Are you currently viewing from mobile device? Switch to mobile version!

Adham Somantrie

Digital media communications. MBA student. Techie. Founder of siteo.us. Editor for MakeMac. And also a runner.

hi@adha.ms adhams @adhams @adham adhams Adham Somantrie Adham Somantrie

Lampu Yamaha Mio J Sudah Putus

Belum ada setahun Yamaha meluncurkan bebek matik dengan teknologi injeksi bahan bakar, Mio J. Tak lama setelah peluncurannya, pada awal Maret 2012 saya membeli Yamaha Mio J CW edisi standar (bukan Mio J Teen). Dan sekarang, setelah sekitar 7 bulan setelah pembelian, lampu utama sudah putus (lampu dekat).

Padahal odometer masih menunjukkan angka 3.100-an kilometer. Penggunaan saya memang tidak banyak dan tidak jauh-jauh. Umumnya pengguna normal menjalani sekitar 10.000 kilometer dalam satu tahun. Apalagi untuk penggilas jalanan ibukota, bisa dua kali lipatnya.

Jadi, apakah normal dalam 7 bulan, tiga ribuan kilometer, lampu utama sudah putus?

Ada beberapa penyebab putusnya bola lampu yang umum: usia pakai (waktu kerja), kualitas listrik yang buruk, dan lingkungan kerja yang tidak sesuai (panas berlebihan).

Mengingat usia kendaraan yang masih belia, saya rasa alasan kualitas listrik seharusnya bisa diabaikan.

Alasan usia pakai pun saya rasa tidak relevan. 3.100-an kilometer dalam 7 bulan itu relatif penggunaan yang sedikit dibanding rata-rata motor harian di Indonesia. Fitur auto headlight on pasti akan jadi kambing hitam. Walaupun sebenarnya tidak layak disebut sebagai fitur: itu kan mengurangi fitur saklar (switch) lampu yang ada di panel setang?

Menghidupkan lampu pada siang hari tentunya akan berbeda dengan malam hari, yakni suhu lingkungan kerja bola lampu. Di siang hari, selain panas yang dihasilkan oleh bohlam, juga panas dari sinar matahari menambah panas kawat tungsten di dalam bola lampu. Kecenderungan untuk cepat putus karena suhu lingkungan kerja yang terlalu tinggi. Tapi perlu dicatat bahwa saya cenderung menggunakan Mio J pada malam hari. Jarang menggunakannya pada siang hari.

Selain itu kalau lampu tidak bisa dimatikan, kecuali saat mesin dimatikan, maka waktu kerjanya tentu akan lebih lama. Ini juga memperpendek umur lampu secara keseluruhan, karena lebih cepat mencapai masa "pensiun".

Saya sedang mempertimbangkan untuk menggunakan saklar setang kiri milik RX-King ataupun V-ixion, yang selain memiliki saklar hidup-mati lampu utama, juga memiliki tambahan saklar "beam". Dan tak lupa, saklar lampu dekat-jauh yang menggunakan tipe "ungkit", sehingga lebih mudah untuk dipindahkan dengan cepat daripada saklar tipe "geser" yang digunakan oleh seri Mio. Saklar RX-King ini sendiri sudah saya coba implementasikan di Yamaha Jupiter Z 2003 dengan hasil yang memuaskan.

Dan iya, saya sudah membawa Mio J ke bengkel saat melakukan servis rutin. Penggantian bohlam dikenakan biaya Rp. 18.000, tidak termasuk klaim garansi. Saya rasa tidak ada salahnya kalau Yamaha menggunakan bohlam yang memiliki masa pakai lebih lama walapun harganya memang lebih mahal. Minimal bisa awet setahun lebih. Supaya frekuensi pengguna untuk mampir ke bengkel lebih sedikit. Membawa motor ke bengkel itu kan makan waktu yang cukup banyak.

Yah, memang tidak seharusnya lampu ini putus hanya dalam 7 bulan, 3100-an kilometer. Adakah pengguna Mio J yang mengalami hal serupa?

11 Comments

Published on 2012-10-05 09:22:37. 1822 views.
Tagged in: mio otomotif yamaha

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Konsumsi Bahan Bakar Yamaha Mio J #2 (1000 KM)

Beberapa waktu yang lalu, setelah melakukan pengisian BBM pertama dan kedua untuk Yamaha Mio J, saya melakukan perhitungan konsumsi bahan bakar Mio J terhadap jarak tempuh. Selama 1000 km pertama jarak tempuh Mio J, saya selalu rutin menghitung konsumsi BBM ini. Saya mencatat ada 5 (lima) kali pengisian BBM sebelum mencapai 1000 km. Pengisian BBM keenam dilakukan setelah melewati 1000km.

Kali ini saya akan menghitung rata-rata jarak tempuh terhadap konsumsi BBM Yamaha Mio J dalam jarak panjang (long run). Diharapkan perhitungan rataan akan lebih akurat.

Pengisian pertama dilakukan di km 147,2 dengan volum 3.9 liter. Karena di awal penggunaan Mio J lebih banyak dipanaskan di tempat tanpa berjalan, jadi perhitungan dianggap tidak valid dan tidak disertakan dalam perhitungan kali ini.

Pengisian kedua dilakukan di km 319,6 dengan volum 3.92 liter. Sesuai dengan artikel saya sebelumnya, maka jarak tempuh rata-rata per konsumsi BBM adalah 43,98 km/liter.

Pengisian ketiga dilakukan di km 491,8 dengan volum 3.76 liter. Maka jarak tempuh rata-rata per konsumsi BBM adalah 45,80 km/liter.

Pengisian keempat dilakukan di km 673,5 dengan volum 4.03 liter. Maka jarak tempuh rata-rata per konsumsi BBM adalah 45,09 km/liter.

Pengisian kelima dilakukan di km 852 dengan volum 3.605 liter. Maka jarak tempuh rata-rata per konsumsi BBM adalah 49,51 km/liter.

Pengisian keenam dilakukan di km 1037,9 dengan volum 3.99 liter. Maka jarak tempuh rata-rata per konsumsi BBM adalah 46,59 km/liter.

Maka jika ingin dihitung rerata untuk jarak panjang adalah: total jarak yang ditempuh = 1037,9 km - 147,2 km = 890,7 km; sementara total konsumsi BBM = 3,92 + 3,76 + 4,03 + 3,605 + 3,99 liter = 19,305 liter. Sehingga didapat jarak tempuh rata-rata per konsumsi BBM = 890,7 km / 19,305 liter = 46.138 km/liter.

Catatan:

Keenam pengisian BBM menggunakan Pertamax di SPBU 34.12902 (Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 31) dari dispenser yang sama (paling depan), kecuali pengisian kelima dari dispenser paling belakang (ada pengalihan terkait tingkat okupansi SPBU). Mio J digunakan berkendara di dalam kota Jakarta baik sendirian maupun berboncengan.

Sebelum pengisian keempat, di km 600 dilakukan servis rutin di bengkel resmi. Pada sepeda motor berkarburator biasanya bensin akan diambil sebagian guna membersihkan karburator. Namun, karena Mio J menggunakan injektor yang seharusnya tidak disentuh saat servis ringan rutin, maka diasumsikan bahwa bensin dari tangki tidak diambil oleh mekanik guna membersihkan mesin. Jadi, servis ini diabaikan dalam perhitungan.

5 Comments

Published on 2012-06-05 08:57:04. 3392 views.
Tagged in: mio otomotif yamaha

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Konsumsi Bahan Bakar Yamaha Mio J

Yamaha Mio J merupakan penerus dari Yamaha Mio. Selain dimensinya yang lebih panjang dan bagasinya yang lebih besar serta penampilannya yang telah diremajakan, kekuatan Mio J yang paling signifikan adalah penggunaan injektor bahan bakar. Penggunaan sistem injeksi yang menggantikan karburator dalam mencampur bahan bakar diklaim mampu menekan konsumsi bahan bakar karena campuran dan pembakaran yang lebih sempurna. Seberapa iritkah Yamaha Mio J ini? Berikut pengalaman saya sebagai pemilik dan pengguna Yamaha Mio J terkait konsumsi bahan bakar skuter matik ini.

Saat pertama kali Mio J diantarkan oleh pihak Yamaha, tangki bahan bakar sudah diisi penuh. Saya tidak punya informasi akurat mengenai bahan bakar yang diisikan, tapi saya berasumsi Pertamina Premium. Mio J digunakan berkendara di dalam kota Jakarta baik sendirian maupun berboncengan. Tentunya sudah termasuk fitur "macet" khas ibukota. Jadi jangan berharap bisa mendapatkan angka yang maksimal khas jalanan luar kota.

Pertama kali saya mengisi bahan bakar adalah pada saat odometer menunjukkan angka 147.2 km. Pengisian dilakukan di SPBU Pertamina Jalan Gatot Subroto, di dekat Balai Kartini. Pengisian Pertamax terukur 3.90 liter.

Jadi kalau mau dihitung, maka 1 liter premium bisa menempuh jarak 37.74 km. Tetapi perhitungan ini tidak valid, karena motor sering dipanaskan tanpa dijalankan. Jadi, mari kita hitung di pengisian berikutnya.

Pengisian bahan bakar kedua, saya lakukan saat odomoter menunjukkan angka 319.6 km. Tetap konsisten dengan Pertamax dari SPBU yang sama pula (bahkan dari dispenser yang sama) untuk konsistensi akurasi pengukuran. Angka yang ditunjukkan oleh dispenser adalah 3.92 liter.

Mari lakukan matematikanya. Pertamax telah dikonsumsi oleh skutik ini sebanyak 3.92 liter untuk menempuh jarak 172.4 km (319.6 - 147.2 km). Maka rata-rata 1 liter dihabiskan untuk menempuh 43.98 km.

Saya melakukan kedua isi ulang BBM ini saat jarum indikator BBM sudah di bawah garis merah. Kalau memang benar klaim Yamaha mengenai kapasitas penuh tangki sebesar 4.8 liter, maka saat jarum sudah menyentuh garis merah artinya di dalam tangki masih ada sekitar 1 liter bahan bakar (reserved). Maka, saat indikator sudah "merah", Anda masih punya 43.98 km untuk mencari SPBU di Jakarta (jika Anda menggunakan Pertamax).

Catatan penting terkait akurasi:

Pengukuran volum bahan bakar mengandalkan alat ukur dari mesin dispenser Pertamina yang tersertifikasi "Pasti Pas", tentunya setiap alat ukur punya toleransi ukur. Begitu juga dengan penunjukkan angka digital, ketelitian hanya sampai 0.01 liter.

Pengukuran jarak hanya mengandalkan odometer dengan tingkat akurasi akan dipengaruhi juga oleh ukuran dan kondisi tekanan angin ban depan. Untuk jenis ban yang digunakan masih standar bawaan pabrik, jadi tingkat akurasinya belum berubah. Ketelitian angka odometer hanya sampai 0.1 km (100 meter).

Jenis bahan bakar terkait oktan juga mempengaruhi jarak tempuh per liternya. Saya menggunakan Pertamax untuk menyesuaikan kompresi mesin yang diklaim Yamaha, 9.3:1.

Sekali lagi saya tekankan: kondisi lalu lintas (macet atau lancar), banyaknya pemberhentian, kondisi topologi jalanan (datar, menanjak, atau menurun), rute (lurus atau banyak berbelok) serta gaya berkendara (riding style, tenang atau agresif) tentunya punya pengaruh yang cukup besar untuk konsumsi bahan bakar.

Adham Somantrie.

9 Comments

Published on 2012-04-26 07:40:03. 3364 views.
Tagged in: mio otomotif yamaha

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Ads

Archive

2004SeptemberOktoberNovemberDesember

2005JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2006JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2007JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2008JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2009JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2010JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2011JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2012JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2013JanuariFebruariMaretAprilMei

2004 - 2013Full Archive

© 2003 - 2013, Adham Somantrie. Bandung and Jakarta, Indonesia.
Built with Bootstrap. Made on Mac.