Are you currently viewing from mobile device? Switch to mobile version!

Adham Somantrie

Digital media communications. MBA student. Techie. Founder of siteo.us. Editor for MakeMac. And also a runner.

hi@adha.ms adhams @adhams @adham adhams Adham Somantrie Adham Somantrie

BlackBerry Messenger Tanpa BlackBerry

Di gelaran BlackBerry Live 2013 (14/05), BlackBerry (dulu RIM) mengumumkan beberapa informasi yang cukup penting. Beberapa diantaranya cukup revolusioner.

Hal yang pertama diumumkan adalah peluncuran BlackBerry OS 10.1, update pertama untuk platform BlackBerry 10. Update ini baru tersedia untuk BlackBerry Z10. Sementara untuk BlackBerry Q10 akan menyusul, pun Q10 masih belum tersedia secara luas saat ini.

Jika beberapa waktu lalu terdengar rumor BlackBerry R10 Curve sebagai versi ekonomis dari Q10, maka tidak sepenuhnya salah. BlackBerry secara resmi meluncurkannya sebagai BlackBerry Q5. Seperti halnya Curve, ponsel ini ditujukan untuk segmen menengah. Dengan desain yang lebih dinamis dan lebih banyak pilihan warna: hitam, putih, merah, dan pink.

Q5 sendiri akan tersedia per Juli 2013 di beberapa pasar regional. Pun sepertinya Q5 disusun untuk pasar negara berkembang yang potensial seperti halnya India ataupun Indonesia.

Setelah memperkaya BBM dengan fitur screen sharing dan voice, BlackBerry akan menambahkan fitu baru: BBM Channels. Dengan BBM Channels, komunitas, pemilik brand, pemilik bisnis, hingga artis untuk memiliki kanalnya sendiri yang dapat diikuti (subscribe) oleh pengguna BBM. BBM Channels akan menjadi platform komunikasi yang potensial mengingat basis pengguna BBM yang cukup tinggi: lebih dari 60 juta pelanggan aktif.

Dan yang paling menarik adalah keputusan BlackBerry untuk mencabut eksklusivitas BlackBerry Messenger (BBM) dengan rencana peluncuran BBM untuk platform iOS dan Android. Bahkan, dengan fitur yang sama lengkapnya.

Setelah menghilangkan sistem langganan BIS (BlackBerry Internet Service), otomatis satu sumber pendapatan hilang. BBM adalah fitur unik yang menjadi salah satu faktor pendorong orang untuk memilih BlackBerry dibandingkan ponsel lain. Seperti halnya Mac OS X untuk komputer Apple. Namun, ketika fitur ini tak lagi unik, maka berkurang satu lagi alasan orang untuk memilih BlackBerry.

BlackBerry menyatakan keyakinannya pada platform BlackBerry 10 tanpa perlu mengandalkan BBM. Memang BlackBerry masih punya BES untuk dijual, tapi apakah keyakinan pada BB10 itu akan terbukti?

Dengan populernya iPhone dan Android, dan tentunya aplikasi chat lain seperti WhatsApp dan Line, pun orang sudah mulai meninggalkan BBM. Nilai BBM menurun. Untuk itu, sepertinya BlackBerry ingin merangkul kembali pengguna BBM yang beralih ke iPhone dan Android.

Bagaimana sisi bisnisnya? WhatsApp punya biaya langganan tahunan (walaupun sangat murah). Line gratis, tapi menjadi platform game dan tentunya tak lupa ada jualan "stiker". Sementara BBM? Gratis, dan tak lagi mendorong penjualan BIS. Dan sekarang tak juga mendorong penjualan ponsel BlackBerry.

Sepertinya BlackBerry akan mengambil model bisnis twitter. BlackBerry akan menyiapkan BBM sebagai platformnya. Pengguna bisa menggunakan sepuasnya dengan gratis. Dengan basis pengguna yang besar, akan menarik minat dari brand, artis, dan pemilik bisnis, melalui BBM Channels. Semua senang!

Apakah Anda akan meninggalkan BlackBerry ketika nanti BBM tersedia di Android dan iOS?

4 Comments

Published on 2013-05-15 22:38:23. 352 views.
Tagged in: blackberry business mobile phone

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Internet: Candu dan Racun

Tak bisa dipungkiri lagi, gaya hidup digital sudah mengakar dalam kehidupan modern. Hampir sepanjang kita membuka mata, internet ada di sisi kita. Lebih dari sekedar ponsel cerdas (smartphone), kini bermunculan gawai (gadget) yang lebih wearable yang mengakibatkan kita semakin tak lepas dari internet. Toh, sebelum makan kita tak lupa untuk memotret makanan kita, seperti halnya berdoa.

Seberapa burukkah penetrasi internet dalam mempengaruhi kehidupan kita?

Dengan derasnya laju informasi dan intensitas kita dalam menerjangnya, tentunya berpengaruh secara psikologis. Seperti yang ditulis oleh detikHealth, ada masalah psikologis baru yang muncul: fear of missing out, FoMO.

Fenomena ini adalah munculnya ketakutan ketika menyadari bahwa kita tertinggal informasi. Misalnya, ketika kita baru saja terhubung ke jejaring sosial dan menemukan teman-teman kita sedang asik membicarakan suatu hal. Nah, kita akan merasa "ketinggalan berita". Hal seperti ini memang bukan hal yang baru, bahkan sebelum era internet. Namun dengan kecepatan informasi yang demikian hebatnya di era internet, tak gampang untuk "mengikuti" segala perkembangan informasi yang sedang ngetren. Tapi kalau sampai merasa sedih (atau tertekan) hanya karena tidak bisa mengikuti (atau tidak mengerti) perbincangan tersebut, ini adalah FoMO.

Orang-orang dengan kadar FoMO tinggi, tentu akan terus berusaha "mengejar ketertinggalan" dengan meningkatkan intensitasnya dalam terhubung dengan internet. Internet sudah menjadi candu. Kecanduan informasi aktual. Kecanduan social media.

Dengan menigkatnya intensitas dalam "berinternet" dapat mempengaruhi sisi produktivitas dan sosial di dunia nyata. Ketika ketergantungan internet sudah memberikan dampak buruk bagi psikologis dan sosial seseorang, maka internet sudah menjadi racun. Keracunan internet.

Kini, tak sedikit orang yang resah kalau tidak memeriksa ponsel cerdasnya dalam setiap beberapa menit. Banyak yang gelisah ketika gadget-nya tertinggal saat keluar rumah. Banyak pula yang mati gaya ketika tidak terhubung dengan internet.

Saat ini bahkan sudah ada perusaah yang serius menawarkan jasa pembuangan "racun internet" (detoxification) untuk orang-orang yang "keracunan internet". Misalnya Camp Grounded dari Digital Detox seperti yang dilansir oleh Mashable. Seperti halnya kemping, akan banyak aktivitas "tradisional" agar orang-orang dapat lebih "segar" dengan meninggalkan rutinitas harian: mulai dari pekerjaan, hingga teknologi dan internet.

Tapi apakah benar hidup kita akan lebih baik dan berkualitas ketika berhasil melepaskan ketergantungan pada internet dan dunia digital? Yang paling penting, apakah memang ketergantungan ini menurunkan produktivitas kita? Bukankah teknologi digital itu diciptakan untuk meningkatkan kualitas hidup, termasuk produktivitas. Dan, membuat kita lebih bahagia?

Tentunya hidup yang lebih baik itu adalah hidup yang seimbang. Dengan adanya dunia digital seperti saat ini, batasan-batasan menjadi kabur. Karena memang dunia digital adalah dunia tanpa batas. Internet kini bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Dan ketika pekerjaan sudah mulai bergantung pada internet. Maka, ketika Anda terhubung dengan internet, Anda akan "terhubung" dengan pekerjaan.

Kurang piknik. Idiom yang tak asing untuk orang-orang yang stress karena hidup yang tak berimbang.

Tapi, di era komputasi awan saat ini, bagaimana rasanya kita bisa hidup di dunia konvensional tanpa teknologi digital?

Mari simak pengalaman Paul Miller dari The Verge yang menjalani satu tahun penuh tanpa teknologi digital. Memasuki Mei 2012, ia memutuskan koneksi internetnya dan mengganti ponsel cerdas dengan ponsel konvensional.

Apa yang ia rasakan dalam setahun tanpa internet itu?

Hidupnya merdeka tanpa internet. Tak lagi merasa dikejar-kejar oleh unread mails, tak pernah merasa tenggelam dalam banjir informasi. Tentunya, tak lagi terganggu oleh notifikasi-notifikasi dari ponsel cerdasnya.

Ia jadi lebih fokus. Lebih produktif.

Kemampuan membaca yang lebih baik. Jika sebelumnya membaca 10 halaman buku saja sangat sulit, maka kini ia dapat membaca buku 100 halaman dengan lebih baik.

Namun, tentunya hidup tanpa internet juga berarti hidup tanpa kemudahan. Jika ia sebelumnya bisa melihat peta dari ponsel plus bantuan GPS. Kini, ia harus berhadapan dengan peta sesungguhnya, yang tentunya perlu keahlian lebih untuk membacanya.

Nah, Paul juga mendapatkan pengalaman "baru" saat memesan tiket pesawat. Jika biasanya dilakukan dengan gampang melalui internet plus bisa membandingkan beberapa harga tiket, kini ia melakukan via telepon dan menerima begitu saja tiket yang dipilihkan petugas sesuai rute dan jadwal yang diinginkan. Ya, kadang terlalu banyak pilihan juga akan membuat kita bingung. Kita akan berpikir lebih keras untuk memilih yang terbaik. Namun jika harga tiket hanya berselisih sedikit, untuk apa buang-buang waktu dan pikiran?

Tanpa internet juga bisa membuang banyak kepraktisan. Jika biasanya bekerja dengan email bisa melalui ponsel, kapan saja dan di mana saja, tidak halnya dengan surat pos. Dengan memiliki kotak pos (P.O. box), ia harus meluangkan waktu dan tenaga untuk mengambil surat-surat. Begitu juga saat membalas satu demi satu surat-surat itu. Untuk hal ini, memang internet banyak memberikan kontribusi dalam peningkatan produktivitas.

Tapi, dengan gaya hidup tradisional, Paul lebih banyak bergerak. Tak heran kalau ia kehilangan beberapa pon berat badan. Lebih sehat? Sepertinya.

Kekuatan internet adalah soal kecepatan dalam penyampaian informasi. Internet membuat kita lebih produktif karena mengurangi "waktu tunggu" dalam menerima informasi. Lebih banyak hal yang bisa dilakukan di era internet. Pun standar kecepatan kita berubah.

Dulu, membaca koran setiap pagi sudah cukup untuk aktualisasi informasi. Di era televisi, berita diaktualkan dua hingga tiga kali sehari. Era digital? Hitungan detik.

Maka wajar jika ada fenomena seperti FoMO. Rasanya tak tenang jika dalam beberapa jam tidak melihat berita. Apalagi jejaring sosial, bisa-bisa tiap beberapa menit kita memeriksanya.

FoMO ini pun merasuki kehidupan sosial. Tanpa internet, Paul tak lagi dikejar-kejar FoMO. Teman-teman dan keluarganya lebih bahagia ketika berbicara dengannya karena Paul memberikan perhatian penuh pada lawan bicaranya. Tak lagi sibuk memeriksa ponsel setiap beberapa menit sekali. Fokus penuh.

Namun, tanpa internet, sosialisasi juga sedikit terhambat. Terutama masalah geografis. Untuk yang di luar kota, alternatif yang tersisa tinggal telepon dan surat pos. Untuk yang di dalam kota pun tak lagi praktis, harus mampir ke rumah ataupun bertemu di kedai kopi.

Saya juga pernah melakukan focus group discussion di kantor bersama para freshmen terkait gaya hidup digital. Yang paling menarik adalah soal kegiatan mereka di akhir pekan: hangout bersama teman-teman di kafe, tapi bukannya heboh bergosip atau bercerita, melainkan malah sibuk dengan gadget masing-masing.

Nah, dari sini bisa dilihat. Pemuda-pemudi ini tidak bisa lepas dari gadget-nya. Wajar jika ternyata pekerjaannya banyak melibatkan teknologi, begitu juga gaya hidupnya. Tapi, ketika berkumpul secara fisik, saling berbicara satu sama lain, bahkan bercanda-tawa, namun hanya melibatkan bibir dan telinga, sementara mata tetap fokus di layar gadget masing-masing. Ada yang salah?

Memang internet seperti halnya teknologi lain, bagai pisau bermata dua. Ada manfaatnya, tapi bisa pula menjadi candu dan racun. Penetrasi internet dalam kehidupan sehari-hari pun harus seimbang. Agar tetap memberikan manfaat dan produktivitas, tapi tidak mengganggu kehidupan sosial dan menjadi kecanduan. Bagaimana dengan Anda?

4 Comments

Published on 2013-05-11 19:04:57. 333 views.
Tagged in: internet opini social-media

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Intel Iris Pro untuk MacBook Kecil?

Intel telah mengumumkan prosesor grafik terbarunya, Intel Iris (5100) dan Intel Iris Pro (5200), yang diposisikan untuk kelas profesional di atas Intel HD Graphics (5000). Selama ini prosesor grafik Intel tidak pernah dilirik oleh pengguna profesional karena kapasitasnya yang memang seadanya: kebutuhan 3D minimal dan pengolahan untuk pemutaran video Full HD saja.

Dulu, pengguna prosesor Intel Core 2 Duo masih bisa dimanjakan dengan adanya platform nForce dari nVidia yang mengintegrasikan prosesor grafik berbasis GeForce yang tentunya bisa diandalkan. Namun karena Intel melakukan tuntutan hukum, sejak Intel Core i series, nVidia tidak bisa memproduksi chipset untuk Intel. Semua prosesor Intel kini harus digunakan di platform Intel yang terintegrasi dengan Intel HD Graphics.

Hal ini pula bisa menjawab kenapa di tahun 2010, ketika MacBook Pro 15" dan 17" sudah bisa mengadopsi Intel Core i5/i7, namun MacBook Pro 13" masih menggunakan Core 2 Duo. Intel HD Graphic tidak bisa dibuang, terintegrasi, namun memakan tempat. Sehingga Dibutuhkan ruang tambahan untuk prosesor grafik tambahan dari ATI/AMD ataupun nVidia. Untuk 15" dan 17", ruang masih tersedia banyak, tapi tidak untuk 13". Apalagi untuk MacBook Air 11". Itulah mengapa MBP 15 dan 17 saat ini dilengkapi dengan dua prosesor grafis. Dan, bahkan MacBook Pro 13 Retina saja hanya dilengkapi dengan Intel HD Graphics 4000 saja!

Tapi seperti yang kita tahu, kinerja Intel HD Graphics sangat mengecewakan. Saya saja saat ini masih bertahan dengan MacBook Pro 13" 2.66 GHz demi nVidia GT320M untuk memainkan Diablo 3. MacBook Pro 13 (termasuk Retina) keluaran yang lebih baru dipersenjatai Intel HD Graphics hanya mampu dalam konfigurasi "low"!

Sebagai perbandingan, MacBook Pro 13 keluaran 2010 (Core 2 Duo + GT320M) kinerjanya (real world) masih lebih baik dibandingkan dengan keluaran 2011 (Core i5 + Intel HD 3000).

Saya pribadi masih meragukan kemampuan Intel Iris Pro untuk disandingkan dengan nVidia GT dan AMD Radeon HD. Namun, ternyata Iris Pro hanya akan diintegrasikan dengan prosesor quad-core. Tidak ada harapan untuk MacBook Pro 13" (termasuk Retina), apalagi MacBook Air.

Namun untuk MacBook Pro 13" (termasuk Retina) sepertinya akan kebagian Intel Iris reguler. Kecuali Apple mengemas MacBook Pro 13 dengan prosesor quad-core. Sementara MacBook Air (baik 11" maupun 13") sepertinya akan kebagian Intel HD Graphics 5000 yang hemat daya.

Untuk MacBook Air, memang tidak terlalu masalah untuk urusan grafik. Apalagi kompromi untuk hemat daya tentunya lebih penting. Namun, kinerja grafik yang mumpuni termasuk hal "wajib" untuk kelas MacBook Pro, terlebih yang Retina. Dulu saja pakai nVidia GT320M, kok. PowerBook G4 12" saya dulu saja pakai nVidia GeForce FX5200 Go.

Semoga saja Intel Iris bisa mengurangi kekecewaan. Saya sih masih yakin kinerjanya tidak akan "memuaskan". Untuk yang punya harapan dengan Iris Pro, silakan tunggu peluncuran MacBook Pro baru di WWDC nanti.

Bagaimana untuk laptop non-Mac? Tentunya Ultrabooks sebagai andalan Intel akan mengusung teknologi terbaru ini. Untuk ukuran kecil (11") dan convertible/tablet sepertinya masih akan menggunakan Intel HD Graphics 5000. Iris akan tersedia untuk Ultrabooks berukuran 13" ke atas. Sementara Iris Pro akan tersedia untuk Ultrabooks kelas atas.

Yah, mari kita tunggu saja hingga generasi keempat Intel Core muncul di pasaran!

0 Comments

Published on 2013-05-04 11:36:39. 290 views.
Tagged in: apple intel mac

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nokia Asha 210: WhatsApp Phone

Nokia baru saja memperkenalkan Asha 210. Sebenarnya hanya featurephone biasa. Yang tidak biasa adalah adanya tombol khusus untuk WhatsApp. Ini adalah kali pertama ponsel dengan dukungan untuk WhatsApp. Padahal sudah cukup lama Nokia dan WhatsApp bersinergi.

Ponsel dengan dukungan resmi aplikasi atau layanan pihak ketiga bukan hal yang baru. Ingat HTC Status yang jadi Facebook Phone? HTC First dengan dukungan Facebook Home sejak keluar kardus? Seperti HTC Status, Nokia Asha 205 juga dilengkapi tombol khusus untuk mengakses Facebook.

Tombol khusus ini tentunya didesain untuk jalan pintas fungsi yang sering digunakan. Dengan keyboard QWERTY, dapat dipastikan Asha 210 ditujukan untuk penggemar chatting. Tak salah memang meletakkan tombol WhatsApp. BlackBerry bahkan pada akhirnya membuatkan tombol khusus BBM pada seri Curve. Begitu juga dengan Samsung Galaxy Chat yang memberikan tombol khusus untuk ChatON.

Tapi jangan salah. Tak semua Asha 210 dilengkapi tombol WhatsApp. Ternyata hanya untuk pasar Asia dan Afrika saja. Sementara untuk pasar Amerika dan Eropa, tombol itu difungsikan untuk Facebook, sama seperti Asha 205.

Melengkapi itu semua, Nokia juga memberikan bonus khusus, yakni lisensi layanan WhatsApp seumur hidup untuk pengguna Asha 210. Dengan banderol 72 USD dan desain serta warna ala Lumia, tentunya menarik. Hanya sayangnya secara teknis, Asha 302 milik saya masih lebih baik: koneksi 3G misalnya.

Baik Nokia dan WhatsApp sepertinya memang perlu saling mendukung untuk saat ini. Nokia perlu mempertahankan posisi Asha di kelas "smart" featurephone. Mengingat pemain lain sedang sibuk bertempur di kawasan geniusphone. Tapi kelas featurephone juga bukan blue ocean, banyak pendatang baru yang berani berkompetisi dari sisi harga.

Begitu juga WhatsApp yang perlu bertahan dengan kehadiran alternatif lain. BBM mulai menyeruak dengan BBM Money. ChatOn memang tidak populer (setidaknya di sini), tapi Samsung sudah punya basis pengguna yang luas. Belum lagi Line dan KakaoTalk yang menghadirkan pengalaman chatting yang kaya plus platform untuk social gaming. Sementara iMessage sudah berhasil menurunkan trafik SMS pemilik iPhone. WhatsApp perlu berhati-hati, agar predikat "SMS-killer" tidak lepas.

Untuk kalangan pengguna seperti saya, di tengah maraknya smartphone dengan layar sentuh penuh, masih dibutuhkan adanya ponsel dengan keyboard fisik untuk kebutuhan messaging. Untuk segmen ini, Asha 210 saya pikir sudah pas, baik komposisi fitur, desain, maupun harganya. Toh, kalau penggunaan utamanya untuk messaging, tidak perlu terlalu canggih.

Adham Somantrie.

0 Comments

Published on 2013-04-29 08:31:51. 285 views.
Tagged in: nokia phone

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nokia Asha: Asa Baru Sang Pembawa Pesan

Beberapa waktu yang lalu, saya memulai mencari ponsel pengganti Nokia E71 yang sudah mulai usang. Hingga akhirnya pilihan jatuh ke Nokia Asha 302 yang saya tebus di OkeShop senilai Rp.1.049.000. Bentuknya pun masih "mirip" dengan E71, sehingga diharapkan proses adaptasi menjadi lebih mudah.

Nokia S40 Asha Platform

Pastinya lini Nokia Asha menggunakan platform Nokia Series 40. Berbeda dengan Nokia E-series yang berbasis Symbian, S40 tidak mendukung multitasking yang sebenarnya. Walaupun begitu, memutar musik sambil chatting dengan WhatsApp tetap bisa dilakukan. Hanya saja, untuk berpindah aplikasi menjadi lebih ribet.

Selain itu, ukuran tulisan (font) relatif besar, kurang nyaman untuk saya pribadi.

Social by Nokia

Untuk urusan social media, ternyata ponsel ini tak kalah. Nokia sudah mempersiapkan aplikasi khusus untuk twitter dan facebook. Bahkan seakan tak mau kalah dengan Facebook Home di Android, cuplikan linimasa twitter ataupun facebook bisa ditampilkan di homescreen Asha!

Karena memang aplikasi ini berbasis Java, tentu saja banyak keterbatasan. Sehingga untuk penggunaan yang sangat intensif tidak bisa diakomodasi. Kali ini saya merindukan aplikasi Gravity di E71.

Nokia Music Unlimited

Memang ini bukan ponsel yang ditekankan untuk musik. Tetapi saya mendapatkan layanan Nokia Music Unlimited gratis selama 6 bulan untuk mengunduh musik-musik digital di "toko musik" Nokia. Memang koleksi musiknya tak sekaya iTunes Music Store, tapi lumayan. Sayangnya lagi, musik yang ditawarkan memiliki kompresi yang lumayan ketat. Tak heran kalau per lagu rata-rata hanya berukuran 1MB. Dengan jaringan HSPA, hanya butuh hitungan detik untuk mengunduh lagu. Begitu juga dengan headset yang diberikan, berkualitas seadanya.

USB Charging

Seperti halnya ponsel Nokia, Asha 302 ini masih dilengkapi charger standar Nokia. Karena segmennya termasuk low end, hanya dilengkapi charger dengan kapasitas arus 450 mAH, untuk mengisi baterai berkapasitas 1430mAH. Secara teori, akan butuh waktu lebih dari 3 jam. Saya sendiri akhirnya menggunakan charger E71 (800mAH).

Yang menarik adalah Asha 302 ini ini juga dapat diisi baterainya ketika terhubung dengan komputer menggunakan kabel USB. Namun, ketika saya menghubungkan dengan USB charger iPhone, baterai tidak terisi. Hanya terisi ketika dihubungkan dengan komputer (ada koneksi data).

Mac & iSync

Sinkronisasi dengan Mac adalah wajib bagi saya. Karena ternyata Nokia tak lagi mendukung Mac, maka saya terpaksa membuat sendiri plugin iSync untuk Asha 302. Urusan sinkronisasi tak lagi menjadi masalah!

Tombol Volume

Namun kekurangan yang paling fatal bagi saya adalah tak adanya tombol fisik untuk mengatur volume suara. Memang untuk mendengarkan musik ataupun radio bisa diatur melalui tombol navigasi. Tapi dengan tombol khusus, ini akan jauh lebih baik.

Kesimpulan?

Bisa dibilang kalau Nokia Asha 302 ini adalah featurephone dengan cita rasa smartphone. Memang banyak kekurangannya jika dibandingkan dengan E71, tapi sebagai sidekick messenger untuk iPhone 4S, sangat memadai. Apalagi memiliki fitur speed dial, sehingga menelpon nomor yang biasa dihubungi menjadi praktis.

Nah, apakah Anda juga masih bertahan menggunakan ponsel dengan full keyboard?

5 Comments

Published on 2013-04-27 10:19:45. 328 views.
Tagged in: nokia phone

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Muji Pedometer

Kali ini saya dapat pinjaman sebuah pedometer dari Muji. Seperti layaknya pedometer, tentunya berfungsi sebagai alat pengukur langkah kaki. Desain produk ini cukup minimalis, berbentuk kotak berwarna putih dengan layar LCD monokrom yang mendominasi bagian depannya, dilengkapi dengan 3 tombol untuk navigasi menu dan konfigurasi perangkat. Pedometer ini ditenagai oleh baterai kancing yang disertakan dalam paket penjualan.

Untuk konfigurasi pertama kali memang agak merepotkan. Pertama saya harus mengatur jam. Lalu, saya harus memasukkan data terkait tubuh saya: berat badan, panjang langkah kaki, dan jenis kelamin. Terasa berlebihan? Memang, tapi ternyata ini terkait fitur tambahan dari sekedar menghitung langkah.

Dengan data yang cukup lengkap, pedometer ini juga bisa menghitung akumulasi jarak yang kita tempuh seharian. Lebih menarik lagi, juga bisa menghitungkan jumlah kalori yang terbakar serta massa lemak tubuh yang terbakar. Nah!

Lebih canggih lagi, akselerometer yang digunakan pun lebih cerdas dari pedometer umumnya. Ketika tidak terdeteksi adanya gerakan, maka layar akan padam untuk menghemat energi baterai. Pun, gerakan-gerakan "tak sengaja" akan diabaikan.

Karena dilengkapi dengan jam, tentunya bisa menghitung jumlah waktu aktif kita dalam sehari. Juga dilengkapi dengan memori untuk menyimpan statistik aktivitas dalam 7 hari ke belakang. Sehingga membandingkan tingkat keaktifan kita hari ini dengan kemarin-kemarin bukanlah hal yang sulit lagi. Untuk penghitungan dengan rentang waktu yang spesifik, juga disediakan split mode untuk menghitung langkah dalam durasi tertentu.

Penggunaanya cukup gampang. Saya sendiri biasanya menyimpan pedometer ini di saku celana. Selain itu, juga bisa diletakkan di dalam tas ataupun dikalungkan di leher. Dan sesuai fungsinya, untung menghitung langkah kaki, maka akurasinya tidak bisa diandalkan untuk kegiatan olahraga.

Fitur tambahan lain adalah alarm panik (panic alarm). Jika sewaktu-waktu panik dan butuh perhatian orang sekitar, untuk yang sulit berteriak bisa menarik saklar yang ada disisi pedometer untuk membunyikan alarm.

Pedometer ini ditawarkan dengan harga Rp.307.000,- di gerai Muji, yaitu di Plaza Indonesia, Paris Van Java (Bandung), Grand Indonesia, Mall of Indonesia, Mall Taman Anggrek, Pondok Indah Mall 1.

Nah, hari ini Anda sudah berjalan kaki berapa langkah?

3 Comments

Published on 2013-04-25 13:32:27. 396 views.
Tagged in: gadget

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Ads

Archive

2004SeptemberOktoberNovemberDesember

2005JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2006JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2007JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2008JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2009JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2010JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2011JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2012JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2013JanuariFebruariMaretAprilMei

2004 - 2013Full Archive

© 2003 - 2013, Adham Somantrie. Bandung and Jakarta, Indonesia.
Built with Bootstrap. Made on Mac.