Are you currently viewing from mobile device? Switch to mobile version!

Adham Somantrie

Digital media communications. MBA student. Techie. Founder of siteo.us. Editor for MakeMac. And also a runner.

hi@adha.ms adhams @adhams @adham adhams Adham Somantrie Adham Somantrie

Nike+ Tak Lagi Eksklusif Milik Pelari

Sejak kemunculannya di tahun 2006, Nike+ telah banyak dikenal sebagai alat bantu ukur lari. Tak heran kalau Nike+ sudah sangat identik dengan olahraga lari. Di musim panas 2012 ini, Nike+ dibawa ke tingkat yang lebih tinggi dengan banyak perbaikan dan fitur baru, termasuk situs nikeplus.com. Selain itu, Nike+ saat ini juga sudah merambah olahraga lain selain lari.

Dengan Nike+ FuelBand yang diperkenalkan beberapa waktu lalu, tidak harus berlari untuk membakar kalori dan mencatatkan ke Nike+. Kini, diperkenalkan juga Nike+ Training dan Nike+ Basketball. Sehingga para penggemar gym dan pemain basket pun kini dapat merekam aktivitas mereka dengan Nike+. Kecepatan gerak, ataupun ketinggian lompatan kini bisa tercatat dengan Nike+. Selain itu, juga ada "paket" pelatihan (coaching) untuk membimbing Anda dalam berlatih.

Kilometer (atau miles) bisa dibilang sudah menjadi "mata uang" standar yang digunakan dalam Nike+ dalam 6 tahun terakhir. Ini tentunya tidak adil untuk Nike+ Basketball dan Nike+ Training. Untuk itu, Nike akan menggunakan mata uang NikeFuel sehingga dapat digunakan dalam lintas olahraga. Jadi, para pelari bisa bertanding adu banyak NikeFuel dengan pemain basket ataupun pengguna FuelBand dalam Nike+ Challenge.

Nike+ Basketball dan Nike+ Training menggunakan sepatu dengan sensor baru (Nike+ Sport Sensor) yang berbeda dengan sensor sepatu untuk berlari (Nike+ Running Sensor). Sensor baru ini bekerja dengan protokol Bluetooth (sensor sepatu menggunakan protokol khusus Nike+). Hanya saja, saat ini sensor baru ini baru bisa bekerja dengan iPhone. Tidak seperti Nike+ Running (sebelumnya Nike+ GPS) yang saat ini sudah tersedia juga untuk Android.

Memang sejak diintegrasikannya pedometer pada iPod nano generasi kelima Nike+ dapat dipergunakan tanpa harus berlari. Adalah Nike+ Active yang sudah lama mempergunakan mata uang NikeFuel untuk "bermain" dalam situs ini. Jadi, NikeFuel sebenarnya bukanlah hal yang baru.

Satu hal yang saya rasa tanggung, yakni dukungan terhadap perangkat pemantau detak jantung (heartrate monitor). Aplikasi Nike+ Training dan Nike+ Basketball tidak mendukung hal ini. Walaupun mungkin informasi detak jantung tidak sepenting saat berlari, namun akan lebih jika ada dukungan ini. Mungkin di masa mendatang Nike+ akan menambahkan dukungan terhadap pemantau detak jantung berbasis Bluetooth.

Satu lagi yang cukup revolusioner: Nike+ Kinect Training. Ya, Kinect merupakan teknologi yang dikembangkan Microsoft untuk konsol XBOX 360. Layaknya Nintendo Wii Fit, dengan Nike+ Kinect Anda bisa berolahraga di depan XBOX yang akan terukur oleh Nike+. Tak lupa, Anda juga bisa membuat jadwal latihan Anda. Hanya saja, baru akan tersedia sekitar akhir tahun ini.

Berikut adalah perangkat Nike+ yang tersedia per Juni 2012.

Jadi, sekarang ekosistem Nike+ tidak lagi milik para pelari saja. Dan, sudah semakin banyak pilihan perangkat dan gawai (gadget) untuk bergabung ke ekosistem Nike+. Yang masih saya tunggu adalah Nike+ yang bisa untuk digunakan bersepeda. Mari kita tunggu saja.

Adham Somantrie (AdhamPlus).

0 Comments

Published on 2012-07-01 09:52:24. 1353 views.
Tagged in: lari nikeplus run

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Berlari Nyaman dan Ringan

Olahraga lari ataupun jogging tentu lebih enak jika didukung dengan sepatu yang baik pula. Walaupun memang ada beberapa kalangan yang suka berlari dengan nyeker alias kaki telanjang (barefoot), tetapi ini tidak umum. Umumnya semua sepatu olahraga bisa digunakan untuk berlari. Tapi sangat tidak disarankan untuk berlari dengan sepatu yang bukan didesain untuk berlari, misalnya sepatu basket atau sepatu kasual. Untuk yang jarak tempuhnya sudah cukup lumayan, sangat disarankan untuk menggunakan sepatu khusus berlari untuk menghidari cidera dan menjaga kesehatan kaki.

Kali ini saya mencoba sepatu yang didesain khusus untuk lari jarak menengah, League Volans. Dibuat untuk lomba lari 5K dan 10K. Cocok untuk digunakan oleh pelari rekreasional, serius, hingga profesional yang menapaki jalan raya maupun treadmill.

Untuk meningkatkan performa pelari, maka sepatu ini didesain dengan bahan yang tipis serta tembus udara (AirQuick) agar kaki terasa lebih "segar" dan sejuk dengan udara yang mengalir. Massa sepatu ini hanya 220 gram, ringan kan?

Untuk lari berdurasi di bawah 1 jam, tidak diperlukan bantalan (cushion) yang terlalu empuk agar bisa mendukung stabilitas dalam berlari (stable run). Setelah mencoba berlari selama 30 menit, saya tidak mendapati cidera ataupun keluhan pada kaki. Walaupun dilengkapi bantalan yang cukup empuk (CushLITE), tidak membuat sepatu ini menjadi berat. Tapak juga tidak licin serta menapak lembut di jalan raya (aspal), sehingga nyaman selama digunakan untuk berlari.

Selain untuk berlomba (baik itu 5K maupun 10K), sepatu ini juga cocok untuk digunakan dalam aktivitas lari jarak menengah maupun pendek seperti latihan interval dan tempo run. Saya sendiri menggunakan sepatu ini untuk lari pagi sebelum beraktivitas pada hari kerja. Nah, terkait lari subuh-subuh ini, yang saya suka dari League Volans adalah adanya bahan reflektif (reflective materials) yang akan memantulkan cahaya. Jadi, kalau berlari di pagi buta atau di malam hari, relatif lebih aman dari kendaraan bermotor karena lebih terlihat.

Hanya saja, karena sepatu ini didesain untuk berlari, tentu saja tidak direkomendasikan untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari diluar olahraga atletik.

Dan karena sepatu ini diproduksi di dalam negeri (ya, buatan Indonesia), tentunya lebih sesuai untuk digunakan di iklim tropis Indonesia dan sesuai dengan karakteristik fisik orang Indonesia. Pastinya karena tidak diimpor, harga juga jauh lebih menarik: ditawarkan Rp.399.000. Berminat? Tersedia dalam 4 pilihan warna yang bisa Anda selaraskan dengan baju maupun celana di League Store agar serasi dan modis.

Adham Somantrie.

14 Comments

Published on 2012-07-10 16:59:28. 2946 views.
Tagged in: lari run

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Starbucks Refreshers: Minuman Energi atau Kopi?

Starbucks Refreshers

Kaitan antara nama Starbucks dan kopi tak bisa dipisahkan lagi. Dalam tulisan sebelumnya mengenai logo baru Starbucks di awal 2011, saya sempat menyinggung tentang hilangnya tulisan "coffee" dalam logo baru tersebut. Ya, ada kemungkinan Starbucks akan lebih dari sekedar kopi. Setelah sebelumnya meluncurkan VIA, produk kopi dalam format bungkusan (sachet). Kini Starbucks merambah minuman energi.

Starbucks Refreshers adalah minuman energi yang merupakan produk terbaru dari Starbucks. Tersedia dalam 3 format penyajian: disajikan di kedai (handcrafted), kemasan siap minum (ready to drink), dan VIA (sachet cepat saji).

Memang, sebelumnya Starbucks juga sudah menawarkan produk-produk non-kopi seperti minuman berbasis susu dan teh, serta roti dan cake.

Oke, mendengar bisnis minuman energi, mungkin beberapa dari Anda akan teringat pada Cola Wars. Ya, persaingan antara Coca-Cola dan Pepsi dalam minuman berkarbonasi yang membuat bisnis mereka ekspansi ke minuman energi, teh, sari buah, hingga minuman isotonik. Untuk pasar minuman kopi (bukan serbuk kopi), posisi Starbucks saat ini masih cukup kuat secara global. Namun, minuman energi juga merupakan langkah bagus.

Nah, tapi apakah Starbucks punya kompetensi kuat di pasar minuman energi? Kuncinya adalah kafein. Sebagian besar minuman energi mengandung kafein kan? Dan, ketika mendengar kata "kafein", tentunya akan identik dengan "kopi" bukan?

Sudah dapat hubungannya? Ya, Starbucks Refreshers menjadi minuman energi yang kafeinnya berasal dari biji kopi yang tidak digoreng/dipanggang (roasted). Mereka menyebutnya dengan ekstrak kopi hijau (green coffee extract). Jadi ini masih "kopi" juga, hanya saja dalam bentuk yang tidak umum. Terdengar lebih alami dan herbal?

Kembali ke pasar minuman energi. Persepsi alami dan herbal menjadi satu modal kuat untuk Starbucks memasuki pasar ini. Selain itu, juga menjadi komplementer bagi penikmat kopi Starbucks yang sebelumnya masih mengkonsumsi minuman energi dari produsen lain untuk beralih ke Starbucks Refreshers. Apalagi tersedia dalam 3 format, sehingga lebih bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

Untuk yang tidak suka dengan aroma maupun rasa kopi, Starbucks Refreshers ini diklaim memiliki rasa yang berbeda dari "kopi biasa". Malah disediakan dalam beberapa pilihan rasa buah-buahan. Tentunya ini memberikan tambahan pilihan "rasa" yang tersedia di kedai selain kopi, teh, dan susu. Ingin menjajal? Mari kita tunggu saja kapan produk ini masuk ke kedai Starbucks di Indonesia. Karena ini minuman energi, mungkin butuh waktu yang lebih lama untuk masuk ke setiap negara karena regulasi yang berbeda-beda dari setiap institusi otoritas obat dan pangan (FDA, POM, dsb).

Berhasilkah Starbucks menjajal pasar minuman energi? Mari kita lihat dalam beberapa tahun ke depan.

Adham Somantrie.

7 Comments

Published on 2012-07-11 10:42:30. 1117 views.
Tagged in: brand business marketing starbucks

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Tetap Berlari di Bulan Puasa

Menyambut bulan puasa, tentunya selain perihal ibadah, penyesuaian fisik tentunya perlu diperhatikan untuk yang gemar berolahraga. Tak terkecuali untuk pelari. Agar ibadah dan puasa tidak terganggu, tapi olahraga tetap jalan terus untuk menjaga kesehatan.

Waktu yang saya sarankan untuk berlari adalah sore hari menjelang berbuka. Sehingga Anda bisa langsung berbuka ketika selesai berlari. Hitung estimasi lari Anda. Misalnya Anda akan berlari selama 30 menit, ditambah dengan masing-masing 10 menit pemanasan dan pendinginan, (total waktu 50 menit), maka mulailah lari 50-60 menit sebelum adzan magrib.

Ada juga yang menyarankan untuk berlari di malam hari (night run). Tetapi biasanya malam hari digunakan untuk beribadah sholat tarawih. Sehingga Anda harus memilih salah satunya. Atau, berlari setelah sholat tarawih. Walaupun sepertinya sudah terlalu malam. Anda juga butuh istirahat yang cukup.

Yang perlu diingat adalah kondisi tubuh Anda sendiri. Perhatikan tanda-tanda dan gejala yang ada di tubuh Anda, listen to your body. Karena sedang berpuasa, metabolisme biasanya menjadi lebih lambat, selain itu kalori yang ada di dalam tubuh juga cenderung lebih sedikit. Begitu juga dengan hidrasi. Jadi, jangan pernah memaksakan untuk berlari layaknya di hari biasa. Ketika sudah merasa dehidrasi, sudahi lari Anda agar tidak berujung batalnya puasa karena minum untuk hidrasi.

Untuk jarak, lakukan hanya setengah dari jarak yang biasa Anda lakukan. Kecepatan sebaiknya dikurangi sekitar 20% agar Anda tidak cepat lelah. Lagi-lagi ini untuk tetap menjaga puasa Anda. Tentunya, puasa Anda lebih penting. Jangan sampai puasa Anda terganggu hanya karena untuk berlari.

Anda punya tips yang lain? Silakan mengisi kolom komentar di bawah.

Adham Somantrie.

5 Comments

Published on 2012-07-20 16:24:12. 1020 views.
Tagged in: lari puasa run

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Pit Stop Infiniti Red Bull Racing F1

Tak bisa dipungkiri lagi, dengan kemajuan teknologi mekanis, elektrik, serta informasi dan komunikasi, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dengan lebih cepat. Dunia pun berputar lebih cepat, walau bukan secara harfiah. Kita bisa melakukan lebih banyak hal dalam 24 jam dibanding beberapa dekade yang lalu.

Yang membuat balapan F1 menarik selain teknologi yang digunakan adalah soal kecepatan. Baik itu kecepatan kendaraan, maupun kecepatan bekerja tim. Juga soal akurasi. Ketepatan sang pembalap dan juga strategi dalam berlomba. Di dalam lomba, setiap detik menjadi begitu berarti. Bahkan milidetik pun bisa mempengaruhi hasil lomba. Tak heran jika penonton acapkali memperhatikan dengan seksama setiap lomba F1. Perubahan posisi dapat terjadi hanya dalam kedipan mata saja.

Setiap mobil F1 bisa dipastikan masuk ke pit stop dalam setiap perlombaan. Tentunya ini akan menghabiskan waktu. Memang tidak lama, tapi setiap milidetik dalam perlombaan adalah sangat berharga. Karena itu, kru harus bekerja dengan sangat, sangat, sangat cepat dan akurat ketika mobil memasuki pit stop agar durasi waktu yang terpakai menjadi sangat minim. Zero fault tolerance, akurasi harus 100%. Sedikit kesalahan dalam perlombaan bisa berakibat mobil tidak berhasil menyentuh garis finish. Bahkan lebih parah lagi, bisa menyebabkan kecelakaan.

Ah, itu kan perlombaan F1. Kita bukanlah pembalap F1. Bahkan tergabung dalam tim saja tidak. Mungkin hanya sekedar penikmat lomba F1 di layar kaca atau gelaran nonton berjamaah.

Namun, bukan berarti kita tidak harus bekerja dan menjalani hidup dengan cepat dan akurat. Bagaimanapun, kinerja (performance) kita dalam bekerja sangat penting. Dengan bekerja cepat dan akurat, akan meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan memberikan hasil kerja yang lebih baik.

Ya, mungkin kita perlu belajar dari pit stop tim Red Bull Racing F1. Bekerja dengan cepat, akurat, dan tak lupa kerjasama tim yang baik untuk mengantarkan Infiniti menjadi mobil pertama yang mencapai garis finish.

Jadi, apakah Anda akan menggerakkan hidup seperti roda pedati ataukah roda mobil Infiniti milik tim Red Bull Racing F1 yang berputar kencang?

— Adham Somantrie

2 Comments

Published on 2012-07-24 12:47:26. 1075 views.
Tagged in: infiniti otomotif

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Post-PC Era #1: Studi Kasus Nike+

Post-PC Era didengungkan oleh Apple tahun lalu saat peluncuran iOS 5. Benarkah era "kematian PC" sudah dimulai? Ah, banyak spekulasi terkait ini. Apalagi banyak pemain besar PC yang tidak setuju. Tentunya, kalau industri PC mati, maka bisnis mereka pun ikut mati. Intel termasuk yang cukup keras menentang pernyataan Apple ini. Sementara Apple sendiri sepertinya tidak akan terlalu pusing jika Mac harus mati. Karena kini Mac bukan lagi penyumbang pendapatan terbesar Apple.

Oke, tulisan ini akan saya bagi dalam beberapa bagian mengingat akan banyak sudut pandang yang bisa diambil. Untuk seri perdana, saya akan membahas studi kasus Nike+ dalam era pasca-PC.

Nike+ pertama kali muncul di platform iPod. Tentu saja, karena iPod (tidak termasuk iPod Touch) tidak punya koneksi internet mandiri, iPod akan membutuhkan iTunes pada PC (atau Mac). Ya, iPod merupakan produk era PC, bukan era pasca-PC, tak heran kalau iPod selalu membutuhkan iTunes. Memang didesain seperti itu: "iPod and iTunes. Born to be together".

Begitu juga dengan penerapan Nike+ iPod di iPhone (dan iPod Touch), awalnya tetap membutuhkan iPod. Namun, sejak iOS 4 Nike+ iPod dapat langsung terhubung ke server Nike+ tanpa iTunes. PC-free. Bahkan sejak iOS 5, data Nike+ iPod di iPhone tidak bisa lagi diunggah melalui iTunes.

Dengan aplikasi Nike+ Running (sebelumnya Nike+ GPS), selain untuk menghitung jarak lari, kini juga semakin lengkap dengan fitur untuk membaca statistik dan catatan lari. Tidak perlu lagi menggunakan peramban (browser) baik di iPhone atau di PC. Semuanya bisa dilakukan dengan aplikasi ini, langsung di ponsel (iOS & Android).

Jadi, tanpa keterlibatan PC, tampak lebih mudah dan praktis. Kecuali untuk pengguna Nike+ di iPod nano, masih membutuhkan iTunes.

Berikutnya, Nike+ Sport Sensor, generasi baru dari Nike+ Sensor yang bisa digunakan untuk training dan olahraga basket, tentunya semakin canggih dengan aplikasi interaktif di iPhone. Dan langsung terhubung ke internet melalui iPhone tanpa perlu keterlibatan PC.

Begitu juga dengan Nike+ Fuelband. Walaupun tersedia konektor USB seperti Nike+ Sportband maupun Nike+ Sportwatch, tapi Fuelband ini dapat langsung terhubung dengan iPhone melalui bluetooth untuk mengunggah data statistik penggunaan. Lagi-lagi, dapat dilakukan tanpa perlu menggunakan PC.

Nah, melihat studi kasus ini, kita sadari bahwa dengan semakin cerdasnya ponsel (dan tablet) dalam beberapa tahun ini telah mengambil alih fungsi dan tugas yang biasanya kita lakukan di PC. Apalagi dengan era internet dan web 2.0, serta maraknya komputasi awan (cloud computing), bisa jadi beberapa tahun ke depan kita tidak membutuhkan PC lagi.

Di tulisan berikutnya saya akan membahas tentang masa depan Mac di era pasca-PC.

Adham Somantrie

0 Comments

Published on 2012-07-30 09:28:36. 846 views.
Tagged in: nikeplus post-pc

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Energi Komputasi yang Buas dan Cadas

Coba kita kembali ke beberapa dekade silam. Masa di mana komputer adalah barang kaku dan serius. Dan tak lupa warna khas beige yang seragam dan membosankan. Komputer hanyalah mesin fungsional dan operasional. Tapi lihat sekarang? Produsen menawarkan komputer tidak hanya fungsinya, tetapi juga sisi emosional dan "energi kreatif" manusia. Komputer tidak lagi sekedar kompulan komponen elektronik, tetapi lebih manusiawi: sahabat, bahkan asisten pribadi. Bahkan memilih komputer saat ini sudah seperti memilih pakaian karena banyak pilihan warna, dan tentunya modis.

Inilah sesungguhnya yang dinamakan personal computer. Ada sentuhan personality. Bukan sekedar bahwa satu komputer hanya dimiliki dan digunakan oleh satu orang saja.

Sebagai barang pribadi atau personal belongings, dewasa ini komputer selain tampil modis, pun menjadi refleksi karakter dari sang pemilik. Misalnya untuk gadis muda belia akan menggunakan laptop berwarna pink sesuai jiwanya yang girlie. Atau misalnya kaum eksekutif dan pebisnis akan menggunakan laptop yang tampil elegan. Beda pribadi, beda karakter, dan beda pula komputernya. It is all about personality. Because it's me.

Saya sendiri termasuk rewel dalam memilih komputer yang akan dibeli. Bisa dibilang sangat selektif dan picky. Salah satu syarat dalam memilih laptop adalah "berkarakter". Jadi tidak hanya fungsi, tapi harus menyesuaikan dengan kebutuhan, penggunaan, lingkungan kerja, serta gaya hidup dan behaviour saya pribadi. Saya butuh laptop berkarakter powerful and energic.

Diablo III adalah game yang saya tunggu-tunggu kehadirannya sejak 1 dekade yang lalu. Ya, 10 sejak tahun yang lalu. Selama 10 tahun terakhir saya jarang memainkan game. Paling hanya Farmville beberapa tahun lalu, dan sekarang saya hanya menikmati game di iPhone saja.

Namun, dengan hadirnya game yang saya nantikan bertahun-tahun ini, maka saya membutuhkan komputer yang tidak hanya powerful, tetapi mengantarkan "energi" tambahan dalam menggunakannya. Laptop yang bisa memenuhi impian saya itu adalah Sony VAIO E 14P. Kemampuan komputasi dengan Core i7 terbaru dan Radeon HD 7670M tentunya tidak perlu diragukan lagi. Apalagi layarnya cukup lega, 14 inci. Kalau masih kurang lega, tinggal dihubungkan ke HDTV dengan HDMI. And I will play Diablo 3 just like I am coming inside the Diablo's hell.

Yang menarik, tidak hanya energi dari mesin yang ada di dalam laptop itu saja. Melainkan outfit yang benar-benar memancarkan aura dinamis dan energis. Balutan warna hitam kelam dengan aksen merah menyala tentunya akan memompa adrenalin dan membakar semangat tidak hanya dalam bermain game, namun dalam mengekspresikan diri di kehidupan sehari-hari. It is fast and furious.

Semangat membara juga akan memperkuat mental kita dalam menghadapi tantangan. Sama seperti lari jarak jauh. Kekuatan fisik tidak cukup jika tidak diimbangi dengan mental yang mantap. Ini saya buktikan baik saat lomba Adidas King of the Road (16.8 km) 2011, Singapore Marathon 2011, maupun lari half-marathon (21 km) tak resmi di Mega Kuningan. You have to be an energetic to finish strong!

Kurang gahar? Mari kita lengkapi kebuasan tersebut dengan musik cadas untuk mendidihkan darah hingga berpijar. Terima kasih untuk teknologi xLOUD yang membuat suara semakin beringas! Put the Rammstein's songs in the playlist!

Ah, iya. Biar makin seru, matikan lampunya sekalian! Dan ini yang saya suka, illuminated keyboard. Jadi tidak perlu rempong lagi kalo ngetik gelap-gelapan. Jajaran tombol-tombol akan bersinar menyala. Cihuy!

Salah satu langkah berani Sony pada VAIO dan CyberShot adalah menghilangkan eksklusivitas MemoryStick dengan mengadopsi standar SD Card. Tak bisa dipungkiri lagi kalau kartu SD  adalah standar pemenang. Jangankan MemoryStick besutan Sony, standar Compact Flash yang biasa digunakan pada kamera DSLR pun tergeser. Jadi, tinggal tancapkan kartu SD saja. Praktis tanpa pembaca kartu tambahan.

Sejujurnya, saya tidak suka dengan desain yang futuristik dan robotik. Ala mecha misalnya. Begitu juga dengan desain ala monster atau alien yang entah kenapa saya rasa malah terkesan "urakan". Saya lebih menggemari desain yang minimalis. Terkesan ramping, lincah, dan efisien sesuai dengan gaya hidup yang dinamis.

Selain memenuhi kebutuhan komputasi, komputer saat ini juga bisa mengakomodasi keinginan pemiliknya untuk mengekspresikan diri dan menyatakan karakter. Because it's me. Komputer yang merefleksikan pemiliknya. Bukan hanya menjadi mesin ataupun alat bantu, melainkan menjadi "pelengkap" hidup dan sahabat bagi pemiliknya. Menjadi mood booster, penyemangat, juga memberikan tambahan rasa percaya diri. Because it's me and my life.

Tak jarang pula pemilik yang memberikan "nama panggilan sayang" untuk komputer atau gawai (gadget) yang mereka miliki. Itu karena mereka memiliki ikatan emosional dengan barang-barang tersebut. Karena komputer pun bisa memberikan nilai tambah dan arti tersendiri dalam kehidupan sang pemilik.

Jadi, selamat tinggal wahai komputer kaku dan membosankan.

Adham Somantrie

3 Comments

Published on 2012-07-31 14:19:28. 871 views.
Tagged in: sony vaio

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Ads

Archive

2004SeptemberOktoberNovemberDesember

2005JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2006JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2007JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2008JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2009JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2010JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2011JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2012JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2013JanuariFebruariMaretAprilMei

2004 - 2013Full Archive

© 2003 - 2013, Adham Somantrie. Bandung and Jakarta, Indonesia.
Built with Bootstrap. Made on Mac.