<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="adhamcore/1.0" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Adham Somantrie</title>
	<link>http://adha.ms/</link>
	<description>The Playground</description>
	<pubDate>Thu, 23 May 2013 03:05:14 +0700</pubDate>
	<generator>http://www.adhamsomantrie.com/</generator>
	<item>
		<title>Ikut Lomba Lari di Endomondo</title>
		<link>http://adha.ms/p/515/ikut-lomba-lari-di-endomondo/</link>
		<guid>http://adha.ms/p/515/ikut-lomba-lari-di-endomondo/</guid>
		<comments>http://adha.ms/p/515/ikut-lomba-lari-di-endomondo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 May 2013 11:22:53 +0700</pubDate>
		<dc:creator>Adham Somantrie</dc:creator>
		<description><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/515/ikut-lomba-lari-di-endomondo'>Ikut Lomba Lari di Endomondo</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/515/ikut-lomba-lari-di-endomondo'>http://adha.ms/p/515/ikut-lomba-lari-di-endomondo</a>. </p><p><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-CumyX7e5ORc/UZmcZr6oE3I/AAAAAAAAGeg/LDz-fk6u0UM/s800/endomondo.jpg" alt="" /></p>
<p>Endomondo adalah sebuah aplikasi dan layanan pengukur olahraga. Dengan fitur GPS pada ponsel cerdas, Endomondo akan mengukur jarak dan waktu tempuh Anda saat berolahraga.</p>
<p>Aplikasi Endomondo ditawarkan gratis, dengan opsi layanan premium berlangganan untuk fitur-fitur tambahan seperti <em>heart rate zone training</em>. Juga ada versi Pro yang berbayar untuk fitur-fitur tambahan seperti <em>interval training</em>.</p>
<p>Yang menarik dari aplikasi seperti ini adalah fitur <em>virtual challenge</em>, di mana pengguna bisa berlomba melawan pengguna yang lain. Dalam hal ini, lomba lari virtual. Dengan semakin populernya olahraga lari dan tumbuhnya pengguna ponsel cerdas, penggunaan <em>virtual challenge</em> ini semakin ramai. Pun, dengan adanya "kompetisi" seperti ini juga bisa mendorong motivasi untuk berlari.</p>
<p>Aplikasi Endomondo tersedia untuk hampir setiap platform ponsel cerdas. Mulai dari <strong>Symbian</strong>, <strong>BlackBerry</strong>, hingga <strong>Android</strong> dan <strong>iPhone (iOS)</strong>. Bahkan juga tersedia untuk <strong>Windows Phone</strong>. Karena Endomondo mengandalkan GPS untuk pengukuran jaraknya, tentunya ponsel cerdas tersebut harus memiliki fitur GPS.</p>
<p>Saya sendiri sudah mencoba di Nokia E71, iPhone 3GS, dan iPhone 4S.</p>
<p>Tapi bagaimana untuk yang tidak bisa menggunakan Endomondo di ponselnya, atau yang lebih suka menggunakan perangkat lain ketimbang membawa ponsel?</p>
<p><strong>Integrasi Nike+</strong></p>
<p>Nah, untuk beberapa orang (termasuk saya) yang lebih suka menggunakan Nike+, jangan khawatir. Anda masih bisa ikut lomba lari di Endomondo <em>virtual challenge</em>. Karena data dari Nike+ bisa diintegrasikan ke Endomondo.</p>
<p>Buka situs Endomondo dan login dengan akun Anda. Dari menu akun di kanan atas, pilih "Settings". Di halaman "Settings", pilih "Connect". Nanti akan muncul banyak pilihan koneksi ke layanan lain, termasuk layanan <em>social media</em> dan <em>fitness</em>. Cari dan klim tombol "Connect to Nike+". Di jendela baru, login dengan akun Nike+ untuk menghubungkannya ke Endomondo.</p>
<p>Selesai! Setiap Anda berlari dan mengunggah ke Nike+, maka dalam selang beberapa waktu akan terunggah juga ke Endomondo secara otomatis. Bahkan, pelari Nike+ tak perlu lagi buka situs Endomondo untuk mengunggah data lari.</p>
<p>Jadi, tak hanya data lari tercatat rapi di Nike+, tapi juga tetap bisa berpartisipasi dalam <em>virtual challenge</em> bersama rekan-rekan yang lain di Endomondo.</p>
<p><strong>Integrasi Garmin</strong></p>
<p>Begitu pula yang lebih senang menggunakan perangkat Garmin, juga bisa tetap berpartisipasi dalam lomba lari di Endomondo.</p>
<p>Anda akan membutuhkan aplikasi "Garmin Communication Plugin". Untuk pengguna Garmin seri tertentu yang menggunakan koneksi nirkabel (<em>wireless</em>) ANT+, juga akan membutuhkan aplikasi "Garmin ANT Agent". Pastikan aplikasi ini sudah terinstal di komputer.</p>
<p>Buka situs Endomondo dan login dengan akun Anda. Pilih menu "New Workout". Klik menu "Import from Garmin" untuk mengirim data lari dari Garmin ke Endomondo.</p>
<p>Tapi tak seperti pengguna Nike+, pengguna Garmin harus terus melakukan ini setiap ingin mengunggah data lari.&nbsp;</p>
<p><strong>Integrasi TCX/GPX</strong></p>
<p>Selain perangkat Nike+ dan Garmin, data dari perangkat lain atau aplikasi lain juga bisa diintegrasikan ke Endomondo selama datanya bisa diambil dalam bentuk berkas .TCX, .GPX, atau .FIT. Tinggal pilih "Import from file" dari menu "New Workout", dan unggah berkasnya.</p>
<p><strong>Masukan Manual</strong></p>
<p>Selain pengukuran dengan ponsel cerdas maupun <em>sportwatch</em>, Anda juga bisa memasukkan data lari secara manual.</p>
<p>Dari menu "New workout", Anda bisa pilih "New workout with no route" dan memasukkan data durasi serta jarak jika tahu waktu dan jaraknya. Tak lupa isi pula tanggal dan jam saat mulai berlari dan jenis olahraga yang dilakukan.</p>
<p>Jika Anda tidak tahu jaraknya tapi tahu rutenya, bisa pilih "Draw route for new workout", lalu menggambar rute lari Anda di peta untuk diukur. Setelah itu klik "Next". Masukkan jenis olahraga, tanggal dan jam, serta durasi olahraga.</p>
<p>Yuk, mari berlomba di Endomondo!</p>
]]>
      </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/515/ikut-lomba-lari-di-endomondo'>Ikut Lomba Lari di Endomondo</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/515/ikut-lomba-lari-di-endomondo'>http://adha.ms/p/515/ikut-lomba-lari-di-endomondo</a>. </p><p><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-CumyX7e5ORc/UZmcZr6oE3I/AAAAAAAAGeg/LDz-fk6u0UM/s800/endomondo.jpg" alt="" /></p>
<p>Endomondo adalah sebuah aplikasi dan layanan pengukur olahraga. Dengan fitur GPS pada ponsel cerdas, Endomondo akan mengukur jarak dan waktu tempuh Anda saat berolahraga.</p>
<p>Aplikasi Endomondo ditawarkan gratis, dengan opsi layanan premium berlangganan untuk fitur-fitur tambahan seperti <em>heart rate zone training</em>. Juga ada versi Pro yang berbayar untuk fitur-fitur tambahan seperti <em>interval training</em>.</p>
<p>Yang menarik dari aplikasi seperti ini adalah fitur <em>virtual challenge</em>, di mana pengguna bisa berlomba melawan pengguna yang lain. Dalam hal ini, lomba lari virtual. Dengan semakin populernya olahraga lari dan tumbuhnya pengguna ponsel cerdas, penggunaan <em>virtual challenge</em> ini semakin ramai. Pun, dengan adanya "kompetisi" seperti ini juga bisa mendorong motivasi untuk berlari.</p>
<p>Aplikasi Endomondo tersedia untuk hampir setiap platform ponsel cerdas. Mulai dari <strong>Symbian</strong>, <strong>BlackBerry</strong>, hingga <strong>Android</strong> dan <strong>iPhone (iOS)</strong>. Bahkan juga tersedia untuk <strong>Windows Phone</strong>. Karena Endomondo mengandalkan GPS untuk pengukuran jaraknya, tentunya ponsel cerdas tersebut harus memiliki fitur GPS.</p>
<p>Saya sendiri sudah mencoba di Nokia E71, iPhone 3GS, dan iPhone 4S.</p>
<p>Tapi bagaimana untuk yang tidak bisa menggunakan Endomondo di ponselnya, atau yang lebih suka menggunakan perangkat lain ketimbang membawa ponsel?</p>
<p><strong>Integrasi Nike+</strong></p>
<p>Nah, untuk beberapa orang (termasuk saya) yang lebih suka menggunakan Nike+, jangan khawatir. Anda masih bisa ikut lomba lari di Endomondo <em>virtual challenge</em>. Karena data dari Nike+ bisa diintegrasikan ke Endomondo.</p>
<p>Buka situs Endomondo dan login dengan akun Anda. Dari menu akun di kanan atas, pilih "Settings". Di halaman "Settings", pilih "Connect". Nanti akan muncul banyak pilihan koneksi ke layanan lain, termasuk layanan <em>social media</em> dan <em>fitness</em>. Cari dan klim tombol "Connect to Nike+". Di jendela baru, login dengan akun Nike+ untuk menghubungkannya ke Endomondo.</p>
<p>Selesai! Setiap Anda berlari dan mengunggah ke Nike+, maka dalam selang beberapa waktu akan terunggah juga ke Endomondo secara otomatis. Bahkan, pelari Nike+ tak perlu lagi buka situs Endomondo untuk mengunggah data lari.</p>
<p>Jadi, tak hanya data lari tercatat rapi di Nike+, tapi juga tetap bisa berpartisipasi dalam <em>virtual challenge</em> bersama rekan-rekan yang lain di Endomondo.</p>
<p><strong>Integrasi Garmin</strong></p>
<p>Begitu pula yang lebih senang menggunakan perangkat Garmin, juga bisa tetap berpartisipasi dalam lomba lari di Endomondo.</p>
<p>Anda akan membutuhkan aplikasi "Garmin Communication Plugin". Untuk pengguna Garmin seri tertentu yang menggunakan koneksi nirkabel (<em>wireless</em>) ANT+, juga akan membutuhkan aplikasi "Garmin ANT Agent". Pastikan aplikasi ini sudah terinstal di komputer.</p>
<p>Buka situs Endomondo dan login dengan akun Anda. Pilih menu "New Workout". Klik menu "Import from Garmin" untuk mengirim data lari dari Garmin ke Endomondo.</p>
<p>Tapi tak seperti pengguna Nike+, pengguna Garmin harus terus melakukan ini setiap ingin mengunggah data lari.&nbsp;</p>
<p><strong>Integrasi TCX/GPX</strong></p>
<p>Selain perangkat Nike+ dan Garmin, data dari perangkat lain atau aplikasi lain juga bisa diintegrasikan ke Endomondo selama datanya bisa diambil dalam bentuk berkas .TCX, .GPX, atau .FIT. Tinggal pilih "Import from file" dari menu "New Workout", dan unggah berkasnya.</p>
<p><strong>Masukan Manual</strong></p>
<p>Selain pengukuran dengan ponsel cerdas maupun <em>sportwatch</em>, Anda juga bisa memasukkan data lari secara manual.</p>
<p>Dari menu "New workout", Anda bisa pilih "New workout with no route" dan memasukkan data durasi serta jarak jika tahu waktu dan jaraknya. Tak lupa isi pula tanggal dan jam saat mulai berlari dan jenis olahraga yang dilakukan.</p>
<p>Jika Anda tidak tahu jaraknya tapi tahu rutenya, bisa pilih "Draw route for new workout", lalu menggambar rute lari Anda di peta untuk diukur. Setelah itu klik "Next". Masukkan jenis olahraga, tanggal dan jam, serta durasi olahraga.</p>
<p>Yuk, mari berlomba di Endomondo!</p> 
]]>
		</content:encoded>
		<wfw:commentRss>http://adha.ms/rss/comment/515</wfw:commentRss>
	</item>
	<item>
		<title>BlackBerry Messenger Tanpa BlackBerry</title>
		<link>http://adha.ms/p/514/blackberry-messenger-tanpa-blackberry/</link>
		<guid>http://adha.ms/p/514/blackberry-messenger-tanpa-blackberry/</guid>
		<comments>http://adha.ms/p/514/blackberry-messenger-tanpa-blackberry/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 22:38:23 +0700</pubDate>
		<dc:creator>Adham Somantrie</dc:creator>
		<description><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/514/blackberry-messenger-tanpa-blackberry'>BlackBerry Messenger Tanpa BlackBerry</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/514/blackberry-messenger-tanpa-blackberry'>http://adha.ms/p/514/blackberry-messenger-tanpa-blackberry</a>. </p><p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-Qw2vMGJCYsg/UZOiU2ocosI/AAAAAAAAGak/lIMp5hs7nc4/s640/BB-Q5.jpg" alt="" /></p>
<p>Di gelaran <strong>BlackBerry Live 2013</strong> (14/05), BlackBerry (dulu RIM) mengumumkan beberapa informasi yang cukup penting. Beberapa diantaranya cukup revolusioner.</p>
<p>Hal yang pertama diumumkan adalah peluncuran <strong>BlackBerry OS 10.1</strong>, update pertama untuk platform <a href="http://adha.ms/p/500/paket-data-blackberry-10/">BlackBerry 10</a>. Update ini baru tersedia untuk BlackBerry Z10. Sementara untuk BlackBerry Q10 akan menyusul, pun Q10 masih belum tersedia secara luas saat ini.</p>
<p>Jika beberapa waktu lalu terdengar rumor BlackBerry R10 Curve sebagai versi ekonomis dari Q10, maka tidak sepenuhnya salah. BlackBerry secara resmi meluncurkannya sebagai <strong>BlackBerry Q5</strong>. Seperti halnya Curve, ponsel ini ditujukan untuk segmen menengah. Dengan desain yang lebih dinamis dan lebih banyak pilihan warna: hitam, putih, merah, dan <em>pink</em>.</p>
<p>Q5 sendiri akan tersedia per Juli 2013 di beberapa pasar regional. Pun sepertinya Q5 disusun untuk pasar negara berkembang yang potensial seperti halnya India ataupun Indonesia.</p>
<p>Setelah memperkaya BBM dengan fitur <em>screen sharing</em> dan <em>voice</em>, BlackBerry akan menambahkan fitu baru: <strong>BBM Channels</strong>. Dengan BBM Channels, komunitas, pemilik <em>brand</em>, pemilik bisnis, hingga artis untuk memiliki kanalnya sendiri yang dapat diikuti (<em>subscribe</em>) oleh pengguna BBM. BBM Channels akan menjadi platform komunikasi yang potensial mengingat basis pengguna BBM yang cukup tinggi: lebih dari 60 juta pelanggan aktif.</p>
<p>Dan yang paling menarik adalah keputusan BlackBerry untuk mencabut eksklusivitas <strong>BlackBerry Messenger</strong> (BBM) dengan rencana peluncuran BBM untuk platform iOS dan Android. Bahkan, dengan fitur yang sama lengkapnya.</p>
<p>Setelah menghilangkan sistem langganan BIS (BlackBerry Internet Service), otomatis satu sumber pendapatan hilang. BBM adalah fitur unik yang menjadi salah satu faktor pendorong orang untuk memilih BlackBerry dibandingkan ponsel lain. Seperti halnya Mac OS X untuk komputer Apple. Namun, ketika fitur ini tak lagi unik, maka berkurang satu lagi alasan orang untuk memilih BlackBerry.</p>
<p>BlackBerry menyatakan keyakinannya pada platform BlackBerry 10 tanpa perlu mengandalkan BBM. Memang BlackBerry masih punya BES untuk dijual, tapi apakah keyakinan pada BB10 itu akan terbukti?</p>
<p>Dengan populernya iPhone dan Android, dan tentunya aplikasi chat lain seperti WhatsApp dan Line, pun orang sudah mulai meninggalkan BBM. Nilai BBM menurun. Untuk itu, sepertinya BlackBerry ingin merangkul kembali pengguna BBM yang beralih ke iPhone dan Android.</p>
<p>Bagaimana sisi bisnisnya? WhatsApp punya biaya langganan tahunan (walaupun sangat murah). Line gratis, tapi menjadi platform game dan tentunya tak lupa ada jualan "stiker". Sementara BBM? Gratis, dan tak lagi mendorong penjualan BIS. Dan sekarang tak juga mendorong penjualan ponsel BlackBerry.</p>
<p>Sepertinya BlackBerry akan mengambil model bisnis twitter. BlackBerry akan menyiapkan BBM sebagai platformnya. Pengguna bisa menggunakan sepuasnya dengan gratis. Dengan basis pengguna yang besar, akan menarik minat dari <em>brand</em>, artis, dan pemilik bisnis, melalui BBM Channels. Semua senang!</p>
<p>Apakah Anda akan meninggalkan BlackBerry ketika nanti BBM tersedia di Android dan iOS?</p>
]]>
      </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/514/blackberry-messenger-tanpa-blackberry'>BlackBerry Messenger Tanpa BlackBerry</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/514/blackberry-messenger-tanpa-blackberry'>http://adha.ms/p/514/blackberry-messenger-tanpa-blackberry</a>. </p><p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-Qw2vMGJCYsg/UZOiU2ocosI/AAAAAAAAGak/lIMp5hs7nc4/s640/BB-Q5.jpg" alt="" /></p>
<p>Di gelaran <strong>BlackBerry Live 2013</strong> (14/05), BlackBerry (dulu RIM) mengumumkan beberapa informasi yang cukup penting. Beberapa diantaranya cukup revolusioner.</p>
<p>Hal yang pertama diumumkan adalah peluncuran <strong>BlackBerry OS 10.1</strong>, update pertama untuk platform <a href="http://adha.ms/p/500/paket-data-blackberry-10/">BlackBerry 10</a>. Update ini baru tersedia untuk BlackBerry Z10. Sementara untuk BlackBerry Q10 akan menyusul, pun Q10 masih belum tersedia secara luas saat ini.</p>
<p>Jika beberapa waktu lalu terdengar rumor BlackBerry R10 Curve sebagai versi ekonomis dari Q10, maka tidak sepenuhnya salah. BlackBerry secara resmi meluncurkannya sebagai <strong>BlackBerry Q5</strong>. Seperti halnya Curve, ponsel ini ditujukan untuk segmen menengah. Dengan desain yang lebih dinamis dan lebih banyak pilihan warna: hitam, putih, merah, dan <em>pink</em>.</p>
<p>Q5 sendiri akan tersedia per Juli 2013 di beberapa pasar regional. Pun sepertinya Q5 disusun untuk pasar negara berkembang yang potensial seperti halnya India ataupun Indonesia.</p>
<p>Setelah memperkaya BBM dengan fitur <em>screen sharing</em> dan <em>voice</em>, BlackBerry akan menambahkan fitu baru: <strong>BBM Channels</strong>. Dengan BBM Channels, komunitas, pemilik <em>brand</em>, pemilik bisnis, hingga artis untuk memiliki kanalnya sendiri yang dapat diikuti (<em>subscribe</em>) oleh pengguna BBM. BBM Channels akan menjadi platform komunikasi yang potensial mengingat basis pengguna BBM yang cukup tinggi: lebih dari 60 juta pelanggan aktif.</p>
<p>Dan yang paling menarik adalah keputusan BlackBerry untuk mencabut eksklusivitas <strong>BlackBerry Messenger</strong> (BBM) dengan rencana peluncuran BBM untuk platform iOS dan Android. Bahkan, dengan fitur yang sama lengkapnya.</p>
<p>Setelah menghilangkan sistem langganan BIS (BlackBerry Internet Service), otomatis satu sumber pendapatan hilang. BBM adalah fitur unik yang menjadi salah satu faktor pendorong orang untuk memilih BlackBerry dibandingkan ponsel lain. Seperti halnya Mac OS X untuk komputer Apple. Namun, ketika fitur ini tak lagi unik, maka berkurang satu lagi alasan orang untuk memilih BlackBerry.</p>
<p>BlackBerry menyatakan keyakinannya pada platform BlackBerry 10 tanpa perlu mengandalkan BBM. Memang BlackBerry masih punya BES untuk dijual, tapi apakah keyakinan pada BB10 itu akan terbukti?</p>
<p>Dengan populernya iPhone dan Android, dan tentunya aplikasi chat lain seperti WhatsApp dan Line, pun orang sudah mulai meninggalkan BBM. Nilai BBM menurun. Untuk itu, sepertinya BlackBerry ingin merangkul kembali pengguna BBM yang beralih ke iPhone dan Android.</p>
<p>Bagaimana sisi bisnisnya? WhatsApp punya biaya langganan tahunan (walaupun sangat murah). Line gratis, tapi menjadi platform game dan tentunya tak lupa ada jualan "stiker". Sementara BBM? Gratis, dan tak lagi mendorong penjualan BIS. Dan sekarang tak juga mendorong penjualan ponsel BlackBerry.</p>
<p>Sepertinya BlackBerry akan mengambil model bisnis twitter. BlackBerry akan menyiapkan BBM sebagai platformnya. Pengguna bisa menggunakan sepuasnya dengan gratis. Dengan basis pengguna yang besar, akan menarik minat dari <em>brand</em>, artis, dan pemilik bisnis, melalui BBM Channels. Semua senang!</p>
<p>Apakah Anda akan meninggalkan BlackBerry ketika nanti BBM tersedia di Android dan iOS?</p> 
]]>
		</content:encoded>
		<wfw:commentRss>http://adha.ms/rss/comment/514</wfw:commentRss>
	</item>
	<item>
		<title>Internet: Candu dan Racun</title>
		<link>http://adha.ms/p/513/internet-candu-dan-racun/</link>
		<guid>http://adha.ms/p/513/internet-candu-dan-racun/</guid>
		<comments>http://adha.ms/p/513/internet-candu-dan-racun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 19:04:57 +0700</pubDate>
		<dc:creator>Adham Somantrie</dc:creator>
		<description><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/513/internet-candu-dan-racun'>Internet: Candu dan Racun</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/513/internet-candu-dan-racun'>http://adha.ms/p/513/internet-candu-dan-racun</a>. </p><p><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-zb1U4-PfKm0/UY4zZ4iqmaI/AAAAAAAAGZU/3EoioFeKOMo/s640/Social-Media.jpg" alt="" width="640" height="454" /></p>
<p>Tak bisa dipungkiri lagi, gaya hidup digital sudah mengakar dalam kehidupan modern. Hampir sepanjang kita membuka mata, internet ada di sisi kita. Lebih dari sekedar ponsel cerdas (<em>smartphone</em>), kini bermunculan gawai (<em>gadget</em>) yang lebih <em>wearable</em> yang mengakibatkan kita semakin tak lepas dari internet. Toh, sebelum makan kita tak lupa untuk memotret makanan kita, seperti halnya berdoa.</p>
<p>Seberapa burukkah penetrasi internet dalam mempengaruhi kehidupan kita?</p>
<p>Dengan derasnya laju informasi dan intensitas kita dalam menerjangnya, tentunya berpengaruh secara psikologis. Seperti yang ditulis oleh <a href="http://health.detik.com/read/2013/05/04/120041/2237940/763/fobia-ketinggalan-berita-fenomena-baru-para-pecandu-internet">detikHealth</a>, ada masalah psikologis baru yang muncul: <em>fear of missing out, FoMO</em>.</p>
<p>Fenomena ini adalah munculnya ketakutan ketika menyadari bahwa kita tertinggal informasi. Misalnya, ketika kita baru saja terhubung ke jejaring sosial dan menemukan teman-teman kita sedang asik membicarakan suatu hal. Nah, kita akan merasa "ketinggalan berita". Hal seperti ini memang bukan hal yang baru, bahkan sebelum era internet. Namun dengan kecepatan informasi yang demikian hebatnya di era internet, tak gampang untuk "mengikuti" segala perkembangan informasi yang sedang <em>ngetren</em>. Tapi kalau sampai merasa sedih (atau tertekan) hanya karena tidak bisa mengikuti (atau tidak mengerti) perbincangan tersebut, ini adalah FoMO.</p>
<p>Orang-orang dengan kadar FoMO tinggi, tentu akan terus berusaha "mengejar ketertinggalan" dengan meningkatkan intensitasnya dalam terhubung dengan internet. Internet sudah menjadi candu. <strong>Kecanduan informasi aktual</strong>. Kecanduan <em>social media</em>.</p>
<p>Dengan menigkatnya intensitas dalam "berinternet" dapat mempengaruhi sisi produktivitas dan sosial di dunia nyata. Ketika ketergantungan internet sudah memberikan dampak buruk bagi psikologis dan sosial seseorang, maka internet sudah menjadi racun. <strong>Keracunan internet</strong>.</p>
<p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-wb38Z90VSNs/UY4ycDxsSFI/AAAAAAAAGZA/c2b7R9OSzxU/s800/chasing-social-media.jpg" alt="" /></p>
<p>Kini, tak sedikit orang yang resah kalau tidak memeriksa ponsel cerdasnya dalam setiap beberapa menit. Banyak yang gelisah ketika <em>gadget</em>-nya tertinggal saat keluar rumah. Banyak pula yang <em>mati gaya</em> ketika tidak terhubung dengan internet.</p>
<p>Saat ini bahkan sudah ada perusaah yang serius menawarkan jasa pembuangan "racun internet" (<em>detoxification</em>) untuk orang-orang yang "keracunan internet". Misalnya <strong>Camp Grounded</strong> dari <strong>Digital Detox</strong> seperti yang dilansir oleh <a href="http://mashable.com/2013/04/30/digital-detox-camp-grounded/">Mashable</a>. Seperti halnya <em>kemping</em>, akan banyak aktivitas "tradisional" agar orang-orang dapat lebih "segar" dengan meninggalkan rutinitas harian: mulai dari pekerjaan, hingga teknologi dan internet.</p>
<p>Tapi apakah benar hidup kita akan lebih baik dan berkualitas ketika berhasil melepaskan ketergantungan pada internet dan dunia digital? Yang paling penting, apakah memang ketergantungan ini menurunkan produktivitas kita? Bukankah teknologi digital itu diciptakan untuk meningkatkan kualitas hidup, termasuk produktivitas. Dan, membuat kita lebih bahagia?</p>
<p>Tentunya hidup yang lebih baik itu adalah hidup yang seimbang. Dengan adanya dunia digital seperti saat ini, batasan-batasan menjadi kabur. Karena memang dunia digital adalah dunia tanpa batas. Internet kini bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Dan ketika pekerjaan sudah mulai bergantung pada internet. Maka, ketika Anda terhubung dengan internet, Anda akan "terhubung" dengan pekerjaan.</p>
<p><strong>Kurang piknik</strong>. Idiom yang tak asing untuk orang-orang yang stress karena hidup yang tak berimbang.</p>
<p>Tapi, di era komputasi awan saat ini, bagaimana rasanya kita bisa hidup di dunia konvensional tanpa teknologi digital?</p>
<p><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-pB9QlPMy16A/UY4u0BC_hfI/AAAAAAAAGYo/PxlswXeceJI/s640/paul_verge.jpg" alt="" /></p>
<p>Mari simak pengalaman <a href="http://www.theverge.com/2013/5/1/4279674/im-still-here-back-online-after-a-year-without-the-internet">Paul Miller dari The Verge</a> yang menjalani satu tahun penuh tanpa teknologi digital. Memasuki Mei 2012, ia memutuskan koneksi internetnya dan mengganti ponsel cerdas dengan ponsel konvensional.</p>
<p>Apa yang ia rasakan dalam setahun tanpa internet itu?</p>
<p>Hidupnya merdeka tanpa internet. Tak lagi merasa dikejar-kejar oleh&nbsp;<em>unread mails</em>, tak pernah merasa tenggelam dalam banjir informasi. Tentunya, tak lagi terganggu oleh notifikasi-notifikasi dari ponsel cerdasnya.</p>
<p>Ia jadi lebih fokus. Lebih produktif.</p>
<p>Kemampuan membaca yang lebih baik. Jika sebelumnya membaca 10 halaman buku saja sangat sulit, maka kini ia dapat membaca buku 100 halaman dengan lebih baik.</p>
<p>Namun, tentunya hidup tanpa internet juga berarti hidup tanpa kemudahan. Jika ia sebelumnya bisa melihat peta dari ponsel plus bantuan GPS. Kini, ia harus berhadapan dengan peta sesungguhnya, yang tentunya perlu keahlian lebih untuk membacanya.</p>
<p>Nah, Paul juga mendapatkan pengalaman "baru" saat memesan tiket pesawat. Jika biasanya dilakukan dengan gampang melalui internet plus bisa membandingkan beberapa harga tiket, kini ia melakukan via telepon dan menerima begitu saja tiket yang dipilihkan petugas sesuai rute dan jadwal yang diinginkan. Ya, kadang terlalu banyak pilihan juga akan membuat kita bingung. Kita akan berpikir lebih keras untuk memilih yang terbaik. Namun jika harga tiket hanya berselisih sedikit, untuk apa buang-buang waktu dan pikiran?</p>
<p>Tanpa internet juga bisa membuang banyak kepraktisan. Jika biasanya bekerja dengan email bisa melalui ponsel, kapan saja dan di mana saja, tidak halnya dengan surat pos. Dengan memiliki kotak pos (P.O. box), ia harus meluangkan waktu dan tenaga untuk mengambil surat-surat. Begitu juga saat membalas satu demi satu surat-surat itu. Untuk hal ini, memang internet banyak memberikan kontribusi dalam peningkatan produktivitas.</p>
<p>Tapi, dengan gaya hidup tradisional, Paul lebih banyak bergerak. Tak heran kalau ia kehilangan beberapa pon berat badan. Lebih sehat? Sepertinya.</p>
<p>Kekuatan internet adalah soal kecepatan dalam penyampaian informasi. Internet membuat kita lebih produktif karena mengurangi "waktu tunggu" dalam menerima informasi. Lebih banyak hal yang bisa dilakukan di era internet. Pun standar kecepatan kita berubah.</p>
<p>Dulu, membaca koran setiap pagi sudah cukup untuk aktualisasi informasi. Di era televisi, berita diaktualkan dua hingga tiga kali sehari. Era digital? Hitungan detik.</p>
<p>Maka wajar jika ada fenomena seperti FoMO. Rasanya tak tenang jika dalam beberapa jam tidak melihat berita. Apalagi jejaring sosial, bisa-bisa tiap beberapa menit kita memeriksanya.</p>
<p>FoMO ini pun merasuki kehidupan sosial. Tanpa internet, Paul tak lagi dikejar-kejar FoMO. Teman-teman dan keluarganya lebih bahagia ketika berbicara dengannya karena Paul memberikan perhatian penuh pada lawan bicaranya. Tak lagi sibuk memeriksa ponsel setiap beberapa menit sekali. Fokus penuh.</p>
<p>Namun, tanpa internet, sosialisasi juga sedikit terhambat. Terutama masalah geografis. Untuk yang di luar kota, alternatif yang tersisa tinggal telepon dan surat pos. Untuk yang di dalam kota pun tak lagi praktis, harus mampir ke rumah ataupun bertemu di kedai kopi.</p>
<p><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-P9dSuGn-K-4/UY4xTP4l7lI/AAAAAAAAGYo/1oHxd6Artn8/s640/coffee-mobile.jpg" alt="" width="640" height="339" /></p>
<p>Saya juga pernah melakukan <em>focus group discussion</em> di kantor bersama para <em>freshmen</em> terkait gaya hidup digital. Yang paling menarik adalah soal kegiatan mereka di akhir pekan: <em>hangout</em> bersama teman-teman di kafe, tapi bukannya heboh <em>bergosip</em> atau bercerita, melainkan malah sibuk dengan <em>gadget</em> masing-masing.</p>
<p>Nah, dari sini bisa dilihat. Pemuda-pemudi ini tidak bisa lepas dari gadget-nya. Wajar jika ternyata pekerjaannya banyak melibatkan teknologi, begitu juga gaya hidupnya. Tapi, ketika berkumpul secara fisik, saling berbicara satu sama lain, bahkan bercanda-tawa, namun hanya melibatkan bibir dan telinga, sementara mata tetap fokus di layar gadget masing-masing. Ada yang salah?</p>
<p>Memang internet seperti halnya teknologi lain, bagai pisau bermata dua. Ada manfaatnya, tapi bisa pula menjadi candu dan racun. Penetrasi internet dalam kehidupan sehari-hari pun harus seimbang. Agar tetap memberikan manfaat dan produktivitas, tapi tidak mengganggu kehidupan sosial dan menjadi kecanduan. Bagaimana dengan Anda?</p>
]]>
      </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/513/internet-candu-dan-racun'>Internet: Candu dan Racun</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/513/internet-candu-dan-racun'>http://adha.ms/p/513/internet-candu-dan-racun</a>. </p><p><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-zb1U4-PfKm0/UY4zZ4iqmaI/AAAAAAAAGZU/3EoioFeKOMo/s640/Social-Media.jpg" alt="" width="640" height="454" /></p>
<p>Tak bisa dipungkiri lagi, gaya hidup digital sudah mengakar dalam kehidupan modern. Hampir sepanjang kita membuka mata, internet ada di sisi kita. Lebih dari sekedar ponsel cerdas (<em>smartphone</em>), kini bermunculan gawai (<em>gadget</em>) yang lebih <em>wearable</em> yang mengakibatkan kita semakin tak lepas dari internet. Toh, sebelum makan kita tak lupa untuk memotret makanan kita, seperti halnya berdoa.</p>
<p>Seberapa burukkah penetrasi internet dalam mempengaruhi kehidupan kita?</p>
<p>Dengan derasnya laju informasi dan intensitas kita dalam menerjangnya, tentunya berpengaruh secara psikologis. Seperti yang ditulis oleh <a href="http://health.detik.com/read/2013/05/04/120041/2237940/763/fobia-ketinggalan-berita-fenomena-baru-para-pecandu-internet">detikHealth</a>, ada masalah psikologis baru yang muncul: <em>fear of missing out, FoMO</em>.</p>
<p>Fenomena ini adalah munculnya ketakutan ketika menyadari bahwa kita tertinggal informasi. Misalnya, ketika kita baru saja terhubung ke jejaring sosial dan menemukan teman-teman kita sedang asik membicarakan suatu hal. Nah, kita akan merasa "ketinggalan berita". Hal seperti ini memang bukan hal yang baru, bahkan sebelum era internet. Namun dengan kecepatan informasi yang demikian hebatnya di era internet, tak gampang untuk "mengikuti" segala perkembangan informasi yang sedang <em>ngetren</em>. Tapi kalau sampai merasa sedih (atau tertekan) hanya karena tidak bisa mengikuti (atau tidak mengerti) perbincangan tersebut, ini adalah FoMO.</p>
<p>Orang-orang dengan kadar FoMO tinggi, tentu akan terus berusaha "mengejar ketertinggalan" dengan meningkatkan intensitasnya dalam terhubung dengan internet. Internet sudah menjadi candu. <strong>Kecanduan informasi aktual</strong>. Kecanduan <em>social media</em>.</p>
<p>Dengan menigkatnya intensitas dalam "berinternet" dapat mempengaruhi sisi produktivitas dan sosial di dunia nyata. Ketika ketergantungan internet sudah memberikan dampak buruk bagi psikologis dan sosial seseorang, maka internet sudah menjadi racun. <strong>Keracunan internet</strong>.</p>
<p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-wb38Z90VSNs/UY4ycDxsSFI/AAAAAAAAGZA/c2b7R9OSzxU/s800/chasing-social-media.jpg" alt="" /></p>
<p>Kini, tak sedikit orang yang resah kalau tidak memeriksa ponsel cerdasnya dalam setiap beberapa menit. Banyak yang gelisah ketika <em>gadget</em>-nya tertinggal saat keluar rumah. Banyak pula yang <em>mati gaya</em> ketika tidak terhubung dengan internet.</p>
<p>Saat ini bahkan sudah ada perusaah yang serius menawarkan jasa pembuangan "racun internet" (<em>detoxification</em>) untuk orang-orang yang "keracunan internet". Misalnya <strong>Camp Grounded</strong> dari <strong>Digital Detox</strong> seperti yang dilansir oleh <a href="http://mashable.com/2013/04/30/digital-detox-camp-grounded/">Mashable</a>. Seperti halnya <em>kemping</em>, akan banyak aktivitas "tradisional" agar orang-orang dapat lebih "segar" dengan meninggalkan rutinitas harian: mulai dari pekerjaan, hingga teknologi dan internet.</p>
<p>Tapi apakah benar hidup kita akan lebih baik dan berkualitas ketika berhasil melepaskan ketergantungan pada internet dan dunia digital? Yang paling penting, apakah memang ketergantungan ini menurunkan produktivitas kita? Bukankah teknologi digital itu diciptakan untuk meningkatkan kualitas hidup, termasuk produktivitas. Dan, membuat kita lebih bahagia?</p>
<p>Tentunya hidup yang lebih baik itu adalah hidup yang seimbang. Dengan adanya dunia digital seperti saat ini, batasan-batasan menjadi kabur. Karena memang dunia digital adalah dunia tanpa batas. Internet kini bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Dan ketika pekerjaan sudah mulai bergantung pada internet. Maka, ketika Anda terhubung dengan internet, Anda akan "terhubung" dengan pekerjaan.</p>
<p><strong>Kurang piknik</strong>. Idiom yang tak asing untuk orang-orang yang stress karena hidup yang tak berimbang.</p>
<p>Tapi, di era komputasi awan saat ini, bagaimana rasanya kita bisa hidup di dunia konvensional tanpa teknologi digital?</p>
<p><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-pB9QlPMy16A/UY4u0BC_hfI/AAAAAAAAGYo/PxlswXeceJI/s640/paul_verge.jpg" alt="" /></p>
<p>Mari simak pengalaman <a href="http://www.theverge.com/2013/5/1/4279674/im-still-here-back-online-after-a-year-without-the-internet">Paul Miller dari The Verge</a> yang menjalani satu tahun penuh tanpa teknologi digital. Memasuki Mei 2012, ia memutuskan koneksi internetnya dan mengganti ponsel cerdas dengan ponsel konvensional.</p>
<p>Apa yang ia rasakan dalam setahun tanpa internet itu?</p>
<p>Hidupnya merdeka tanpa internet. Tak lagi merasa dikejar-kejar oleh&nbsp;<em>unread mails</em>, tak pernah merasa tenggelam dalam banjir informasi. Tentunya, tak lagi terganggu oleh notifikasi-notifikasi dari ponsel cerdasnya.</p>
<p>Ia jadi lebih fokus. Lebih produktif.</p>
<p>Kemampuan membaca yang lebih baik. Jika sebelumnya membaca 10 halaman buku saja sangat sulit, maka kini ia dapat membaca buku 100 halaman dengan lebih baik.</p>
<p>Namun, tentunya hidup tanpa internet juga berarti hidup tanpa kemudahan. Jika ia sebelumnya bisa melihat peta dari ponsel plus bantuan GPS. Kini, ia harus berhadapan dengan peta sesungguhnya, yang tentunya perlu keahlian lebih untuk membacanya.</p>
<p>Nah, Paul juga mendapatkan pengalaman "baru" saat memesan tiket pesawat. Jika biasanya dilakukan dengan gampang melalui internet plus bisa membandingkan beberapa harga tiket, kini ia melakukan via telepon dan menerima begitu saja tiket yang dipilihkan petugas sesuai rute dan jadwal yang diinginkan. Ya, kadang terlalu banyak pilihan juga akan membuat kita bingung. Kita akan berpikir lebih keras untuk memilih yang terbaik. Namun jika harga tiket hanya berselisih sedikit, untuk apa buang-buang waktu dan pikiran?</p>
<p>Tanpa internet juga bisa membuang banyak kepraktisan. Jika biasanya bekerja dengan email bisa melalui ponsel, kapan saja dan di mana saja, tidak halnya dengan surat pos. Dengan memiliki kotak pos (P.O. box), ia harus meluangkan waktu dan tenaga untuk mengambil surat-surat. Begitu juga saat membalas satu demi satu surat-surat itu. Untuk hal ini, memang internet banyak memberikan kontribusi dalam peningkatan produktivitas.</p>
<p>Tapi, dengan gaya hidup tradisional, Paul lebih banyak bergerak. Tak heran kalau ia kehilangan beberapa pon berat badan. Lebih sehat? Sepertinya.</p>
<p>Kekuatan internet adalah soal kecepatan dalam penyampaian informasi. Internet membuat kita lebih produktif karena mengurangi "waktu tunggu" dalam menerima informasi. Lebih banyak hal yang bisa dilakukan di era internet. Pun standar kecepatan kita berubah.</p>
<p>Dulu, membaca koran setiap pagi sudah cukup untuk aktualisasi informasi. Di era televisi, berita diaktualkan dua hingga tiga kali sehari. Era digital? Hitungan detik.</p>
<p>Maka wajar jika ada fenomena seperti FoMO. Rasanya tak tenang jika dalam beberapa jam tidak melihat berita. Apalagi jejaring sosial, bisa-bisa tiap beberapa menit kita memeriksanya.</p>
<p>FoMO ini pun merasuki kehidupan sosial. Tanpa internet, Paul tak lagi dikejar-kejar FoMO. Teman-teman dan keluarganya lebih bahagia ketika berbicara dengannya karena Paul memberikan perhatian penuh pada lawan bicaranya. Tak lagi sibuk memeriksa ponsel setiap beberapa menit sekali. Fokus penuh.</p>
<p>Namun, tanpa internet, sosialisasi juga sedikit terhambat. Terutama masalah geografis. Untuk yang di luar kota, alternatif yang tersisa tinggal telepon dan surat pos. Untuk yang di dalam kota pun tak lagi praktis, harus mampir ke rumah ataupun bertemu di kedai kopi.</p>
<p><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-P9dSuGn-K-4/UY4xTP4l7lI/AAAAAAAAGYo/1oHxd6Artn8/s640/coffee-mobile.jpg" alt="" width="640" height="339" /></p>
<p>Saya juga pernah melakukan <em>focus group discussion</em> di kantor bersama para <em>freshmen</em> terkait gaya hidup digital. Yang paling menarik adalah soal kegiatan mereka di akhir pekan: <em>hangout</em> bersama teman-teman di kafe, tapi bukannya heboh <em>bergosip</em> atau bercerita, melainkan malah sibuk dengan <em>gadget</em> masing-masing.</p>
<p>Nah, dari sini bisa dilihat. Pemuda-pemudi ini tidak bisa lepas dari gadget-nya. Wajar jika ternyata pekerjaannya banyak melibatkan teknologi, begitu juga gaya hidupnya. Tapi, ketika berkumpul secara fisik, saling berbicara satu sama lain, bahkan bercanda-tawa, namun hanya melibatkan bibir dan telinga, sementara mata tetap fokus di layar gadget masing-masing. Ada yang salah?</p>
<p>Memang internet seperti halnya teknologi lain, bagai pisau bermata dua. Ada manfaatnya, tapi bisa pula menjadi candu dan racun. Penetrasi internet dalam kehidupan sehari-hari pun harus seimbang. Agar tetap memberikan manfaat dan produktivitas, tapi tidak mengganggu kehidupan sosial dan menjadi kecanduan. Bagaimana dengan Anda?</p> 
]]>
		</content:encoded>
		<wfw:commentRss>http://adha.ms/rss/comment/513</wfw:commentRss>
	</item>
	<item>
		<title>Intel Iris Pro untuk MacBook Kecil?</title>
		<link>http://adha.ms/p/512/intel-iris-pro-untuk-macbook-kecil/</link>
		<guid>http://adha.ms/p/512/intel-iris-pro-untuk-macbook-kecil/</guid>
		<comments>http://adha.ms/p/512/intel-iris-pro-untuk-macbook-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 May 2013 11:36:39 +0700</pubDate>
		<dc:creator>Adham Somantrie</dc:creator>
		<description><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/512/intel-iris-pro-untuk-macbook-kecil'>Intel Iris Pro untuk MacBook Kecil?</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/512/intel-iris-pro-untuk-macbook-kecil'>http://adha.ms/p/512/intel-iris-pro-untuk-macbook-kecil</a>. </p><p>Intel telah mengumumkan prosesor grafik terbarunya, <strong>Intel Iris</strong> (5100) dan <strong>Intel Iris Pro</strong> (5200), yang diposisikan untuk kelas profesional di atas Intel HD Graphics (5000). Selama ini prosesor grafik Intel tidak pernah dilirik oleh pengguna profesional karena kapasitasnya yang memang seadanya: kebutuhan 3D minimal dan pengolahan untuk pemutaran video Full HD saja.</p>
<p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-BUs7FuNkSss/UYSLYCNOB7I/AAAAAAAAGQ0/CKD-_F_2CkQ/s640/mbpr-nv.jpg" alt="" width="640" height="474" /></p>
<p>Dulu, pengguna prosesor Intel Core 2 Duo masih bisa dimanjakan dengan adanya platform nForce dari nVidia yang mengintegrasikan prosesor grafik berbasis GeForce yang tentunya bisa diandalkan. Namun karena Intel melakukan tuntutan hukum, sejak Intel Core i series, nVidia tidak bisa memproduksi chipset untuk Intel. Semua prosesor Intel kini harus digunakan di platform Intel yang terintegrasi dengan Intel HD Graphics.</p>
<p>Hal ini pula bisa menjawab kenapa di tahun 2010, ketika MacBook Pro 15" dan 17" sudah bisa mengadopsi Intel Core i5/i7, namun MacBook Pro 13" masih menggunakan Core 2 Duo. Intel HD Graphic tidak bisa dibuang, terintegrasi, namun memakan tempat. Sehingga Dibutuhkan ruang tambahan untuk prosesor grafik tambahan dari ATI/AMD ataupun nVidia. Untuk 15" dan 17", ruang masih tersedia banyak, tapi tidak untuk 13". Apalagi untuk MacBook Air 11". Itulah mengapa MBP 15 dan 17 saat ini dilengkapi dengan dua prosesor grafis. Dan, bahkan MacBook Pro 13 Retina saja hanya dilengkapi dengan Intel HD Graphics 4000 <em><strong>saja</strong></em>!</p>
<p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-wAZ_UsF-Rs0/UYSLYK826oI/AAAAAAAAGQ0/q5aiIP8zrSg/s640/mbpr-game.jpg" alt="" width="640" height="380" /></p>
<p>Tapi seperti yang kita tahu, kinerja Intel HD Graphics sangat mengecewakan. Saya saja saat ini masih bertahan dengan MacBook Pro 13" 2.66 GHz demi <strong>nVidia GT320M</strong> untuk memainkan <strong>Diablo 3</strong>. MacBook Pro 13 (termasuk Retina) keluaran yang lebih baru dipersenjatai Intel HD Graphics hanya mampu dalam konfigurasi "<em>low</em>"! :(</p>
<p>Sebagai perbandingan, MacBook Pro 13 keluaran 2010 (Core 2 Duo + GT320M) kinerjanya (<em>real world</em>) masih lebih baik dibandingkan dengan keluaran 2011 (Core i5 + Intel HD 3000).</p>
<p>Saya pribadi masih meragukan kemampuan Intel Iris Pro untuk disandingkan dengan nVidia GT dan AMD Radeon HD. Namun, ternyata Iris Pro hanya akan diintegrasikan dengan prosesor <em>quad-core</em>. Tidak ada harapan untuk MacBook Pro 13" (termasuk Retina), apalagi MacBook Air.</p>
<p>Namun untuk MacBook Pro 13" (termasuk Retina) sepertinya akan kebagian Intel Iris reguler. Kecuali Apple mengemas MacBook Pro 13 dengan prosesor <em>quad-core</em>. Sementara MacBook Air (baik 11" maupun 13") sepertinya akan kebagian Intel HD Graphics 5000 yang hemat daya.</p>
<p>Untuk MacBook Air, memang tidak terlalu masalah untuk urusan grafik. Apalagi kompromi untuk hemat daya tentunya lebih penting. Namun, kinerja grafik yang mumpuni termasuk hal "wajib" untuk kelas MacBook Pro, terlebih yang Retina. Dulu saja pakai nVidia GT320M, <em>kok</em>. PowerBook G4 12" saya dulu saja pakai nVidia GeForce FX5200 Go. :P</p>
<p>Semoga saja Intel Iris bisa mengurangi kekecewaan. Saya sih masih yakin kinerjanya tidak akan "memuaskan". Untuk yang punya harapan dengan Iris Pro, silakan tunggu peluncuran MacBook Pro baru di WWDC nanti. :)</p>
<p>Bagaimana untuk laptop non-Mac? Tentunya Ultrabooks sebagai andalan Intel akan mengusung teknologi terbaru ini. Untuk ukuran kecil (11") dan <em>convertible/tablet</em> sepertinya masih akan menggunakan Intel HD Graphics 5000. Iris akan tersedia untuk Ultrabooks berukuran 13" ke atas. Sementara Iris Pro akan tersedia untuk Ultrabooks kelas atas.</p>
<p>Yah, mari kita tunggu saja hingga generasi keempat Intel Core muncul di pasaran! ;)</p>
]]>
      </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/512/intel-iris-pro-untuk-macbook-kecil'>Intel Iris Pro untuk MacBook Kecil?</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/512/intel-iris-pro-untuk-macbook-kecil'>http://adha.ms/p/512/intel-iris-pro-untuk-macbook-kecil</a>. </p><p>Intel telah mengumumkan prosesor grafik terbarunya, <strong>Intel Iris</strong> (5100) dan <strong>Intel Iris Pro</strong> (5200), yang diposisikan untuk kelas profesional di atas Intel HD Graphics (5000). Selama ini prosesor grafik Intel tidak pernah dilirik oleh pengguna profesional karena kapasitasnya yang memang seadanya: kebutuhan 3D minimal dan pengolahan untuk pemutaran video Full HD saja.</p>
<p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-BUs7FuNkSss/UYSLYCNOB7I/AAAAAAAAGQ0/CKD-_F_2CkQ/s640/mbpr-nv.jpg" alt="" width="640" height="474" /></p>
<p>Dulu, pengguna prosesor Intel Core 2 Duo masih bisa dimanjakan dengan adanya platform nForce dari nVidia yang mengintegrasikan prosesor grafik berbasis GeForce yang tentunya bisa diandalkan. Namun karena Intel melakukan tuntutan hukum, sejak Intel Core i series, nVidia tidak bisa memproduksi chipset untuk Intel. Semua prosesor Intel kini harus digunakan di platform Intel yang terintegrasi dengan Intel HD Graphics.</p>
<p>Hal ini pula bisa menjawab kenapa di tahun 2010, ketika MacBook Pro 15" dan 17" sudah bisa mengadopsi Intel Core i5/i7, namun MacBook Pro 13" masih menggunakan Core 2 Duo. Intel HD Graphic tidak bisa dibuang, terintegrasi, namun memakan tempat. Sehingga Dibutuhkan ruang tambahan untuk prosesor grafik tambahan dari ATI/AMD ataupun nVidia. Untuk 15" dan 17", ruang masih tersedia banyak, tapi tidak untuk 13". Apalagi untuk MacBook Air 11". Itulah mengapa MBP 15 dan 17 saat ini dilengkapi dengan dua prosesor grafis. Dan, bahkan MacBook Pro 13 Retina saja hanya dilengkapi dengan Intel HD Graphics 4000 <em><strong>saja</strong></em>!</p>
<p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-wAZ_UsF-Rs0/UYSLYK826oI/AAAAAAAAGQ0/q5aiIP8zrSg/s640/mbpr-game.jpg" alt="" width="640" height="380" /></p>
<p>Tapi seperti yang kita tahu, kinerja Intel HD Graphics sangat mengecewakan. Saya saja saat ini masih bertahan dengan MacBook Pro 13" 2.66 GHz demi <strong>nVidia GT320M</strong> untuk memainkan <strong>Diablo 3</strong>. MacBook Pro 13 (termasuk Retina) keluaran yang lebih baru dipersenjatai Intel HD Graphics hanya mampu dalam konfigurasi "<em>low</em>"! :(</p>
<p>Sebagai perbandingan, MacBook Pro 13 keluaran 2010 (Core 2 Duo + GT320M) kinerjanya (<em>real world</em>) masih lebih baik dibandingkan dengan keluaran 2011 (Core i5 + Intel HD 3000).</p>
<p>Saya pribadi masih meragukan kemampuan Intel Iris Pro untuk disandingkan dengan nVidia GT dan AMD Radeon HD. Namun, ternyata Iris Pro hanya akan diintegrasikan dengan prosesor <em>quad-core</em>. Tidak ada harapan untuk MacBook Pro 13" (termasuk Retina), apalagi MacBook Air.</p>
<p>Namun untuk MacBook Pro 13" (termasuk Retina) sepertinya akan kebagian Intel Iris reguler. Kecuali Apple mengemas MacBook Pro 13 dengan prosesor <em>quad-core</em>. Sementara MacBook Air (baik 11" maupun 13") sepertinya akan kebagian Intel HD Graphics 5000 yang hemat daya.</p>
<p>Untuk MacBook Air, memang tidak terlalu masalah untuk urusan grafik. Apalagi kompromi untuk hemat daya tentunya lebih penting. Namun, kinerja grafik yang mumpuni termasuk hal "wajib" untuk kelas MacBook Pro, terlebih yang Retina. Dulu saja pakai nVidia GT320M, <em>kok</em>. PowerBook G4 12" saya dulu saja pakai nVidia GeForce FX5200 Go. :P</p>
<p>Semoga saja Intel Iris bisa mengurangi kekecewaan. Saya sih masih yakin kinerjanya tidak akan "memuaskan". Untuk yang punya harapan dengan Iris Pro, silakan tunggu peluncuran MacBook Pro baru di WWDC nanti. :)</p>
<p>Bagaimana untuk laptop non-Mac? Tentunya Ultrabooks sebagai andalan Intel akan mengusung teknologi terbaru ini. Untuk ukuran kecil (11") dan <em>convertible/tablet</em> sepertinya masih akan menggunakan Intel HD Graphics 5000. Iris akan tersedia untuk Ultrabooks berukuran 13" ke atas. Sementara Iris Pro akan tersedia untuk Ultrabooks kelas atas.</p>
<p>Yah, mari kita tunggu saja hingga generasi keempat Intel Core muncul di pasaran! ;)</p> 
]]>
		</content:encoded>
		<wfw:commentRss>http://adha.ms/rss/comment/512</wfw:commentRss>
	</item>
	<item>
		<title>Nokia Asha 210: WhatsApp Phone</title>
		<link>http://adha.ms/p/511/nokia-asha-210-whatsapp-phone/</link>
		<guid>http://adha.ms/p/511/nokia-asha-210-whatsapp-phone/</guid>
		<comments>http://adha.ms/p/511/nokia-asha-210-whatsapp-phone/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Apr 2013 08:31:51 +0700</pubDate>
		<dc:creator>Adham Somantrie</dc:creator>
		<description><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/511/nokia-asha-210-whatsapp-phone'>Nokia Asha 210: WhatsApp Phone</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/511/nokia-asha-210-whatsapp-phone'>http://adha.ms/p/511/nokia-asha-210-whatsapp-phone</a>. </p><p><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-EM26LDhVpM8/UX1jXW6t3xI/AAAAAAAAGOM/U6o6fZSFzwY/s640/Nokia-Asha-210-Dual-SIM.jpg" alt="" width="640" height="320" /></p>
<p>Nokia baru saja memperkenalkan <strong>Asha 210</strong>. Sebenarnya hanya <em>featurephone</em> biasa. Yang tidak biasa adalah adanya tombol khusus untuk <strong>WhatsApp</strong>. Ini adalah kali pertama ponsel dengan dukungan untuk WhatsApp. Padahal sudah cukup lama Nokia dan WhatsApp bersinergi.</p>
<p>Ponsel dengan dukungan resmi aplikasi atau layanan pihak ketiga bukan hal yang baru. Ingat HTC Status yang jadi Facebook Phone? HTC First dengan dukungan <a href="http://adha.ms/p/504/facebook-home-konsep-baru-facebook-phone/">Facebook Home</a> sejak keluar kardus? Seperti HTC Status, Nokia Asha 205 juga dilengkapi tombol khusus untuk mengakses Facebook.</p>
<p>Tombol khusus ini tentunya didesain untuk jalan pintas fungsi yang sering digunakan. Dengan <em>keyboard</em> QWERTY, dapat dipastikan Asha 210 ditujukan untuk penggemar <em>chatting</em>. Tak salah memang meletakkan tombol WhatsApp. BlackBerry bahkan pada akhirnya membuatkan tombol khusus BBM pada seri Curve. Begitu juga dengan Samsung Galaxy Chat yang memberikan tombol khusus untuk ChatON.</p>
<p>Tapi jangan salah. Tak semua Asha 210 dilengkapi tombol WhatsApp. Ternyata hanya untuk pasar Asia dan Afrika saja. Sementara untuk pasar Amerika dan Eropa, tombol itu difungsikan untuk Facebook, sama seperti Asha 205.</p>
<p>Melengkapi itu semua, Nokia juga memberikan bonus khusus, yakni lisensi layanan WhatsApp seumur hidup untuk pengguna Asha 210. Dengan banderol 72 USD dan desain serta warna ala Lumia, tentunya menarik. Hanya sayangnya secara teknis, <a href="http://adha.ms/p/510/nokia-asha-asa-baru-sang-pembawa-pesan/">Asha 302</a> milik saya masih lebih baik: koneksi 3G misalnya.</p>
<p>Baik Nokia dan WhatsApp sepertinya memang perlu saling mendukung untuk saat ini. Nokia perlu mempertahankan posisi Asha di kelas <em>"smart" featurephone</em>. Mengingat pemain lain sedang sibuk bertempur di kawasan <em>geniusphone</em>. Tapi kelas <em>featurephone</em> juga bukan <em>blue ocean</em>, banyak pendatang baru yang berani berkompetisi dari sisi harga.</p>
<p>Begitu juga WhatsApp yang perlu bertahan dengan kehadiran alternatif lain. BBM mulai menyeruak dengan BBM Money. ChatOn memang tidak populer (setidaknya di sini), tapi Samsung sudah punya basis pengguna yang luas. Belum lagi Line dan KakaoTalk yang menghadirkan pengalaman <em>chatting</em> yang kaya plus platform untuk <em>social gaming</em>. Sementara iMessage sudah berhasil menurunkan trafik SMS pemilik iPhone. WhatsApp perlu berhati-hati, agar predikat "<em>SMS-killer</em>" tidak lepas.</p>
<p>Untuk kalangan pengguna seperti saya, di tengah maraknya <em>smartphone</em> dengan layar sentuh penuh, masih dibutuhkan adanya ponsel dengan keyboard fisik untuk kebutuhan <em>messaging</em>. Untuk segmen ini, Asha 210 saya pikir sudah pas, baik komposisi fitur, desain, maupun harganya. Toh, kalau penggunaan utamanya untuk&nbsp;<em>messaging,</em> tidak perlu terlalu canggih.</p>
<p>&mdash;<a href="http://adha.ms">Adham Somantrie</a>.</p>
]]>
      </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/511/nokia-asha-210-whatsapp-phone'>Nokia Asha 210: WhatsApp Phone</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/511/nokia-asha-210-whatsapp-phone'>http://adha.ms/p/511/nokia-asha-210-whatsapp-phone</a>. </p><p><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-EM26LDhVpM8/UX1jXW6t3xI/AAAAAAAAGOM/U6o6fZSFzwY/s640/Nokia-Asha-210-Dual-SIM.jpg" alt="" width="640" height="320" /></p>
<p>Nokia baru saja memperkenalkan <strong>Asha 210</strong>. Sebenarnya hanya <em>featurephone</em> biasa. Yang tidak biasa adalah adanya tombol khusus untuk <strong>WhatsApp</strong>. Ini adalah kali pertama ponsel dengan dukungan untuk WhatsApp. Padahal sudah cukup lama Nokia dan WhatsApp bersinergi.</p>
<p>Ponsel dengan dukungan resmi aplikasi atau layanan pihak ketiga bukan hal yang baru. Ingat HTC Status yang jadi Facebook Phone? HTC First dengan dukungan <a href="http://adha.ms/p/504/facebook-home-konsep-baru-facebook-phone/">Facebook Home</a> sejak keluar kardus? Seperti HTC Status, Nokia Asha 205 juga dilengkapi tombol khusus untuk mengakses Facebook.</p>
<p>Tombol khusus ini tentunya didesain untuk jalan pintas fungsi yang sering digunakan. Dengan <em>keyboard</em> QWERTY, dapat dipastikan Asha 210 ditujukan untuk penggemar <em>chatting</em>. Tak salah memang meletakkan tombol WhatsApp. BlackBerry bahkan pada akhirnya membuatkan tombol khusus BBM pada seri Curve. Begitu juga dengan Samsung Galaxy Chat yang memberikan tombol khusus untuk ChatON.</p>
<p>Tapi jangan salah. Tak semua Asha 210 dilengkapi tombol WhatsApp. Ternyata hanya untuk pasar Asia dan Afrika saja. Sementara untuk pasar Amerika dan Eropa, tombol itu difungsikan untuk Facebook, sama seperti Asha 205.</p>
<p>Melengkapi itu semua, Nokia juga memberikan bonus khusus, yakni lisensi layanan WhatsApp seumur hidup untuk pengguna Asha 210. Dengan banderol 72 USD dan desain serta warna ala Lumia, tentunya menarik. Hanya sayangnya secara teknis, <a href="http://adha.ms/p/510/nokia-asha-asa-baru-sang-pembawa-pesan/">Asha 302</a> milik saya masih lebih baik: koneksi 3G misalnya.</p>
<p>Baik Nokia dan WhatsApp sepertinya memang perlu saling mendukung untuk saat ini. Nokia perlu mempertahankan posisi Asha di kelas <em>"smart" featurephone</em>. Mengingat pemain lain sedang sibuk bertempur di kawasan <em>geniusphone</em>. Tapi kelas <em>featurephone</em> juga bukan <em>blue ocean</em>, banyak pendatang baru yang berani berkompetisi dari sisi harga.</p>
<p>Begitu juga WhatsApp yang perlu bertahan dengan kehadiran alternatif lain. BBM mulai menyeruak dengan BBM Money. ChatOn memang tidak populer (setidaknya di sini), tapi Samsung sudah punya basis pengguna yang luas. Belum lagi Line dan KakaoTalk yang menghadirkan pengalaman <em>chatting</em> yang kaya plus platform untuk <em>social gaming</em>. Sementara iMessage sudah berhasil menurunkan trafik SMS pemilik iPhone. WhatsApp perlu berhati-hati, agar predikat "<em>SMS-killer</em>" tidak lepas.</p>
<p>Untuk kalangan pengguna seperti saya, di tengah maraknya <em>smartphone</em> dengan layar sentuh penuh, masih dibutuhkan adanya ponsel dengan keyboard fisik untuk kebutuhan <em>messaging</em>. Untuk segmen ini, Asha 210 saya pikir sudah pas, baik komposisi fitur, desain, maupun harganya. Toh, kalau penggunaan utamanya untuk&nbsp;<em>messaging,</em> tidak perlu terlalu canggih.</p>
<p>&mdash;<a href="http://adha.ms">Adham Somantrie</a>.</p> 
]]>
		</content:encoded>
		<wfw:commentRss>http://adha.ms/rss/comment/511</wfw:commentRss>
	</item>
	<item>
		<title>Nokia Asha: Asa Baru Sang Pembawa Pesan</title>
		<link>http://adha.ms/p/510/nokia-asha-asa-baru-sang-pembawa-pesan/</link>
		<guid>http://adha.ms/p/510/nokia-asha-asa-baru-sang-pembawa-pesan/</guid>
		<comments>http://adha.ms/p/510/nokia-asha-asa-baru-sang-pembawa-pesan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Apr 2013 10:19:45 +0700</pubDate>
		<dc:creator>Adham Somantrie</dc:creator>
		<description><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/510/nokia-asha-asa-baru-sang-pembawa-pesan'>Nokia Asha: Asa Baru Sang Pembawa Pesan</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/510/nokia-asha-asa-baru-sang-pembawa-pesan'>http://adha.ms/p/510/nokia-asha-asa-baru-sang-pembawa-pesan</a>. </p><p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-E34kfaAcrWw/UTdFEoJVuDI/AAAAAAAAF5U/KUWMeFoZcEU/s640/asha-302-twit.jpg" alt="" width="640" height="454" /></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, saya memulai <a href="http://adha.ms/p/461/pencarian-sang-pembawa-pesan/">mencari ponsel pengganti Nokia E71</a> yang sudah mulai usang. Hingga akhirnya pilihan jatuh ke Nokia Asha 302 yang saya tebus di OkeShop senilai Rp.1.049.000. Bentuknya pun masih "mirip" dengan E71, sehingga diharapkan proses adaptasi menjadi lebih mudah.</p>
<p><strong>Nokia S40 Asha Platform</strong></p>
<p>Pastinya lini Nokia Asha menggunakan platform Nokia Series 40. Berbeda dengan Nokia E-series yang berbasis Symbian, S40 tidak mendukung <em>multitasking</em> yang sebenarnya. Walaupun begitu, memutar musik sambil chatting dengan WhatsApp tetap bisa dilakukan. Hanya saja, untuk berpindah aplikasi menjadi lebih <em>ribet</em>.</p>
<p>Selain itu, ukuran tulisan (<em>font</em>) relatif besar, kurang nyaman untuk saya pribadi.</p>
<p><strong>Social by Nokia</strong></p>
<p>Untuk urusan <em>social media</em>, ternyata ponsel ini tak kalah. Nokia sudah mempersiapkan aplikasi khusus untuk twitter dan facebook. Bahkan seakan tak mau kalah dengan <a href="http://adha.ms/p/504/facebook-home-konsep-baru-facebook-phone/">Facebook Home</a> di Android, cuplikan linimasa twitter ataupun facebook bisa ditampilkan di <em>homescreen</em> Asha!</p>
<p>Karena memang aplikasi ini berbasis Java, tentu saja banyak keterbatasan. Sehingga untuk penggunaan yang sangat intensif tidak bisa diakomodasi. Kali ini saya merindukan aplikasi Gravity di E71.</p>
<p><strong>Nokia Music Unlimited</strong></p>
<p>Memang ini bukan ponsel yang ditekankan untuk musik. Tetapi saya mendapatkan layanan Nokia Music Unlimited gratis selama 6 bulan untuk mengunduh musik-musik digital di "toko musik" Nokia. Memang koleksi musiknya tak sekaya iTunes Music Store, tapi lumayan. Sayangnya lagi, musik yang ditawarkan memiliki kompresi yang lumayan ketat. Tak heran kalau per lagu rata-rata hanya berukuran 1MB. Dengan jaringan HSPA, hanya butuh hitungan detik untuk mengunduh lagu. Begitu juga dengan <em>headset</em> yang diberikan, berkualitas seadanya.</p>
<p><strong>USB Charging</strong></p>
<p>Seperti halnya ponsel Nokia, Asha 302 ini masih dilengkapi <em>charger</em> standar Nokia. Karena segmennya termasuk low end, hanya dilengkapi charger dengan kapasitas arus 450 mAH, untuk mengisi baterai berkapasitas 1430mAH. Secara teori, akan butuh waktu lebih dari 3 jam. Saya sendiri akhirnya menggunakan charger E71 (800mAH).</p>
<p>Yang menarik adalah Asha 302 ini ini juga dapat diisi baterainya ketika terhubung dengan komputer menggunakan kabel USB. Namun, ketika saya menghubungkan dengan USB charger iPhone, baterai tidak terisi. Hanya terisi ketika dihubungkan dengan komputer (ada koneksi data).</p>
<p><strong>Mac &amp; iSync</strong></p>
<p>Sinkronisasi dengan Mac adalah wajib bagi saya. Karena ternyata Nokia tak lagi mendukung Mac, maka saya terpaksa <a href="http://adha.ms/p/506/nokia-asha-302-isync-phone-plugin/">membuat sendiri <em>plugin</em> iSync untuk Asha 302</a>. Urusan sinkronisasi tak lagi menjadi masalah!</p>
<p><strong>Tombol Volume</strong></p>
<p>Namun kekurangan yang paling fatal bagi saya adalah tak adanya tombol fisik untuk mengatur volume suara. Memang untuk mendengarkan musik ataupun radio bisa diatur melalui tombol navigasi. Tapi dengan tombol khusus, ini akan jauh lebih baik.</p>
<p><strong>Kesimpulan?</strong></p>
<p>Bisa dibilang kalau Nokia Asha 302 ini adalah <em>featurephone</em> dengan cita rasa <em>smartphone</em>. Memang banyak kekurangannya jika dibandingkan dengan E71, tapi sebagai <em>sidekick messenger</em> untuk iPhone 4S, sangat memadai. Apalagi memiliki fitur <em>speed dial</em>, sehingga menelpon nomor yang biasa dihubungi menjadi praktis.</p>
<p>Nah, apakah Anda juga masih bertahan menggunakan ponsel dengan <em>full keyboard</em>?</p>
]]>
      </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/510/nokia-asha-asa-baru-sang-pembawa-pesan'>Nokia Asha: Asa Baru Sang Pembawa Pesan</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/510/nokia-asha-asa-baru-sang-pembawa-pesan'>http://adha.ms/p/510/nokia-asha-asa-baru-sang-pembawa-pesan</a>. </p><p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-E34kfaAcrWw/UTdFEoJVuDI/AAAAAAAAF5U/KUWMeFoZcEU/s640/asha-302-twit.jpg" alt="" width="640" height="454" /></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, saya memulai <a href="http://adha.ms/p/461/pencarian-sang-pembawa-pesan/">mencari ponsel pengganti Nokia E71</a> yang sudah mulai usang. Hingga akhirnya pilihan jatuh ke Nokia Asha 302 yang saya tebus di OkeShop senilai Rp.1.049.000. Bentuknya pun masih "mirip" dengan E71, sehingga diharapkan proses adaptasi menjadi lebih mudah.</p>
<p><strong>Nokia S40 Asha Platform</strong></p>
<p>Pastinya lini Nokia Asha menggunakan platform Nokia Series 40. Berbeda dengan Nokia E-series yang berbasis Symbian, S40 tidak mendukung <em>multitasking</em> yang sebenarnya. Walaupun begitu, memutar musik sambil chatting dengan WhatsApp tetap bisa dilakukan. Hanya saja, untuk berpindah aplikasi menjadi lebih <em>ribet</em>.</p>
<p>Selain itu, ukuran tulisan (<em>font</em>) relatif besar, kurang nyaman untuk saya pribadi.</p>
<p><strong>Social by Nokia</strong></p>
<p>Untuk urusan <em>social media</em>, ternyata ponsel ini tak kalah. Nokia sudah mempersiapkan aplikasi khusus untuk twitter dan facebook. Bahkan seakan tak mau kalah dengan <a href="http://adha.ms/p/504/facebook-home-konsep-baru-facebook-phone/">Facebook Home</a> di Android, cuplikan linimasa twitter ataupun facebook bisa ditampilkan di <em>homescreen</em> Asha!</p>
<p>Karena memang aplikasi ini berbasis Java, tentu saja banyak keterbatasan. Sehingga untuk penggunaan yang sangat intensif tidak bisa diakomodasi. Kali ini saya merindukan aplikasi Gravity di E71.</p>
<p><strong>Nokia Music Unlimited</strong></p>
<p>Memang ini bukan ponsel yang ditekankan untuk musik. Tetapi saya mendapatkan layanan Nokia Music Unlimited gratis selama 6 bulan untuk mengunduh musik-musik digital di "toko musik" Nokia. Memang koleksi musiknya tak sekaya iTunes Music Store, tapi lumayan. Sayangnya lagi, musik yang ditawarkan memiliki kompresi yang lumayan ketat. Tak heran kalau per lagu rata-rata hanya berukuran 1MB. Dengan jaringan HSPA, hanya butuh hitungan detik untuk mengunduh lagu. Begitu juga dengan <em>headset</em> yang diberikan, berkualitas seadanya.</p>
<p><strong>USB Charging</strong></p>
<p>Seperti halnya ponsel Nokia, Asha 302 ini masih dilengkapi <em>charger</em> standar Nokia. Karena segmennya termasuk low end, hanya dilengkapi charger dengan kapasitas arus 450 mAH, untuk mengisi baterai berkapasitas 1430mAH. Secara teori, akan butuh waktu lebih dari 3 jam. Saya sendiri akhirnya menggunakan charger E71 (800mAH).</p>
<p>Yang menarik adalah Asha 302 ini ini juga dapat diisi baterainya ketika terhubung dengan komputer menggunakan kabel USB. Namun, ketika saya menghubungkan dengan USB charger iPhone, baterai tidak terisi. Hanya terisi ketika dihubungkan dengan komputer (ada koneksi data).</p>
<p><strong>Mac &amp; iSync</strong></p>
<p>Sinkronisasi dengan Mac adalah wajib bagi saya. Karena ternyata Nokia tak lagi mendukung Mac, maka saya terpaksa <a href="http://adha.ms/p/506/nokia-asha-302-isync-phone-plugin/">membuat sendiri <em>plugin</em> iSync untuk Asha 302</a>. Urusan sinkronisasi tak lagi menjadi masalah!</p>
<p><strong>Tombol Volume</strong></p>
<p>Namun kekurangan yang paling fatal bagi saya adalah tak adanya tombol fisik untuk mengatur volume suara. Memang untuk mendengarkan musik ataupun radio bisa diatur melalui tombol navigasi. Tapi dengan tombol khusus, ini akan jauh lebih baik.</p>
<p><strong>Kesimpulan?</strong></p>
<p>Bisa dibilang kalau Nokia Asha 302 ini adalah <em>featurephone</em> dengan cita rasa <em>smartphone</em>. Memang banyak kekurangannya jika dibandingkan dengan E71, tapi sebagai <em>sidekick messenger</em> untuk iPhone 4S, sangat memadai. Apalagi memiliki fitur <em>speed dial</em>, sehingga menelpon nomor yang biasa dihubungi menjadi praktis.</p>
<p>Nah, apakah Anda juga masih bertahan menggunakan ponsel dengan <em>full keyboard</em>?</p> 
]]>
		</content:encoded>
		<wfw:commentRss>http://adha.ms/rss/comment/510</wfw:commentRss>
	</item>
	<item>
		<title>Muji Pedometer</title>
		<link>http://adha.ms/p/509/muji-pedometer/</link>
		<guid>http://adha.ms/p/509/muji-pedometer/</guid>
		<comments>http://adha.ms/p/509/muji-pedometer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Apr 2013 13:32:27 +0700</pubDate>
		<dc:creator>Adham Somantrie</dc:creator>
		<description><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/509/muji-pedometer'>Muji Pedometer</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/509/muji-pedometer'>http://adha.ms/p/509/muji-pedometer</a>. </p><p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-nUyUUBw_yJc/UXfE-opNuoI/AAAAAAAAGNk/FUKj-xfVraU/s640/muji-pedometer.jpg" alt="" width="640" height="405" /></p>
<p>Kali ini saya dapat pinjaman sebuah pedometer dari Muji. Seperti layaknya pedometer, tentunya berfungsi sebagai alat pengukur langkah kaki. Desain produk ini cukup minimalis, berbentuk kotak berwarna putih dengan layar LCD monokrom yang mendominasi bagian depannya, dilengkapi dengan 3 tombol untuk navigasi menu dan konfigurasi perangkat. Pedometer ini ditenagai oleh baterai kancing yang disertakan dalam paket penjualan.</p>
<p>Untuk konfigurasi pertama kali memang agak merepotkan. Pertama saya harus mengatur jam. Lalu, saya harus memasukkan data terkait tubuh saya: berat badan, panjang langkah kaki, dan jenis kelamin. Terasa berlebihan? Memang, tapi ternyata ini terkait fitur tambahan dari sekedar menghitung langkah.</p>
<p>Dengan data yang cukup lengkap, pedometer ini juga bisa menghitung akumulasi jarak yang kita tempuh seharian. Lebih menarik lagi, juga bisa menghitungkan jumlah kalori yang terbakar serta massa lemak tubuh yang terbakar. Nah!</p>
<p>Lebih canggih lagi, akselerometer yang digunakan pun lebih cerdas dari pedometer umumnya. Ketika tidak terdeteksi adanya gerakan, maka layar akan padam untuk menghemat energi baterai. Pun, gerakan-gerakan "tak sengaja" akan diabaikan. :)</p>
<p>Karena dilengkapi dengan jam, tentunya bisa menghitung jumlah waktu aktif kita dalam sehari. Juga dilengkapi dengan memori untuk menyimpan statistik aktivitas dalam 7 hari ke belakang. Sehingga membandingkan tingkat keaktifan kita hari ini dengan kemarin-kemarin bukanlah hal yang sulit lagi. Untuk penghitungan dengan rentang waktu yang spesifik, juga disediakan <em>split mode</em> untuk menghitung langkah dalam durasi tertentu.</p>
<p>Penggunaanya cukup gampang. Saya sendiri biasanya menyimpan pedometer ini di saku celana. Selain itu, juga bisa diletakkan di dalam tas ataupun dikalungkan di leher. Dan sesuai fungsinya, untung menghitung langkah kaki, maka akurasinya tidak bisa diandalkan untuk kegiatan olahraga.</p>
<p>Fitur tambahan lain adalah alarm panik (<em>panic alarm</em>). Jika sewaktu-waktu panik dan butuh perhatian orang sekitar, untuk yang sulit berteriak bisa menarik saklar yang ada disisi pedometer untuk membunyikan alarm.</p>
<p>Pedometer ini ditawarkan dengan harga Rp.307.000,- di gerai Muji, yaitu di Plaza Indonesia, Paris Van Java (Bandung), Grand Indonesia, Mall of Indonesia, Mall Taman Anggrek, Pondok Indah Mall 1.</p>
<p>Nah, hari ini Anda sudah berjalan kaki berapa langkah?</p>
]]>
      </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/509/muji-pedometer'>Muji Pedometer</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/509/muji-pedometer'>http://adha.ms/p/509/muji-pedometer</a>. </p><p><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-nUyUUBw_yJc/UXfE-opNuoI/AAAAAAAAGNk/FUKj-xfVraU/s640/muji-pedometer.jpg" alt="" width="640" height="405" /></p>
<p>Kali ini saya dapat pinjaman sebuah pedometer dari Muji. Seperti layaknya pedometer, tentunya berfungsi sebagai alat pengukur langkah kaki. Desain produk ini cukup minimalis, berbentuk kotak berwarna putih dengan layar LCD monokrom yang mendominasi bagian depannya, dilengkapi dengan 3 tombol untuk navigasi menu dan konfigurasi perangkat. Pedometer ini ditenagai oleh baterai kancing yang disertakan dalam paket penjualan.</p>
<p>Untuk konfigurasi pertama kali memang agak merepotkan. Pertama saya harus mengatur jam. Lalu, saya harus memasukkan data terkait tubuh saya: berat badan, panjang langkah kaki, dan jenis kelamin. Terasa berlebihan? Memang, tapi ternyata ini terkait fitur tambahan dari sekedar menghitung langkah.</p>
<p>Dengan data yang cukup lengkap, pedometer ini juga bisa menghitung akumulasi jarak yang kita tempuh seharian. Lebih menarik lagi, juga bisa menghitungkan jumlah kalori yang terbakar serta massa lemak tubuh yang terbakar. Nah!</p>
<p>Lebih canggih lagi, akselerometer yang digunakan pun lebih cerdas dari pedometer umumnya. Ketika tidak terdeteksi adanya gerakan, maka layar akan padam untuk menghemat energi baterai. Pun, gerakan-gerakan "tak sengaja" akan diabaikan. :)</p>
<p>Karena dilengkapi dengan jam, tentunya bisa menghitung jumlah waktu aktif kita dalam sehari. Juga dilengkapi dengan memori untuk menyimpan statistik aktivitas dalam 7 hari ke belakang. Sehingga membandingkan tingkat keaktifan kita hari ini dengan kemarin-kemarin bukanlah hal yang sulit lagi. Untuk penghitungan dengan rentang waktu yang spesifik, juga disediakan <em>split mode</em> untuk menghitung langkah dalam durasi tertentu.</p>
<p>Penggunaanya cukup gampang. Saya sendiri biasanya menyimpan pedometer ini di saku celana. Selain itu, juga bisa diletakkan di dalam tas ataupun dikalungkan di leher. Dan sesuai fungsinya, untung menghitung langkah kaki, maka akurasinya tidak bisa diandalkan untuk kegiatan olahraga.</p>
<p>Fitur tambahan lain adalah alarm panik (<em>panic alarm</em>). Jika sewaktu-waktu panik dan butuh perhatian orang sekitar, untuk yang sulit berteriak bisa menarik saklar yang ada disisi pedometer untuk membunyikan alarm.</p>
<p>Pedometer ini ditawarkan dengan harga Rp.307.000,- di gerai Muji, yaitu di Plaza Indonesia, Paris Van Java (Bandung), Grand Indonesia, Mall of Indonesia, Mall Taman Anggrek, Pondok Indah Mall 1.</p>
<p>Nah, hari ini Anda sudah berjalan kaki berapa langkah?</p> 
]]>
		</content:encoded>
		<wfw:commentRss>http://adha.ms/rss/comment/509</wfw:commentRss>
	</item>
	<item>
		<title>Nike AirMax PHOTOiD</title>
		<link>http://adha.ms/p/508/nike-airmax-photoid/</link>
		<guid>http://adha.ms/p/508/nike-airmax-photoid/</guid>
		<comments>http://adha.ms/p/508/nike-airmax-photoid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Apr 2013 19:12:16 +0700</pubDate>
		<dc:creator>Adham Somantrie</dc:creator>
		<description><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/508/nike-airmax-photoid'>Nike AirMax PHOTOiD</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/508/nike-airmax-photoid'>http://adha.ms/p/508/nike-airmax-photoid</a>. </p><p><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-JLWViQ43GB4/UXEkZHgTfAI/AAAAAAAAGNE/fgqZfVwLsPk/s800/nikeairmax-photoid.jpg" alt="" width="640" height="406" /></p>
<p>Nike memiliki produk NIKEiD, yakni produk yang bisa dipersonalisasi sesuai dengan keinginan pembeli. Umumnya adalah pemilihan kombinasi warna dan juga pilihan bahan. Dan tentu saja ukuran.</p>
<p>Jika biasanya pembeli melakukan personalisasi secara manual, sekarang dapat dilakukan dengan cara yang unik dengan adanya <strong>PHOTOiD</strong>. <a href="http://photoid.nike.com/">PHOTOiD</a> akan menyusun kombinasi warna sepatu Nike iD <strong>Air Max 1</strong>, <strong>Air Max 90</strong>, ataupun <strong>Air Max 95</strong> berdasarkan foto Instagram pilihan.</p>
<p>Calon pembeli cukup <em>login</em> ke PHOTOiD dengan akun Instagram, dan memilih foto Instagram yang akan digunakan. Serta memilih salah satu sepatu yang mau dibeli. Setelah itu, PHOTOiD akan melakukan pemindaian warna dari foto tersebut, dan membuatkan 4 alternatif kombinasi warna yang sesuai untuk sepatu tersebut. Setelah memilih salah satu alternatif, calon pembeli diminta untuk memberikan nama dan deskripsi.</p>
<p>Dan, kombinasi warna itu akan tersimpan di galeri PHOTOiD bersama dengan foto Instagram sebagai latar belakangnya. Tak lengkap tentunya kalau tanpa dukungan social media. Maka, sepatu kreasi calon pembeli ini pun dapat dibagikan ke akun <em>social media</em>-nya masing-masing.</p>
<p>Jika berminat, sepatu tersebut (dan juga sepatu lain dari galeri) bisa dibeli seharga 135 USD. Hanya saja, untuk pembelian masih terbatas di beberapa negara saja. Belum bisa dilakukan di Indonesia.</p>
<p>PHOTOiD adalah inovasi menarik dari Nike terkait pemasaran menggunakan <em>social media</em>. Aplikasi bersifat kreasi tentunya akan membuat orang tertarik dan betah untuk mengeksplorasi. Bisa jadi penasaran bagaimana penampakan sepatu dari setiap foto Instagramnya. Pesan <em>marketing</em> pun tersampaikan: "<em>you can customize your shoes with Nike iD</em>".</p>
<p>Pengintegrasian Instagram juga sudah tepat. Umumnya foto-foto Instagram memang untuk dipamerkan, dan minim konten pribadi. Pun, umumnya foto dibuat dengan tujuan "seni", jarang yang dibuat untuk "dokumentasi" ataupun "jurnalistik". Cocok untuk berkreasi.</p>
<p>Karakteristik sosial pun dimanfaatkan untuk <em>viralilty</em>. Pengguna yang "bangga" dengan kreasinya tentunya akan memamerkan ke teman-teman dan pengikutnya.</p>
<p>Dan yang paling penting, setelah pengguna berkreasi dengan PHOTOiD, telah dipesiapkan akses mudah untuk mendapatkan sepatu kreasinya. Tentunya dengan semakin mudah akses berbelanja, tingkat penjualan pun diharapkan akan meningkat.</p>
<p>Sudahkah Anda mencoba berkreasi dengan PHOTOiD?</p>
]]>
      </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/508/nike-airmax-photoid'>Nike AirMax PHOTOiD</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/508/nike-airmax-photoid'>http://adha.ms/p/508/nike-airmax-photoid</a>. </p><p><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-JLWViQ43GB4/UXEkZHgTfAI/AAAAAAAAGNE/fgqZfVwLsPk/s800/nikeairmax-photoid.jpg" alt="" width="640" height="406" /></p>
<p>Nike memiliki produk NIKEiD, yakni produk yang bisa dipersonalisasi sesuai dengan keinginan pembeli. Umumnya adalah pemilihan kombinasi warna dan juga pilihan bahan. Dan tentu saja ukuran.</p>
<p>Jika biasanya pembeli melakukan personalisasi secara manual, sekarang dapat dilakukan dengan cara yang unik dengan adanya <strong>PHOTOiD</strong>. <a href="http://photoid.nike.com/">PHOTOiD</a> akan menyusun kombinasi warna sepatu Nike iD <strong>Air Max 1</strong>, <strong>Air Max 90</strong>, ataupun <strong>Air Max 95</strong> berdasarkan foto Instagram pilihan.</p>
<p>Calon pembeli cukup <em>login</em> ke PHOTOiD dengan akun Instagram, dan memilih foto Instagram yang akan digunakan. Serta memilih salah satu sepatu yang mau dibeli. Setelah itu, PHOTOiD akan melakukan pemindaian warna dari foto tersebut, dan membuatkan 4 alternatif kombinasi warna yang sesuai untuk sepatu tersebut. Setelah memilih salah satu alternatif, calon pembeli diminta untuk memberikan nama dan deskripsi.</p>
<p>Dan, kombinasi warna itu akan tersimpan di galeri PHOTOiD bersama dengan foto Instagram sebagai latar belakangnya. Tak lengkap tentunya kalau tanpa dukungan social media. Maka, sepatu kreasi calon pembeli ini pun dapat dibagikan ke akun <em>social media</em>-nya masing-masing.</p>
<p>Jika berminat, sepatu tersebut (dan juga sepatu lain dari galeri) bisa dibeli seharga 135 USD. Hanya saja, untuk pembelian masih terbatas di beberapa negara saja. Belum bisa dilakukan di Indonesia.</p>
<p>PHOTOiD adalah inovasi menarik dari Nike terkait pemasaran menggunakan <em>social media</em>. Aplikasi bersifat kreasi tentunya akan membuat orang tertarik dan betah untuk mengeksplorasi. Bisa jadi penasaran bagaimana penampakan sepatu dari setiap foto Instagramnya. Pesan <em>marketing</em> pun tersampaikan: "<em>you can customize your shoes with Nike iD</em>".</p>
<p>Pengintegrasian Instagram juga sudah tepat. Umumnya foto-foto Instagram memang untuk dipamerkan, dan minim konten pribadi. Pun, umumnya foto dibuat dengan tujuan "seni", jarang yang dibuat untuk "dokumentasi" ataupun "jurnalistik". Cocok untuk berkreasi.</p>
<p>Karakteristik sosial pun dimanfaatkan untuk <em>viralilty</em>. Pengguna yang "bangga" dengan kreasinya tentunya akan memamerkan ke teman-teman dan pengikutnya.</p>
<p>Dan yang paling penting, setelah pengguna berkreasi dengan PHOTOiD, telah dipesiapkan akses mudah untuk mendapatkan sepatu kreasinya. Tentunya dengan semakin mudah akses berbelanja, tingkat penjualan pun diharapkan akan meningkat.</p>
<p>Sudahkah Anda mencoba berkreasi dengan PHOTOiD?</p> 
]]>
		</content:encoded>
		<wfw:commentRss>http://adha.ms/rss/comment/508</wfw:commentRss>
	</item>
	<item>
		<title>TomTom Runner &amp; MultiSport. Tanpa Nike.</title>
		<link>http://adha.ms/p/507/tomtom-runner-multisport-tanpa-nike/</link>
		<guid>http://adha.ms/p/507/tomtom-runner-multisport-tanpa-nike/</guid>
		<comments>http://adha.ms/p/507/tomtom-runner-multisport-tanpa-nike/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Apr 2013 23:29:21 +0700</pubDate>
		<dc:creator>Adham Somantrie</dc:creator>
		<description><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/507/tomtom-runner-multisport-tanpa-nike'>TomTom Runner &amp; MultiSport. Tanpa Nike.</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/507/tomtom-runner-multisport-tanpa-nike'>http://adha.ms/p/507/tomtom-runner-multisport-tanpa-nike</a>. </p><p><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-JjQZwcgYtLA/UW6kI-ScSsI/AAAAAAAAGLs/3jN-Bigy_80/s800/tomtom.jpg" alt="" /></p>
<p>TomTom kali ini meluncurkan sendiri jam tangan GPS. Tanpa kerjasama dengan Nike seperti pada Nike+ SportWatch di tahun 2011. Sepertinya TomTom juga tak mau ketinggalan untuk terjun langsung di pasar jam tangan cerdas untuk olahraga. Sementara Garmin, kompetitor TomTom, sudah lama terjun dan menikmati pasar ini. Polar pun sudah meluncurkan RC3 GPS. Bahkan Motorola terjun dengan MotoACTV. Pasar jam tangan cerdas GPS semakin panas!</p>
<p>Oke, kita tahu kalau Nike+ SportWatch GPS dibuat oleh TomTom, jadi tak perlu diragukan lagi kalau TomTom pun bisa membuatnya sendiri tanpa Nike. Toh, GPS adalah kompetensi TomTom. Maka akan segera diluncurkan <strong>TomTom Runner</strong> dan <strong>TomTom MultiSport</strong>.</p>
<p><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-1VO0R3QuDXI/UW7LdyWHCqI/AAAAAAAAGMg/JZsWl9Y7Xi4/s640/tomtom-multi-swim.jpg" alt="" width="640" height="261" /></p>
<p>Keduanya cenderung mirip, hanya saja TomTom Runner khusus untuk berlari. Sementara TomTom MultiSport juga bisa digunakan untuk bersepeda dan berenang. Tentunya MultiSport sudah tahan air, sementara Runner tidak. MultiSport juga dilengkapi dengan altimeter barometrik yang terintegrasi. Cocok untuk <em>triathlete</em>.</p>
<p><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-Wu2DjKgSgj0/UW7Ld4OrTAI/AAAAAAAAGMk/ykVsaOdWxZw/s640/tomtom-multi-tri.jpg" alt="" width="640" height="316" /></p>
<p>Pastinya jam tangan ini digunakan untuk menghitung jarak saat berlari, berenang, dan bersepeda. Pengukurannya menggunakan GPS dan juga GLONASS. Selain itu juga menggunakan akselerometer yang terintegrasi di dalam jam tangan. Sehingga tidak membutuhkan sensor sepatu (<em>shoe pod</em>). Juga dapat digunakan di dalam ruangan (<em>indoor</em>) tanpa sinyal GPS. Dengan konektivitas Bluetooth Smart, dapat disandingkan dengan pemantau detak jantung (<em>heart rate monitor</em>). MultiSport dapat pula disandingkan dengan <em>cadence sensor</em> atau <em>speed sensor</em> pada sepeda.</p>
<p>Jam tangan ini dilengkapi dengan koneksi USB. Setelah berolahraga, seperti halnya jam tangan olahraga, data statistik dapat diunggah ke situs layanan <strong>TomTom MySports</strong> ataupun layanan pihak ketiga: MapMyFitness, RunKeeper, TrainingPeaks, dan MyFitnessPal. Ya, tidak bisa terhubung dengan layanan Nike+.</p>
<p>Fitur yang menarik adalah "<em>race yourself</em>", yang memungkinkan kita berlari (atau berenang, atau bersepeda) melawan catatan waktu kita sebelumnya. Semacam "ghost" kalau di <em>game</em> balap.</p>
<p>Perusahaan asal Belanda ini belum mengumumkan harga resmi untuk kedua produk ini. Dijanjikan akan tersedia pada musim panas tahun ini.</p>
<p>Jadi, sepertinya Nike tidak akan membuat penerus Nike+ SportWatch bersama TomTom lagi. Tapi TomTom juga tidak bisa lagi mengandalkan produk navigasi yang terus tergerus oleh <em>smartphone</em> dan <em>tablet</em>.</p>
<p>Tertarik?</p>
]]>
      </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/507/tomtom-runner-multisport-tanpa-nike'>TomTom Runner &amp; MultiSport. Tanpa Nike.</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/507/tomtom-runner-multisport-tanpa-nike'>http://adha.ms/p/507/tomtom-runner-multisport-tanpa-nike</a>. </p><p><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-JjQZwcgYtLA/UW6kI-ScSsI/AAAAAAAAGLs/3jN-Bigy_80/s800/tomtom.jpg" alt="" /></p>
<p>TomTom kali ini meluncurkan sendiri jam tangan GPS. Tanpa kerjasama dengan Nike seperti pada Nike+ SportWatch di tahun 2011. Sepertinya TomTom juga tak mau ketinggalan untuk terjun langsung di pasar jam tangan cerdas untuk olahraga. Sementara Garmin, kompetitor TomTom, sudah lama terjun dan menikmati pasar ini. Polar pun sudah meluncurkan RC3 GPS. Bahkan Motorola terjun dengan MotoACTV. Pasar jam tangan cerdas GPS semakin panas!</p>
<p>Oke, kita tahu kalau Nike+ SportWatch GPS dibuat oleh TomTom, jadi tak perlu diragukan lagi kalau TomTom pun bisa membuatnya sendiri tanpa Nike. Toh, GPS adalah kompetensi TomTom. Maka akan segera diluncurkan <strong>TomTom Runner</strong> dan <strong>TomTom MultiSport</strong>.</p>
<p><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-1VO0R3QuDXI/UW7LdyWHCqI/AAAAAAAAGMg/JZsWl9Y7Xi4/s640/tomtom-multi-swim.jpg" alt="" width="640" height="261" /></p>
<p>Keduanya cenderung mirip, hanya saja TomTom Runner khusus untuk berlari. Sementara TomTom MultiSport juga bisa digunakan untuk bersepeda dan berenang. Tentunya MultiSport sudah tahan air, sementara Runner tidak. MultiSport juga dilengkapi dengan altimeter barometrik yang terintegrasi. Cocok untuk <em>triathlete</em>.</p>
<p><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-Wu2DjKgSgj0/UW7Ld4OrTAI/AAAAAAAAGMk/ykVsaOdWxZw/s640/tomtom-multi-tri.jpg" alt="" width="640" height="316" /></p>
<p>Pastinya jam tangan ini digunakan untuk menghitung jarak saat berlari, berenang, dan bersepeda. Pengukurannya menggunakan GPS dan juga GLONASS. Selain itu juga menggunakan akselerometer yang terintegrasi di dalam jam tangan. Sehingga tidak membutuhkan sensor sepatu (<em>shoe pod</em>). Juga dapat digunakan di dalam ruangan (<em>indoor</em>) tanpa sinyal GPS. Dengan konektivitas Bluetooth Smart, dapat disandingkan dengan pemantau detak jantung (<em>heart rate monitor</em>). MultiSport dapat pula disandingkan dengan <em>cadence sensor</em> atau <em>speed sensor</em> pada sepeda.</p>
<p>Jam tangan ini dilengkapi dengan koneksi USB. Setelah berolahraga, seperti halnya jam tangan olahraga, data statistik dapat diunggah ke situs layanan <strong>TomTom MySports</strong> ataupun layanan pihak ketiga: MapMyFitness, RunKeeper, TrainingPeaks, dan MyFitnessPal. Ya, tidak bisa terhubung dengan layanan Nike+.</p>
<p>Fitur yang menarik adalah "<em>race yourself</em>", yang memungkinkan kita berlari (atau berenang, atau bersepeda) melawan catatan waktu kita sebelumnya. Semacam "ghost" kalau di <em>game</em> balap.</p>
<p>Perusahaan asal Belanda ini belum mengumumkan harga resmi untuk kedua produk ini. Dijanjikan akan tersedia pada musim panas tahun ini.</p>
<p>Jadi, sepertinya Nike tidak akan membuat penerus Nike+ SportWatch bersama TomTom lagi. Tapi TomTom juga tidak bisa lagi mengandalkan produk navigasi yang terus tergerus oleh <em>smartphone</em> dan <em>tablet</em>.</p>
<p>Tertarik?</p> 
]]>
		</content:encoded>
		<wfw:commentRss>http://adha.ms/rss/comment/507</wfw:commentRss>
	</item>
	<item>
		<title>Nokia Asha 302 iSync Phone Plugin</title>
		<link>http://adha.ms/p/506/nokia-asha-302-isync-phone-plugin/</link>
		<guid>http://adha.ms/p/506/nokia-asha-302-isync-phone-plugin/</guid>
		<comments>http://adha.ms/p/506/nokia-asha-302-isync-phone-plugin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2013 13:37:01 +0700</pubDate>
		<dc:creator>Adham Somantrie</dc:creator>
		<description><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/506/nokia-asha-302-isync-phone-plugin'>Nokia Asha 302 iSync Phone Plugin</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/506/nokia-asha-302-isync-phone-plugin'>http://adha.ms/p/506/nokia-asha-302-isync-phone-plugin</a>. </p><p><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-2fb1wsr_UR0/UWr3nHp-_lI/AAAAAAAAGKs/eqlb1bcn7hQ/s640/Asha-iSync-crop.jpg" alt="" width="640" height="299" /></p>
<p>After almost four years, my Nokia E71 is retired. I chose <strong>Nokia Asha 302</strong> as replacement. I still use iPhone 4S as my primary phone. The Asha is just for sidekick, when I needed the keyboard to chat.</p>
<p>As a Mac user, I always use <strong>iSync</strong> from the first time with my PowerBook and <a href="http://adha.ms/p/75/sonyericsson-w850i-and-isync-yes-it-works/">SonyEricsson W850i</a>. Then, I rely to iSync to keep my contacts and calendar synchronized across Mac and phones.</p>
<p>There was Nokia E-series glorious time, and Nokia officially support the Mac platform. I can sync my <a href="http://adha.ms/p/200/nokia-e61i-titanium-black/">Nokia E61i</a> and <a href="http://adha.ms/p/212/nokia-e71/">Nokia E71</a> with official iSync plugins from Nokia. But since the fall of Finnish and the birth of Lumia, there is no more Mac supports.</p>
<p>So, in order to work with "single phonebook", I need to keep my Asha synchorized with Mac (and also iPhone), through iSync.&nbsp;We have got another problem: There is no more iSync since OSX 10.7 Lion. What the...?</p>
<p>First, I have to get iSync for my Lion powered MacBook Pro. Fortunately, I already backed up iSync app (version 3.1.2) from my previous Mac running Snow Leopard.</p>
<p>Then, I had to make iSync phoneplugin to enable support for Asha 302. I took a random phoneplugin for Nokia S40 platform and made some adjustment. After trial-and-error process, finally my iSync can talk with Asha through bluetooth!</p>
<p>If you also had Nokia Asha 302 alongside with Mac. Just grab and extract the plugin, then put the extracted <strong>.phoneplugin</strong> to this folder: "<strong>/Library/PhonePlugin/</strong>". If your Mac do not have the "PhonePlugin" folder, make one. Do not forget to pair the Asha with Mac via bluetooth.</p>
<p>Done, open iSync. Choose "Devices" menu then "Add Device...". You will see that your phone is supported. And please let me know whether this plugin works on yours or not. :)</p>
<p>Download the phone plugin at my DeviantArt: <a href="http://adhamsomantrie.deviantart.com/art/Nokia-Asha-302-iSync-Plugin-365675493">Nokia Asha 302 iSync Phone Plugin</a>.</p>
<p>&mdash;<a href="http://adha.ms/">Adham Somantrie</a>.</p>
]]>
      </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>This post is fetched by feed on 23-May-2013 03:05. Original post of <a href='http://adha.ms/p/506/nokia-asha-302-isync-phone-plugin'>Nokia Asha 302 iSync Phone Plugin</a> can be reached at <a href='http://adha.ms/p/506/nokia-asha-302-isync-phone-plugin'>http://adha.ms/p/506/nokia-asha-302-isync-phone-plugin</a>. </p><p><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-2fb1wsr_UR0/UWr3nHp-_lI/AAAAAAAAGKs/eqlb1bcn7hQ/s640/Asha-iSync-crop.jpg" alt="" width="640" height="299" /></p>
<p>After almost four years, my Nokia E71 is retired. I chose <strong>Nokia Asha 302</strong> as replacement. I still use iPhone 4S as my primary phone. The Asha is just for sidekick, when I needed the keyboard to chat.</p>
<p>As a Mac user, I always use <strong>iSync</strong> from the first time with my PowerBook and <a href="http://adha.ms/p/75/sonyericsson-w850i-and-isync-yes-it-works/">SonyEricsson W850i</a>. Then, I rely to iSync to keep my contacts and calendar synchronized across Mac and phones.</p>
<p>There was Nokia E-series glorious time, and Nokia officially support the Mac platform. I can sync my <a href="http://adha.ms/p/200/nokia-e61i-titanium-black/">Nokia E61i</a> and <a href="http://adha.ms/p/212/nokia-e71/">Nokia E71</a> with official iSync plugins from Nokia. But since the fall of Finnish and the birth of Lumia, there is no more Mac supports.</p>
<p>So, in order to work with "single phonebook", I need to keep my Asha synchorized with Mac (and also iPhone), through iSync.&nbsp;We have got another problem: There is no more iSync since OSX 10.7 Lion. What the...?</p>
<p>First, I have to get iSync for my Lion powered MacBook Pro. Fortunately, I already backed up iSync app (version 3.1.2) from my previous Mac running Snow Leopard.</p>
<p>Then, I had to make iSync phoneplugin to enable support for Asha 302. I took a random phoneplugin for Nokia S40 platform and made some adjustment. After trial-and-error process, finally my iSync can talk with Asha through bluetooth!</p>
<p>If you also had Nokia Asha 302 alongside with Mac. Just grab and extract the plugin, then put the extracted <strong>.phoneplugin</strong> to this folder: "<strong>/Library/PhonePlugin/</strong>". If your Mac do not have the "PhonePlugin" folder, make one. Do not forget to pair the Asha with Mac via bluetooth.</p>
<p>Done, open iSync. Choose "Devices" menu then "Add Device...". You will see that your phone is supported. And please let me know whether this plugin works on yours or not. :)</p>
<p>Download the phone plugin at my DeviantArt: <a href="http://adhamsomantrie.deviantart.com/art/Nokia-Asha-302-iSync-Plugin-365675493">Nokia Asha 302 iSync Phone Plugin</a>.</p>
<p>&mdash;<a href="http://adha.ms/">Adham Somantrie</a>.</p> 
]]>
		</content:encoded>
		<wfw:commentRss>http://adha.ms/rss/comment/506</wfw:commentRss>
	</item>
</channel>
</rss>