahan jika Anda gunakan saat mandi maupun hujan-hujanan.

Nah, yang menarik dari Nike+ selain perangkatnya adalah sistemnya. Nilai tambah Nike+ adalah pada sistemnya ini. Nike+ mengkonversi kalori yang tercatat menjadi NikeFuel, semacam kredit atau poin yang bisa Anda kumpulkan. Jika Anda pernah menggunakan Nike+Active, maka NikeFuel ini semacam bahan bakar untuk bisa "bermain" di situs tersebut. Kurang lebih seperti itu.

Untuk "bermain", kita harus menentukan target (goal) harian kita. Seiring aktivitas dan terbakarnya kalori, maka akan ada indikator NikeFuel yang terdiri dari 20 LED yang dimulai dari warna merah hingga hijau. Jika di Sportband dan SportWatch menggunakan layar LCD, Nike+ FuelBand memiliki jajaran lampu LED putih sebanyak 100 unit untuk "layar" informasinya.

Pendekatan permainan (game) ini yang saya pikir membuatnya jadi menarik dibanding sistem lain. Karena pengguna akan lebih termotivasi untuk lebih banyak membakar kalori dan berolahraga demi mengumpulkan NikeFuel. Bukankah motivasi berolahraga adalah hal yang sulit didapat?

Data-data dari FuelBand tentunya bisa diunggah ke situs Nike+ menggunakan koneksi USB seperti halnya Sportband dan SportWatch. Selain USB, FuelBand juga bisa dihubungkan dengan iPhone menggunakan bluetooth dan aplikasi Nike+ FuelBand yang tersedia gratis untuk mengunggah data dari FuelBand.

Sama dengan statistik berlari Nike+, di situs Nike+ dan aplikasi Nike+ FuelBand, Anda bisa membaca data pembakaran kalori harian Anda. Termasuk melihat kapan aktivitas yang banyak menghabiskan kalori. Dan tak lupa, fitur sosialisasi untuk "pamer" pencapaian, maupun untuk mencari motivasi dengan berkompetisi dengan pengguna yang lain.

Ah iya, produk ini baru akan tersedia pada 22 Februari 2012 di Amerika Serikat dengan pemesanan terlebih dahulu (pre-order). Harga resminya di sana USD 149. Berminat? Tentunya perlu menunggu beberapa waktu hingga produk ini tersedia secara resmi di pasar Indonesia. Nike+ SportWatch GPS saja belum tersedia resmi di sini kan?

Dengan bergabungnya Nike+ FuelBand ke dalam keluarga Nike+, berikut lini produk Nike+ per Februari 2012.

— Adham Somantrie.

PS: Walaupun FuelBand adalah Nike+, tetapi tidak saya masukkan ke artikel Bagaimana untuk Berlari Plus dengan Nike+ karena tidak bisa digunakan untuk mengukur berlari.

1 Comments

Published on 2012-02-20 08:31:36. 1127 views.
Tagged in: fuelband nikeplus

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Bagaimana untuk Berlari Plus dengan Nike+ #2

Melanjutkan tulisan saya mengenai Nike+, maka di tulisan ini ada beberapa informari tambahan baru tentang bagaimana untuk menggunakan Nike+. Saya juga akan mengaktualkan artikel saya yang lama tersebut dengan informasi yang ada di dalam artikel ini.

Pengguna iPod nano generasi keenam kini dapat menggunakan fitur Nike+ tanpa harus menggunakan Nike+ Sportband setelah mengaktualkan firmware ke versi 1.2. iPod nano dapat bekerja hanya dengan mengandalkan sensor accelerometer yang terintegrasi. Namun, jika Anda lebih menyukai sensor sepatu (footpod), Anda tetap dapat menancapkan penerima Nike+ ke iPod nano dan mengukur jarak lari Anda dengan Nike+ sensor di dalam sepatu. Juga untuk menyandingkan iPod nano dengan Polar WearLink+ Transmitter Nike+, Anda perlu menggunakan penerima Nike+ ke iPod nano.

Nike+ SportWatch GPS by TomTom merupakan penerus dari Nike+ SportBand. Sesuai namanya, selain dapat disandingkan dengan Nike+ sensor di sepatu juga merekam rute serta jarak berlari Anda dengan GPS dari pabrikan TomTom. Nike+ SportWatch juga dapat disandingkan dengan Polar WearLink+ Transmitter Nike+ untuk memantau detak jantung Anda selama berlari. Ditawarkan seharga USD 199 sudah termasuk Nike+ sensor dalam paket penjualan, sementara WearLink+ dijual terpisah. Saat tulisan ini diturunkan, baik Nike+ SportWatch maupun WearLink+ belum tersedia secara resmi di pasar Indonesia.

Sekedar opini pribadi, jika iPod nano dilengkapi dengan GPS maka bisa menjadi pesaing kuat untuk MotoACTV. Sementara Nike+ SportWatch GPS punya kemampuan pamungkas untuk Nike+: pelacakan GPS, Nike+ sensor, dan WearLink+; namun minus musik. Tapi bisa menjadi opsi yang menarik untuk pengguna Nike+ Sportband yang ingin naik kelas.

Mari lari™.

Adham Somantrie, Nike+ ID: AdhamPlus.

0 Comments

Published on 2011-10-24 09:17:17. 1095 views.
Tagged in: tutorial ipod nikeplus run lari

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nike Running Shield Pack 2011

Nike meluncurkan jajaran sepatu lari edisi Shield untuk menambah koleksi sepatu lari musim liburan (holiday season) kali ini. Memang tidak ada perubahan tampilan yang signifikan dibandingkan dengan edisi reguler selain pilihan warna baru. Keenam sepatu yang hadir dalam edisi Shield adalah: Free Run+ 2, Lunarswift+ 3, Lunar Fly+, Air Zoom Structure+ 15, Lunarglide+ 3 dan Lunar Eclipse+. Nike edisi Shield hadir dalam warna abu-abu dengan aksen warna oranye untuk pria dan kuning lemon untuk wanita.

Yang menarik dari edisi Shield ini adalah penggunaan material berteknologi Durable Water Repellent (DWR) yang diklaim tahan terhadap berbagai cuaca (weather-proof). Cocok untuk Anda yang suka menghadapi hujan saat berlari. Untuk Anda yang suka berlari di suasana gelap atau malam hari, sepatu edisi Shield ini juga dibalut dengan bahan scotchlite dari 3M yang memantulkan cahaya. Menambah faktor keamanan berlari di jalan raya.

Keenam sepatu tersebut tentunya sudah siap untuk sistem Nike+ (Nike+ ready). Jadi tak perlu khawatir untuk Anda yang menggunakan Nike+ sensor.

Nike Shield ini cukup mengobati kekecewaan saya dengan pilihan warna yang masuk ke Indonesia. Untuk musim gugur (fall season) 2011, Nike Indonesia memasukkan tiga dari lima pilihan warna untuk Nike LunarGlide+ 3. Yang sayangnya, justru saya tertarik dengan pilihan warna kombinasi hitam-putih yang tidak masuk ke pasar Indonesia. Sepertinya saya akan mengunjungi Nike Store untuk menjemput sepasang LunarGlide+ 3 Shield dalam waktu dekat.

Mari lari.

— Adham Somantrie. (AdhamPlus at NikePlus)

2 Comments

Published on 2011-10-12 07:59:32. 1204 views.
Tagged in: lari run nikeplus

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Polar WearLink+ Transmitter Nike+

Sekitar setahun lalu, Nike bekerja sama dengan Polar memperkenalkan Polar Wearlink+ Transmitter Nike+ untuk para pengguna Nike+ untuk merekam detak jantung saat berlari. Hari ini memang produk ini belum dapat ditemukan di pasar Indonesia. Untungnya ada rekan pelari yang mau dititipkan ketika mengikuti Hood to Coast 2011.

Berikut pengalaman saya menggunakan perangkat pemantau detak jantung (heart rate monitor) Polar WearLink+ bersama Nike+ Sportband.

Untuk penggunaannya pertama kali cukup gampang. Istilahnya, bekerja bagaikan sulap (it just works like a magic). Cukup kenakan WearLink di dada, tak lupa bagian elektrodanya dibasahi dulu dengan air, lalu tekan tombol "toggle" SportBand selama 3 detik. Lalu proses pemasangan (pairing) akan dilakukan secara otomatis. Selesai, tinggal berlari.

Setelah terpasang dengan WearLink, maka di SportBand akan ada opsi tambahan, yakni BPM (beats per minute). Di aplikasi Nike+ Connect Anda bisa memilih untuk menampilkan frekuensi detak jantung atau tidak di SportBand. Di layar SportBand, selain ada gambar (icon) sepatu jika terhubung dengan sensor sepatu, maka kini akan ada gambar hati (love) jika SportBand terhubung dengan pemantau detak jantung.

Lari perdana saya menggunakan perangkat pantau detak jantung ini saat Thursday Night Run bersama teman-teman IndoRunners malam Jumat (15/09) kemarin. Kesan pertama menggunakan WearLink sebagai lelaki tentunya agak merasa risih. Rasanya seperti mengenakan beha. Mungkin memang butuh adaptasi.

Untuk latihan berbasis detak jantung (heartrate base exercise), dengan WearLink ini akan sangat membantu lari kita menjadi lebih optimal. Tentunya kita perlu mempelajari zona-zona detak jantung yang sesuai bagi kita masing-masing.

Setelah data diunggah ke situs Nike+, seperti biasa kita dapat melihat statistik lari kita. Kini, informasi statistik tersebut tentunya dilengkapi dengan data detak jantung.

Sayangnya Polar WearLink+ Transmitter Nike+ ini hanya bekerja dengan Nike+ SportBand, Nike+ SportWatch, dan iPod nano generasi kelima dan keenam (tentunya dengan Nike+ receiver). Kabarnya dapat bekerja dengan iPod nano generasi keenam, namun tidak ada penyataan resmi dari pihak Apple, Nike, maupun Polar. Nah, sayangnya perangkat ini tidak bisa bekerja sama dengan iPhone, iPod Touch, maupun iPad baik untuk aplikasi Nike+ iPod maupun Nike+ GPS.

Oh iya, WearLink+ ini bisa bekerja dengan SportBand tanpa sensor sepatu. Sehingga Anda dapat menggunakannya untuk memantau detak jantung saja. Misalnya Anda ingin menggunakannya untuk olahraga selain lari.

Sebagai pengguna iPhone, sebenarnya saya berharap aplikasi Nike+ GPS yang saya beli (USD 1.99) dapat bekerja sama dengan sensor sepatu dan pemantau detak jantung ini.

Mari Lari.

— AdhamPlus

4 Comments

Published on 2011-09-19 09:35:38. 1802 views.
Tagged in: lari nikeplus run polar

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Sukaria!

Berlari, hobi baru yang saya senangi. Namun tidak salah memang Apple dan Nike membuat sistem Nike+ iPod, karena berlari akan lebih ceria jika ditemani dengan alunan musik. Apalagi untuk durasi yang cukup lama, misalnya di atas 30 menit, berlari tanpa musik terkadang membuat bosan. Yang pada akhirnya kebosanan itu bisa membuat kita malas untuk terus melanjutkan lari. Berlari sambil mendengarkan musik bisa membuat kita untuk tetap bersemangat.

Ada beberapa senarai main (playlist) yang saya buat khusus untuk berlari. Bahkan terkadang spesifik untuk durasi atau jarak tertentu. Umumnya saya mengumpulkan semua lagu yang saya sukai untuk menemani saya berlari di sebuah senarai, lalu memainkannya secara acak (shuffle).

Salah satu lagu yang cocok untuk menemani lari saya adalah Sukaria!.

Yang hebatnya, Anda tidak akan menemukan lagu ini di toko-toko musik. Melainkan dapat diunduh di situs Multiply milik Fay. Sesuai dengan judulnya, lagu ini mencoba untuk membuat para pendengarnya merasa riang gembira dan bersukaria. Tentunya rasa sukaria yang Anda inginkan saat berlari agar dapat semakin jauh dan semakin kencang. Selain raga yang sehat, juga perlu jiwa yang sehat. Jadi, mari berolahraga (apapun olahraganya) dengan sukaria.

Jika lagu ini disediakan secara cuma-cuma untuk diunduh, tidak ada salahnya mendukung dengan berlangganan RBT kan? Untuk pelanggan XL, silakan ketik SMS "SUKA1" lalu kirim ke 1818 untuk berlangganan RBT di ponsel Anda.

Selamat ulang tahun, Maylaffayza! Kapan meluncurkan single terbaru?

4 Comments

Published on 2011-07-11 22:01:30. 2093 views.
Tagged in: lari run nikeplus sukaria

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Urbanathlon Jakarta 2011

Urbanathlon, sebuah acara tahunan yang digelar oleh Mens' Health, kali ini diadakan di Indonesia. Bertajuk Urbanathlon Jakarta 2011, lomba lari plus-plus ini diadakan di seputaran Jalan Jend. Sudirman pada hari Minggu, 24 April 2011. Sebagai pelari perwakilan GLTD dan atlet parkour gagal, tentu saja saya dengan antusiasme tinggi mendaftar menjadi peserta. Teman-teman dari Indo Runners juga tentunya tak akan melewatkan lomba yang menarik ini, karena selain rute sepanjang 8 KM juga ada 6 rintangan yang menantang.

Biaya pendaftaran sebesar Rp.150.000,- bisa dibilang cukup mahal padahal sudah mendapat dukungan sponsor. Untuk tempat pun saya rasa tidak terlalu membebani karena memanfaatkan car-free-day (CFD). Namun jika dibuat murah juga mungkin bisa merusak segmentasi pasar. Peserta mendapatkan goodie-bag (atau lebih tepatnya race-kit) beberapa hari sebelum lomba berisi nomor dada, kaos Urbanathlon Jakarta 2011, serta produk sponsor berupa sabun wajah dan celana dalam. Tapi, karena lomba ini tidak eksklusif untuk pria, maka tidak sedikit juga perempuan yang ikut berlomba. Apakah mereka juga mendapat produk sponsor berupa celana dalam pria?

Ternyata pesertanya cukup banyak. Uniknya, tidak seperti lomba lari biasanya, pada Urbanathlon Jakarta 2011 ini, start tidak dilakukan secara serentak oleh semua peserta, melainkan bertahap sebanyak 50 peserta tiap "kloter". Ini lumayan membantu para pelari untuk lebih tertib saat start, dan juga mungkin bisa menolong untuk peserta yang punya "jam karet".

Menurut pantauan saya, secara umum peserta ini dapat dipisahkan menjadi tiga kategori: Pertama, para pria kekar nan hobi bercermin dari gym dan pusat kebugaran. Ini yang badannya kekar dan bikin saya yang berperut cembung ini minder; Kedua, para tukang parkir atlet parkour. Mereka mungkin berpenampilan biasa saja, tetapi jangan meremehkan kekuatan fisik dan kemampuan akrobatiknya; Ketiga, para pelari umum. Sebagian mungkin sudah terbiasa dengan lari marathon, tetapi belum tentu siap dengan rintangan.

Start dilakukan di Plaza Selatan Gelora Bung Karno (GBK), yang langsung berbelok ke kiri mengarah ke Jembatan Semanggi. Cuaca pagi yang sejuk dan awan mendung yang menahan sinar matahari terasa sangat bersahabat sekali. Sesampainya di Jembatan Semanggi, rintangan (obstacle) pertama sudah siap menghadang, yakni pembatas jalan (road barrier). Ah, tinggal dilompati saja, gampang. Eh, tapi setelah 3 kali lompat, ternyata capek juga ya?

Dan, sesuai perkiraan hujan gerimis pun mulai turun. Alangkah senangnya saya karena para pesepeda berbondong-bondong mengevakuasi diri sehingga jalanan menjadi lebih "lengang". Sehingga para pelari Urbanathlon tidak perlu "berebut lahan" dengan para pesepeda yang semakin hari semakin menguasai CFD. Saya sengaja untuk tidak menggunakan kaos "seragam" Urbanathlon karena berbahan katun yang menyerap keringat (dan air hujan) yang nantinya akan terasa berat. Selain itu warna biru tua terlihat kurang mencolok jika dipakai saat berlomba. Karena itu saya lebih memilih memakai kaos yang berwarna terang untuk meningkatkan keamanan di jalan raya mengingat para peserta harus berbagi jalan dengan penikmat CFD yang lain karena jalanan tidak "steril".

Sesampainya di seberang Chase Plaza, peserta harus menyeberang jalan menggunakan jembatan penyeberangan. Saya memutuskan untuk tidak berlari di jembatan penyeberangan karena saya tidak merasa "aman dan nyaman" berlari di jembatan seperti itu mengingat ada beberapa jembatan di lokasi lain yang bordesnya jebol. Sampailah saya di Chase Plaza, dan rintangan "tidak resmi"-nya adalah menaiki gedung menggunakan tangga sebanyak tujuh lantai. Ya, tujuh lantai, dan tidak dihitung sebagai rintangan! Hahaha.

Dengan kaki yang cukup pegal, sampailah saya di rooftop gedung parkiran Chase Plaza yang sudah disediakan rintangan kedua: monkey bar. Karena saya adalah pelari yang bukan keturunan monyet, maka saya pun gagal setelah 3 kali mencoba. Saya rutin berlari melatih kekuatan kaki, tapi tidak pernah melatih kekuatan tangan saya. Mungkin saya memang perlu melatih bagian tubuh selain kaki. Setelah itu, turun melalui jalur mobil yang landai sampai di lantai dasar lagi dan melanjutkan ke rintangan ketiga: merayap sambil tiarap seperti latihan militer (saya tidak tahu namanya apa, hahaha).

Beres urusan merayap, kembali mengarah ke Jembatan Semanggi. Di sisi lain Jembatan Semanggi, sudah menunggu puluhan ban sebagai rintangan keempat: tire rocky road. Rintangan ini tampak mudah dan memang tidak sulit. Namun karena sedikit kecerobohan, kaki saya terkilir pada langkah pertama. Sehingga saya harus melewati rintangan ini dengan berjalan pelan-pelan. Dan sepanjang 1 KM setelah rintangan tersebut saya hanya berjalan kaki.

Dari Jembatan Semanggi, tidak ada rintangan sampai para peserta sampai di Plaza Selatan GBK kembali. Tentunya para peserta mesti berputar terlebih dahulu di bundaran di dekat Ratu Plaza. Sebelum finish, ada 2 rintangan yang menunggu: papan titian (balance bar) dan panjat dinding (wall of fame). Papan titian mungkin adalah yang paling gampang dilewati jika kondisi tubuh masih fit. Tetapi setelah melintasi jalanan lebih dari 7 KM dan 4 rintangan? Tidak semua orang masih fit. Rintangan terakhir mungkin yang paling terlihat menantang. Tidak sedikit peserta yang dibantu oleh rekan tim ataupun oleh panitia untuk memanjat dinding ini. Namun, saya mendapatkan trik dari panitia, yakni dengan melepas sepatu sehingga dapat memanjat tali yang bersimpul dengan kaki. Walaupun akhirnya setelah saya melewati dinding ini, saya berlari menuju garis finish sambil menenteng sepatu. Hahahaha...

Dan ini membuktikan bahwa Anda tidak perlu berperut six-pack untuk menjadi finisher Urbanathlon Jakarta 2011. Setiap peserta yang berhasil menyelesaikan lomba pun mendapat medali "Finisher".

Jadi, sebenarnya lomba ini tidak seseram kelihatannya. Sebelumnya panitia mengumumkan kalau lomba ini akan melibatkan air, yang pada kenyataannya selain air hujan, air minum, dan air keringat tidak ada rintangan yang melibatkan air. Padahal saya sudah bela-belain gak pake iPod karena panitia menyarankan untuk tidak membawa alat elektronik.

Untuk acara berikutnya, panitia mungkin perlu mempertimbangkan bahan kaos yang tidak menyerap air jika memang ingin melibatkan air dalam rintangannya. Selain itu, masukan lainnya adalah untuk nomor dada peserta. Lebih baik untuk menggunakan peniti, bukan menggunakan stiker yang bisa jadi tidak menempel kalau basah. Untuk rute mungkin bisa lebih disterilkan lagi, karena saya sebagai pelari cukup terganggu ketika "dikerubungi" oleh para pesepeda sehingga membatasi ruang gerak saat berlomba. Hal sederhana lain namun bermanfaat adalah meletakkan penunjuk waktu (clock) di garis finish, sehingga peserta dapat melihat catatan waktunya.

Mudah-mudahan tahun depan Femina Group dan Men's Health Indonesia mau mengadakannya dengan lebih baik lagi. Sampai jumpa di Urbanathlon Jakarta 2012!

Adham Somantrie
— Lifestyle runner, the runner that live for style.

5 Comments

Published on 2011-04-29 08:43:33. 3400 views.
Tagged in: jakarta run nikeplus urbanathlon

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Bagaimana untuk Berlari Plus dengan Nike+

Experience Nike+

Sebelumnya saya pernah membahas tentang Nike+ secara umum. Seiring waktu, sudah semakin banyak orang yang menggunakan Nike+ dan bergabung dengan komunitas Nike+ ini. Juga, semakin banyak orang yang penasaran dan ingin menggunakan layanan Nike+ ini, namun tidak tahu bagaimana caranya. Untuk itu saya akan mencoba menjelaskan bagaimana menggunakan Nike+ sesuai pengalaman saya.

Cara yang pertama dan original adalah dengan menggunakan iPod nano yang dilengkapi dengan Nike+ Sport Kit. Nike+ Sport Kit ini terdiri dari Nike+ sensor (in-shoe stride sensor) yang diletakkan di dalam sepatu dan Nike+ receiver yang ditancapkan di iPod nano. Semua iPod nano baik dari generasi pertama hingga generasi terakhir (generasi keenam, saat tulisan ini diturunkan) bisa digunakan untuk Nike+ dengan Nike+ Sport Kit. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui iTunes di Mac atau PC Anda.

Nike+ Sport Kit ditawarkan USD 29 di Apple Store US. Di pasar Indonesia harganya sekitar IDR 300.000,-

Pengguna iPod nano generasi keenam kini dapat menggunakan fitur Nike+ tanpa harus menggunakan Nike+ Sportband setelah mengaktualkan firmware ke versi 1.2. iPod nano dapat bekerja hanya dengan mengandalkan sensor accelerometer yang terintegrasi. Namun, jika Anda lebih menyukai sensor sepatu (footpod), Anda tetap dapat menancapkan penerima Nike+ ke iPod nano dan mengukur jarak lari Anda dengan Nike+ sensor di dalam sepatu. Juga untuk menyandingkan iPod nano dengan Polar WearLink+ Transmitter Nike+, Anda perlu menggunakan penerima Nike+ ke iPod nano.

Kedua, dengan menggunakan iPod Touch mulai generasi kedua (iPod Touch yang dilengkapi dengan speaker dan bluetooth) atau iPhone sejak generasi 3GS yang dipasangkan dengan Nike+ sensor pada sepatu. Tidak perlu menggunakan Nike+ receiver karena sudah terintegrasi di dalam iPod Touch dan iPhone tersebut. Namun, aplikasi ini perlu diaktifkan melalui Settings - Nike + iPod. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui iTunes di Mac atau PC Anda. Pada iOS versi baru, Anda dapat mengunggah data ini langsung melalui perangkat Anda menggunakan wi-fi atau jaringan data seluler.

Nike+ Sensor ditawarkan USD 19 di Apple Store US. Di pasar Indonesia harganya sekitar IDR 250.000,-

Pilihan ketiga, tidak melibatkan iPod maupun iPhone, yakni dengan menggunakan Nike+ Sportband. Ini pilihan yang ekonomis dan praktis untuk Anda yang tidak memiliki iPod/iPhone. Atau untuk Anda yang tidak suka berlari sambil membawa iPod/iPhone. Paket pembelian Nike+ Sportband ini terdiri dari Nike+ Sportband Link yang berupa gelang atau jam tangan, dan sebuah Nike+ sensor. Metode favorit saya adalah mengkombinasikan Nike+ Sportband dengan iPod Shuffle. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui aplikasi Nike+ Connect (sebelumnya Nike+ Utility) di Mac atau PC Anda.

Nike+ Sportband ini ditawarkan USD 59 di Amerika, di Nike Store Indonesia ditawarkan IDR 650.000,-

Nike+ SportWatch GPS by TomTom merupakan penerus dari Nike+ SportBand. Sesuai namanya, selain dapat disandingkan dengan Nike+ sensor di sepatu juga merekam rute serta jarak berlari Anda dengan GPS dari pabrikan TomTom. Nike+ SportWatch juga dapat disandingkan dengan Polar WearLink+ Transmitter Nike+ untuk memantau detak jantung Anda selama berlari. Ditawarkan seharga USD 199 sudah termasuk Nike+ sensor dalam paket penjualan, sementara WearLink+ dijual terpisah. Saat tulisan ini diturunkan, baik Nike+ SportWatch maupun WearLink+ belum tersedia secara resmi di pasar Indonesia.

Pilihan keempat, untuk Anda yang suka berlatih di pusat kebugaran (fitness centre). Beberapa perangkat kardio di gym sudah mendukung sistem Nike + iPod. Jadi Anda hanya perlu menancapkan iPod nano, iPod Touch, atau iPhone Anda pada mesin tersebut. Dan latihan Anda pun akan direkam. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui iTunes di Mac atau PC Anda. Catatan: khusus pilihan ini, saya belum pernah mencobanya karena saya belum pernah ke gym.

Pilihan terakhir, untuk para pengguna iDevices yang menggunakan iOS 4.0 ke atas dan dilengkapi dengan GPS. Misalnya iPhone 3GS, iPhone 4, dan iPad 3G. Cukup dengan membeli aplikasi Nike+ GPS seharga 1.99 USD. Maka Anda dapat menggunakan layanan Nike+ ini tanpa membeli perangkat tambahan lain (Nike+ sensor). Untuk itu, aplikasi ini akan menggunakan informasi lokasi yang didapat dari GPS untuk mengukur jarak dan rute lari Anda.

Aplikasi ini juga dapat digunakan di dalam ruangan dengan memanfaatkan accelerometer. Namun tampaknya Anda akan membutuhkan armband agar iPhone ikut bergerak bersama Anda karena aplikasi akan bergantung sepenuhnya pada accelerometer. Data hasil rekaman lari pada Nike+ GPS akan diunggah langsung dari perangkat Anda menggunakan wi-fi ataupun jaringan data seluler.

Tapi sepertinya Anda perlu mempertimbangkan dengan matang jika ingin berlari sambil membawa iPad.

Tambahan: Sensor Nike+ sebenarnya membutuhkan sepatu yang kompatibel dengan sistem Nike+, yakni yang memiliki ruang khusus di dalam sepatu untuk menyimpan sensor Nike+ ini. Namun, ini bukanlah hal yang mutlak. Anda dapat menggunakan sepatu apapun selama Anda bisa memasangkan sensor ini. Salah satu triknya saya dokumentasikan di YouTube. Yang perlu diingat adalah agar sensor berada pada posisi yang benar: logo Nike dan Apple pada sensor harus menghadap ke atas (melawan gravitasi).

Pemutakhiran: Bagaimana untuk Berlari Plus dengan Nike+ #2 (24 Oktober 2011). Menambahkan informasi Nike+ yang terintegrasi pada iPod nano generasi 6 dan Nike+ SportWatch GPS by TomTom.

19 Comments

Published on 2011-01-17 09:43:33. 5982 views.
Tagged in: ipod iphone lari run tutorial nikeplus

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nike+ Mendengarkan Detak Jantung Anda

Polar Wearlink+ Transmitter for Nike+

Setelah Nike+ mengukur jarak tempuh dan jumlah kalori serta menghitung waktu lari Anda, kini Nike+ juga mendengarkan detak jantung Anda. Menyusul produk sejenis seperti Adidas miCoach yang telah ada terlebih dahulu di pasaran.

Nike tidak meluncurkan produk sensor detak jantungnya. Kali ini Nike bekerja sama dengan Polar USA. Polar Wearlink+ Transmitter for Nike+ adalah produk sensor detak jantung untuk konsumer olahraga yang dirancang untuk dapat bekerja dengan sistem Nike+. Dipasarkan dengan banderol USD 69.95.

Dengan merekam kondisi jantung Anda, tentunya kini Anda dapat berlatih dengan lebih optimal. Tentunya dengan data statistik yang telah dirangkum oleh Nike+, Anda dapat menganalisa latihan Anda.

Cukup melingkarkan tali pengikat di dada Anda, tentunya dengan sensor di depan dada. Lalu, Anda tinggal menghubungkan perangkat ini dengan iPod Nano atau Nike+ Sportband Link. Dan, selamat menikmati LariPlus!

Mari Lari — AdhamPlus.

3 Comments

Published on 2010-06-11 09:26:20. 2102 views.
Tagged in: nikeplus lari run polar

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nike+

Nike plus iPod

Nike Plus (Nike+) adalah salah satu produk kolaborasi dari Nike. Nike Plus awalnya didesain untuk bekerja sama dengan iPod: Nike+ iPod. Konsep Nike Plus adalah merekam aktivitas olahraga dan memproses data tersebut untuk umpan balik dan rekomendasi kepada pengguna.

Cara kerjanya cukup sederhana, sistem ini terdiri dari beberapa elemen: sepatu, sensor, dan penerima data sensor (iPod). Sensor menganalisa gerakan kaki dan memberikan informasi ini kepada penerima data sensor, yakni iPod (langsung, atau dengan perangkat penerima tambahan). Sementara sensor ini diletakkan di dalam sepatu yang didesain khusus sehingga memiliki ruang khusus untuk meletakkan sensor ini.

Data yang diterima oleh iPod akan diproses menjadi informasi mengenai jarak tempuh, waktu tempuh, dan informasi performa pelari lainnya. Karena menggunakan iPod sebagai pemroses, selain pelari dapat mendengarkan musik saat berlari, pelari juga dapat mengetahui informasi seputar performa mereka.

NikePlus.com Sync

Selain itu, data-data ini dapat diproses lebih lanjut di komputer dan di situs NikePlus.com untuk melihat statistik para pelari. Tentunya dengan statistik ini, NikePlus.com juga dapat memberikan rekomendasi dan bimbingan latihan olah raga untuk pelari tersebut. Bahkan, dengan fitur sosial, para pelari dapat membandingkan statistik dan performa mereka dengan pengguna Nike Plus lainnya.

Awalnya, sistem Nike Plus bekerja dengan keluarga iPod nano dengan tambahan penerima. Namun seiring waktu, Apple pun mengintegrasikan perangkat penerima sinyal data dari sensor ini ke dalam iPod Touch mulai generasi kedua dan iPhone 3GS.

Sensor ini sendiri dijual dalam dua paket: hanya sensor (USD 19), dan sensor beserta penerima (USD 29).

Nike plus iPod at Gym

Selain itu, Apple pun mengembangkan konsep ini dengan bekerja sama dengan produsen perangkat fitness dan gym untuk memproduksi alat yang kompatibel dengan sistem Nike + iPod. Sehingga para pengguna iPod dapat menghubungkan iPod mereka dengan alat fitness menggunakan sambungan USB. Tentunya, data dari alat fitness ini juga dapat diproses oleh NikePlus.com

Nike plus Sportband

Dengan Nike+ Sportband (USD 59, sudah termasuk sensor), pelari yang menggunakan sensor Nike+ dapat mencatat performa mereka tanpa perlu iPod. Nike+ Sportband ini bekerja sebagai pengganti iPod untuk menerima sinyal dan memproses data dari sensor. Tentunya, Nike+ Sportband ini tidak dapat menggantikan iPod sebagai pemutar musik.

Nike LunarTrainer+

Memang sistem ini didesain untuk bekerja dengan sepatu yang "kompatibel", yakni Nike+ shoes, seperti Nike LunarTrainer+. Namun, sebenarnya perbedaan sepatu ini dengan sepatu biasa hanyalah pada ruang tempat peletakan sensor. Pinot misalnya, telah berhasil menggunakan sepatu lain dengan sensor ini, bahkan dengan sendal jepit. Sayang sekali sepatu favorit saya, Nike Air Zoom Moire+, yang diluncurkan pada 2006 bersamaan dengan Nike + iPod tidak tersedia lagi di pasaran.

Namun, selain gerakan yang ditangkap oleh accelerometer pada sensor, ternyata tekanan oleh kaki juga diperhitungkan oleh sensor ini. Sehingga, menggunakan sensor ini dengan meletakkannya bukan di bawah telapak kaki pelari akan mengurangi tingkat akurasinya.

— Adham Somantrie.

43 Comments

Published on 2009-12-29 22:22:14. 11128 views.
Tagged in: nikeplus run lari

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nike+

Archive

2004SeptemberOktoberNovemberDesember

2005JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2006JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2007JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2008JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2009JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2010JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2011JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2012JanuariFebruariMaretAprilMei

2004 - 2012Full Archive

© 2003 - 2012, Adham Somantrie. Bandung and Jakarta, Indonesia.
Built with Bootstrap. Made on Mac.