Adham Somantrie

Digital media communications. MBA student. Techie. Founder of siteo.us. Editor for MakeMac. And also a runner.

hi@adha.ms adhams @adhams @adham Adham Somantrie

Mari Belajar: RAID

Kata Pengantar
Pada mainboard generasi sekarang, banyak sekali yang sudah dilengkapi dengan fitur RAID, terutama pada mainboard hi-end. Namun, mungkin banyak diantara pemirsa blog ini yang belum tahu atau mengerti mengenai teknologi tersebut.

Pendahuluan
RAID, Redundant Array of Inexpensive(Independent) Disks, adalah suatu sistem yang terbentuk dari beberapa harddisk/drive. Secara sederhana, kita biasa membuat beberapa partisi dalam satu harddisk. Nah, dengan RAID, kita dapat membuat satu partisi dari beberapa harddisk.

Batasan Masalah
Dikarenakan masih dalam proses belajar, maka tulisan ini hanya membahas konfigurasi standar RAID, tidak membahas konfgurasi lanjut RAID (nested dan non-standard/proprietary).

RAID 0
Juga dikenal dengan modus stripping. Membutuhkan minimal 2 harddisk. Sistemnya adalah menggabungkan kapasitas dari beberapa harddisk. Sehingga secara logikal hanya "terlihat" sebuah harddisk dengan kapasitas yang besar (jumlah kapasitas keseluruhan harddisk).

Pada awalnya, RAID 0, digunakan untuk membentuk sebuah partisi yang sangat besar dari beberapa harddisk dengan biaya yang efisien.

Misalnya:
Kita membutuhkan suatu partisi dengan ukuran 500GB. Harga sebuah harddisk berukuran 100GB adalah Rp.500.000,- sedangkan harga harddisk berukuran 500GB adalah Rp.5.000.000,-. Nah, kita dapat membetuk suatu partisi berukuran 500GB dari 5 unit harddisk berukuran 100GB dengan menggunakan RAID 0. Tentunya skenario ini lebih murah karena memakan biaya lebih murah: 5 x Rp.500.000,- = Rp.2.500.000,-. Lebih murah daripada harus membeli harddisk yang berukuran 500GB. Itulah kenapa pada awalnya disebut redundant array of inexpensive disk.

Contoh lain:
Pada saat ini ukuran harddisk terbesar yang tersedia di pasaran adalah 500GB, sedangkan kita membutuhkan suatu partisi dengan ukuran 2TB. Nah, kita dapat membeli 4 unit harddisk berkapasitas 500GB dan mengkonfigurasinya dengan RAID 0, sehingga kita dapat memiliki suatu partisi berkururan 2TB tanpa harus menunggu harddisk dengan kapasitas sebesar itu tersedia di pasar.

Data yang ditulis pada harddisk-harddisk tersebut terbagi-bagi menjadi fragmen-fragmen. Dimana fragmen-fragmen tersebut disebar di seluruh harddisk. Sehingga, jika salah satu harddisk mengalami kerusakan fisik, maka data tidak dapat dibaca sama sekali.

Namun ada keuntungan dengan adanya fragmen-fragmen ini: kecepatan. Data bisa diakses lebih cepat dengan RAID 0, karena saat komputer membaca sebuah fragmen di satu harddisk, komputer juga dapat membaca fragmen lain di harddisk lainnya.

RAID 0

RAID 1
Biasa disebut dengan modus mirroring. Membutuhkan minimal 2 harddisk. Sistemnya adalah menyalin isi sebuah harddisk ke harddisk lain dengan tujuan: jika salah satu harddisk rusak secara fisik, maka data tetap dapat diakses dari harddisk lainnya.

Contoh:
Sebuah server memiliki 2 unit harddisk yang berkapasitas masing-masing 80GB dan dikonfigurasi RAID 1. Setelah beberapa tahun, salah satu harddisknya mengalami kerusakan fisik. Namun data pada harddisk lainnya masih dapat dibaca, sehingga data masih dapat diselamatkan selama bukan semua harddisk yang mengalami kerusakan fisik secara bersamaan.

RAID 1

RAID 2
RAID 2, juga menggunakan sistem stripping. Namun ditambahkan tiga harddisk lagi untuk pariti hamming, sehingga data menjadi lebih reliable. Karena itu, jumlah harddisk yang dibutuhkan adalah minimal 5 (n+3, n > 1). Ketiga harddisk terakhir digunakan untuk menyimpan hamming code dari hasil perhitungan tiap bit-bit yang ada di harddisk lainnya.

Contoh:
Kita memiliki 5 harddisk (sebut saja harddisk A,B,C, D, dan E) dengan ukuran yang sama, masing-masing 40GB. Jika kita mengkonfigurasi keempat harddisk tersebut dengan RAID 2, maka kapasitas yang didapat adalah: 2 x 40GB = 80GB (dari harddisk A dan B). Sedangkan harddisk C, D, dan E tidak digunakan untuk penyimpanan data, melainkan hanya untuk menyimpan informasi pariti hamming dari dua harddisk lainnya: A, dan B. Ketika terjadi kerusakan fisik pada salah satu harddisk utama (A atau B), maka data tetap dapat dibaca dengan memperhitungkan pariti kode hamming yang ada di harddisk C, D, dan E.

RAID 2

RAID 3
RAID 3, juga menggunakan sistem stripping. Juga menggunakan harddisk tambahan untuk reliability, namun hanya ditambahkan sebuah harddisk lagi untuk parity.. Karena itu, jumlah harddisk yang dibutuhkan adalah minimal 3 (n+1 ; n > 1). Harddisk terakhir digunakan untuk menyimpan parity dari hasil perhitungan tiap bit-bit yang ada di harddisk lainnya.

Contoh kasus:
Kita memiliki 4 harddisk (sebut saja harddisk A,B,C, dan D) dengan ukuran yang sama, masing-masing 40GB. Jika kita mengkonfigurasi keempat harddisk tersebut dengan RAID 3, maka kapasitas yang didapat adalah: 3 x 40GB = 120GB. Sedangkan harddisk D tidak digunakan untuk penyimpanan data, melainkan hanya untuk menyimpan informasi parity dari ketiga harddisk lainnya: A, B, dan C. Ketika terjadi kerusakan fisik pada salah satu harddisk utama (A, B, atau C), maka data tetap dapat dibaca dengan memperhitungkan parity yang ada di harddisk D. Namun, jika harddisk D yang mengalami kerusakan, maka data tetap dapat dibaca dari ketiga harddisk lainnya.

RAID 3

RAID 4
Sama dengan sistem RAID 3, namun menggunakan parity dari tiap block harddisk, bukan bit. Kebutuhan harddisk minimalnya juga sama, 3 (n+1 ; n >1).

RAID 4

RAID 5
RAID 5 pada dasarnya sama dengan RAID 4, namun dengan pariti yang terdistribusi. Yakni, tidak menggunakan harddisk khusus untuk menyimpan paritinya, namun paritinya tersebut disebar ke seluruh harddisk. Kebutuhan harddisk minimalnya juga sama, 3 (n+1 ; n >1).

Hal ini dilakukan untuk mempercepat akses dan menghindari bottleneck yang terjadi karena akses harddisk tidak terfokus kepada kumpulan harddisk yang berisi data saja.

RAID 5

RAID 6
Secara umum adalah peningkatan dari RAID 5, yakni dengan penambahan parity menjadi 2 (p+q). Sehingga jumlah harddisk minimalnya adalah 4 (n+2 ; n > 1). Dengan adanya penambahan pariti sekunder ini, maka kerusakan dua buah harddisk pada saat yang bersamaan masih dapat ditoleransi. Misalnya jika sebuah harddisk mengalami kerusakan, saat proses pertukaran harddisk tersebut terjadi kerusakan lagi di salah satu harddisk yang lain, maka hal ini masih dapat ditoleransi dan tidak mengakibatkan kerusakan data di harddisk bersistem RAID 6.

RAID 6

Kesimpulan dan Saran
Banyak manfaat yang didapat dengan konfigurasi RAID, yakni kecepatan, reliabilitas data, dan toleransi kesalahan. Namun belum lengkap rasanya jika membahas RAID tanpa membahas hot-swappable harddisk, juga beberapa konfigurasi lanjut seperti RAID 0+1 atau RAID 1+0. Mungkin akan dibahas di lain waktu.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat bermanfaat bagi pemirsa sekalian.

Daftar Pustaka
Karna, Nyoman Bogi Aditya. "Computer Organization: Chapter 6" . Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Telkom, 2005.
Virgono, Agus. "Sistem Operasi". Bandung, Sekolah Tinggi Teknologi Telkom, 2006.
Wikipedia. "RAID". Wikipedia, the free encyclopedia. 2007. Wikimedia Foundation, Inc. 29 May. 2007.

104 Comments

Published on 2007-06-02 22:14:09. 30239 views.
Tagged in: harddisk raid

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Mengunakan WD My Passport Studio di Windows

Sebelumnya saya pernah membahas mengenai produk WD My Passport Studio, harddisk eksternal yang didesain untuk Mac. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman menggunakan produk ini di platform berbasis Windows.

Produk ini memang ditujukan untuk digunakan pada Mac, sehingga ketika pertama kali dikeluarkan dari kemasannya harddisk ini sudah memiliki partisi dengan format HFS+. Untuk digunakan di PC berbasis Windows, tentunya format HFS+ ini tidak dapat dibaca tanpa adanya perangkat lunak tambahan seperti MacDrive. Untuk itu, saya harus mengubah format partisinya menjadi FAT32 atau NTFS.

Untuk melakukan itu, dapat digunakan aplikasi Disk Utility yang sudah tersedia dalam Mac OS X. Namun, perlu diketahui bahwa proses ini akan menghilangkan data yang sudah ada di dalam harddisk. Sehingga Anda perlu melakukan back-up data sebelumnya.

Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah skema partisi yang digunakan. Sistem Mac menggunakan Apple Partition Map (untuk PowerPC) dan GUID (untuk Intel), sementara sistem PC pada umumnya masih menggunakan sistem Master Boot Record (MBR). Sehingga sebelum melakukan format ulang partisi, perlu dilakukan pengubahan skema partisi harddisk.

Dalam aplikasi Disk Utility, pilih harddisk WD My Passport Studio (bukan partisinya), di panel sebelah kanan pilih tab "Partition". Di pilihan volume scheme, pilih jumlah partisi yang ingin dibuat. Lalu klik tombol "Options...", dan pilih "Master Boot Record".

Lalu, pada partisi baru, di bagian "Volume Information" pilih "Format" dengan pilihan "MS-DOS (FAT)" atau "ExFAT" ataupun "Windows NT Filesystem" sesuai dengan kebutuhan Anda.

Satu hal lagi yang perlu diketahui pada produk harddisk eksternal keluaran WD yang dilengkapi dengan WD SmartWare adalah fitur enkripsi secara perangkat keras. Dengan adanya fitur ini, produk harddisk WD ini tidak menggunakan driver standar Windows. Untuk pengguna Windows yang tidak memiliki hak akses "administrator" tidak dapat melakukan instalasi driver ini, sehingga tidak dapat mengakses harddisk ini. Ini menjadi masalah untuk saya ketika menggunakan komputer kantor berbasis Windows XP yang hak aksesnya dibatasi: tidak berhak menginstal driver.

Adham Somantrie.

0 Comments

Published on 2011-06-18 09:21:33. 1130 views.
Tagged in: studio passport wdc wd harddisk external windows

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

WD My Passport Studio

Akhirnya saya memutuskan untuk meremajakan harddisk eksternal WD My Passport Essentials yang sudah bertugas selama genap dua tahun menemani saya baik untuk urusan pekerjaan, kuliah, maupun hiburan. Pilihannya tetap WD, namun kali ini saya memilih varian My Passport Studio yang dilengkapi dengan 3 jenis koneksi: USB 2.0, Firewire 400, dan Firewire 800. Di Jakarta, kapasitas terbesar yang bisa saya temukan adalah 500GB. Walaupun WD secara resmi telah mengeluarkan varian 640GB, namun tampaknya belum masuk ke pasaran Indonesia.

Perbedaan My Passport Studio dengan edisi lain My Passport (Essentials, Elite) maupun varian Elements adalah pada konektivitasnya yang mendukung Firewire 800 (pada edisi terdahulu, Firewire 400). Dua tahun lalu, selain karena faktor harga yang masih cukup mahal, laptop ThinkPad inventaris kantor juga tidak memiliki port Firewire, sehingga saya memilih edisi Essentials yang hanya dilengkapi dengan koneksi USB 2.0. Namun sekarang ketika kembali menggunakan Mac, maka saya pun memilih varian yang dilengkapi dengan Firewire agar lebih optimal, dan kini harganya pun lebih terjangkau. Di samping fakta lain bahwa sampai saat ini Apple belum melengkapi Mac dengan port USB 3.0, sehingga tidak akan optimal jika saya memilih varian yang berteknologi USB 3.0.

Umumnya konektivitas Firewire tersedia pada komputer lansiran Apple, Mac. Sangat sedikit komputer selain Mac yang dilengkapi dengan port Firewire secara standar. Sehingga WD pun menyasar para pengguna Mac sebagai pengguna My Passport Studio. Begitu dikeluarkan dari kemasannya, harddisk ini dapat langsung digunakan di Mac, karena telah berformat HFS+ (Mac Journaled). Namun bukan berarti tidak dapat digunakan di komputer berbasis Windows, cukup format ulang menjadi NTFS.

Perangkat lunak WD SmartWare pun tersedia untuk Mac OS X. Sehingga fitur enkripsi dapat digunakan jika dibutuhkan. Selain kompatibel dengan fitur Time Machine, Anda juga dapat menggunakan perangkat lunak ini untuk keperluan backup dan restore — misalnya kalau Anda tidak suka dengan Time Machine. My Passport Studio ini adalah satu-satunya harddisk eksternal portabel dari WD yang sudah dilengkapi dengan e-label (berbasis e-ink). Selain dapat menunjukkan grafik penggunaan ruang harddisk serta kapasitas ruang kosong, Anda juga dapat memberi label pada layar e-label ini. Tentunya dilakukan melalui WD SmartWare. Uniknya, karena menggunakan teknologi e-ink, layar ini tetap dapat "aktif" walaupun koneksi harddisk ke komputer sudah diputus.

Soal bentuk dan desain, saya sendiri lebih suka dengan My Passport yang saya beli dua tahun lalu. Lebih terkesan minimalis. Walaupun agak aneh, My Passport Studio edisi Firewire 400 (edisi pertama) ditawarkan berwarna silver dengan kombinasi hitam. Sementara ketika MacBook Pro dan iMac baru berwarna silver aluminum dengan kombinasi hitam, My Passport Studio edisi Firewire 800 malah ditawarkan dengan warna silver kombinasi putih.

Adham Somantrie.

6 Comments

Published on 2011-05-23 15:27:19. 2010 views.
Tagged in: mac external harddisk firewire studio passport wdc wd

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nike+

Archive

2004SeptemberOktoberNovemberDesember

2005JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2006JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2007JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2008JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2009JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2010JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2011JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2012JanuariFebruariMaretAprilMei

2004 - 2012Full Archive

© 2003 - 2012, Adham Somantrie. Bandung and Jakarta, Indonesia.
Built with Bootstrap. Made on Mac.