Are you currently viewing from mobile device? Switch to mobile version!

Adham Somantrie

Digital media communications. MBA student. Techie. Founder of siteo.us. Editor for MakeMac. And also a runner.

hi@adha.ms adhams @adhams @adham adhams Adham Somantrie Adham Somantrie

Identitas Kecemasan

Di beberapa kegiatan fisik luar ruangan (outdoor), resiko terjadi kecelakaan tentu saja ada. Dalam beberapa situasi, dibutuhkan adanya informasi darurat dan vital seperti identitas diri serta keterangan mengenai kondisi medis untuk memudahkan penanganan.

Mirip dengan pasien rawat inap di rumah sakit yang diberikan tanda pengenal di ranjang dan juga gelang. Ini memudahkan petugas untuk mengetahui nama dan data medis pasien dengan cepat, tanpa perlu bertanya kepada pasien, misalnya saat pasien kehilangan kesadaran, atau tanpa perlu memeriksa ke pusat informasi pasien (data center).

Saat mengikuti KOTR dan SCSM tahun lalu, selain data pribadi, pada pendaftaran juga ditanyakan golongan darah, kondisi medis, serta kontak untuk keadaan darurat. Informasi ini juga dicetak di belakang nomor dada (bib). Jadi, jika terjadi kecelakaan dengan peserta lomba, maka tim medis dapat dengan lebih sigap menangani berdasarkan data yang ada.

Tidak semua lomba lari di Indonesia sebaik itu. Dan seperti di awal tulisan, semua aktivitas luar ruangan beresiko. Apalagi ketika kecelakaan terjadi tidak ada keluarga atau teman di sana, maka tidak ada yang bisa dijadikan sumber informasi mengenai diri korban. Untuk itu, penggunaan identitas kecemasan (emergency identity) perlu dipertimbangkan.

Beberapa penggunaan identitas kecemasan ini adalah dengan kalung anjing (dog tag) atau gelang. Penggunaan di kalangan militer juga sudah umum. Informasi yang perlu dicantumkan antara lain nama lengkap, golongan darah, alergi, kondisi medis khusus jika ada, serta nama dan kontak darurat. Di negara maju, identitas tunggal seperti nomor jaminan sosial (social security number) bisa digunakan karena tidak akan berubah seumur hidup. Di Indonesia, mungkin baru bisa kita pakai kalau nanti proyek e-KTP berhasil diimplementasikan.

Terakhir, musibah itu bisa datang kapan saja. Jadi tidak perlu menunggu lomba untuk menggunakan identitas kecemasan ini. Sedia payung sebelum hujan.

— Adham Somantrie.

11 Comments

Published on 2012-04-17 14:03:22. 1675 views.
Tagged in: lari run

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Time to Replace Nike+ SportBand, or Not?

I missed last Sunday morning run. Then, I did the next day (16/04), Monday morning run in Mega Kuningan district of Jakarta. Met Asep Hadian that was train for his first marathon, but I just did easy jog for 3.2 km. Everything is fine, as usual. I tracked my run with Nike+ Sportband paired with shoe sensor and Polar Wearlink+ heartrate monitor.

Finished the run, and bought breakfast in the neighbourhood. As usual, over the breakfast, I plugged the SportBand (technically, the unit is called SportBand Link) to my MacBook's USB port to sync the data and read the statistics.

The Link's display showed "CHRG" (which means it is currently charging the battery), but the Nike+ Connect did not shown up nor launched. I unplugged the Link and plugged it to another USB port. Still "CHRG", and still no Nike+ Connect. I launched Nike+ Connect app manually. It said there's no device plugged. Then, I restarted my Mac, to make sure my Mac is okay.

While the Mac was restarting, I cleaned the "USB electrode" on the Link. Maybe the electrode was dirty and caused the USB data not connected to the computer. After the reboot, the problem still happened: not detected. Then I launched the Nike+ Connect app manually, and still said there's no device plugged.

After waiting for few minutes, the Nike+ Connect finally "detect" my SportBand link. But, it said that my link was in "unusable state" and its firmware had to be "updated". Then, I followed the instruction to update it. While updating the firmware, the Link's screen show scramble (randomized pixel), but the firmware update process still running. I waited until the process finished.

When the update finished, the Link's screen goes blank. No response when I push any button on the Link. Nike+ Connect app also did not detect the link when plugged to the Mac's USB. Link's display still blank.

I tweeted this case, and @nikeplus recommended to do the "reset" with holding both toggle and record button for 10 seconds. I did it, and nothing happened. Display is still blank.

I bought my SportBand in December 2009 from Nike Store Sun Plaza, Medan. It has tracked my run for more than 800 km, and also thousands heartbeats. If people mostly got the sensor dead first, not on my case. The bundled sensor still works well. In recent weeks, the SportBand not shows any symptoms. Even battery issues. So, I don't think the battery is dead.

Okay, my SportBand is considered dead. I still have my iPhone 3GS that I can use to track my run, paired with the shoe sensor. But, I can't paired the iPhone with heartrate monitor. So, the Polar heartrate would be useless. Should I buy the new Nike+ SportBand? Probably yes since I prefer to use SportBand that bringing iPhone while running. Even with the armband.

SportBand is relatively outdated. Moreover when SportWatch with GPS tracking is available. Both SportBand and SportWatch are compatible with my Polar heartrate. So, SportWatch is also a nice alternative, especially after the price was cut from 199 USD to 169 USD, it becomes more interesting upgrade of SportBand.

Would I buy Nike+ SportWatch? As an upgrade, yes. But, since it is currently not available in Nike Store Indonesia and @nikeplus have not yet announced a release date for the Nike+ SportWatch GPS in Indonesia, I have to buy it from Amazon. It will cost more for shipping, and I have to wait for couple week. Even with price-cut, it costs more than twice of Sportband. This could be another investment consideration.

Another consideration is related to my vision to be a triathlete. SportWatch currently just can track running. It can't used to track cycling and swimming. But, since it uses GPS, technologically it is possible to track cycling. It just the matter of software. According the Nike's move to training and basket ball for Nike+ product line, it is possible that Nike will exploring the triathlete domain. With firmware update, SportWatch is possible to track cycling. But since SportWatch can not be used for swimming, perhaps Nike will launch the "upgrade" in the future that could used for triathlon. Nike TriWatch, perhaps?

So, for a while I'll just stick with the iPhone and armband.

— AdhamPlus.

5 Comments

Published on 2012-04-19 15:01:56. 4925 views.
Tagged in: lari nikeplus run

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Konsumsi Bahan Bakar Yamaha Mio J

Yamaha Mio J merupakan penerus dari Yamaha Mio. Selain dimensinya yang lebih panjang dan bagasinya yang lebih besar serta penampilannya yang telah diremajakan, kekuatan Mio J yang paling signifikan adalah penggunaan injektor bahan bakar. Penggunaan sistem injeksi yang menggantikan karburator dalam mencampur bahan bakar diklaim mampu menekan konsumsi bahan bakar karena campuran dan pembakaran yang lebih sempurna. Seberapa iritkah Yamaha Mio J ini? Berikut pengalaman saya sebagai pemilik dan pengguna Yamaha Mio J terkait konsumsi bahan bakar skuter matik ini.

Saat pertama kali Mio J diantarkan oleh pihak Yamaha, tangki bahan bakar sudah diisi penuh. Saya tidak punya informasi akurat mengenai bahan bakar yang diisikan, tapi saya berasumsi Pertamina Premium. Mio J digunakan berkendara di dalam kota Jakarta baik sendirian maupun berboncengan. Tentunya sudah termasuk fitur "macet" khas ibukota. Jadi jangan berharap bisa mendapatkan angka yang maksimal khas jalanan luar kota.

Pertama kali saya mengisi bahan bakar adalah pada saat odometer menunjukkan angka 147.2 km. Pengisian dilakukan di SPBU Pertamina Jalan Gatot Subroto, di dekat Balai Kartini. Pengisian Pertamax terukur 3.90 liter.

Jadi kalau mau dihitung, maka 1 liter premium bisa menempuh jarak 37.74 km. Tetapi perhitungan ini tidak valid, karena motor sering dipanaskan tanpa dijalankan. Jadi, mari kita hitung di pengisian berikutnya.

Pengisian bahan bakar kedua, saya lakukan saat odomoter menunjukkan angka 319.6 km. Tetap konsisten dengan Pertamax dari SPBU yang sama pula (bahkan dari dispenser yang sama) untuk konsistensi akurasi pengukuran. Angka yang ditunjukkan oleh dispenser adalah 3.92 liter.

Mari lakukan matematikanya. Pertamax telah dikonsumsi oleh skutik ini sebanyak 3.92 liter untuk menempuh jarak 172.4 km (319.6 - 147.2 km). Maka rata-rata 1 liter dihabiskan untuk menempuh 43.98 km.

Saya melakukan kedua isi ulang BBM ini saat jarum indikator BBM sudah di bawah garis merah. Kalau memang benar klaim Yamaha mengenai kapasitas penuh tangki sebesar 4.8 liter, maka saat jarum sudah menyentuh garis merah artinya di dalam tangki masih ada sekitar 1 liter bahan bakar (reserved). Maka, saat indikator sudah "merah", Anda masih punya 43.98 km untuk mencari SPBU di Jakarta (jika Anda menggunakan Pertamax).

Catatan penting terkait akurasi:

Pengukuran volum bahan bakar mengandalkan alat ukur dari mesin dispenser Pertamina yang tersertifikasi "Pasti Pas", tentunya setiap alat ukur punya toleransi ukur. Begitu juga dengan penunjukkan angka digital, ketelitian hanya sampai 0.01 liter.

Pengukuran jarak hanya mengandalkan odometer dengan tingkat akurasi akan dipengaruhi juga oleh ukuran dan kondisi tekanan angin ban depan. Untuk jenis ban yang digunakan masih standar bawaan pabrik, jadi tingkat akurasinya belum berubah. Ketelitian angka odometer hanya sampai 0.1 km (100 meter).

Jenis bahan bakar terkait oktan juga mempengaruhi jarak tempuh per liternya. Saya menggunakan Pertamax untuk menyesuaikan kompresi mesin yang diklaim Yamaha, 9.3:1.

Sekali lagi saya tekankan: kondisi lalu lintas (macet atau lancar), banyaknya pemberhentian, kondisi topologi jalanan (datar, menanjak, atau menurun), rute (lurus atau banyak berbelok) serta gaya berkendara (riding style, tenang atau agresif) tentunya punya pengaruh yang cukup besar untuk konsumsi bahan bakar.

Adham Somantrie.

9 Comments

Published on 2012-04-26 07:40:03. 3353 views.
Tagged in: mio otomotif yamaha

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Ads

Archive

2004SeptemberOktoberNovemberDesember

2005JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2006JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2007JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2008JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2009JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2010JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2011JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2012JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2013JanuariFebruariMaretAprilMei

2004 - 2013Full Archive

© 2003 - 2013, Adham Somantrie. Bandung and Jakarta, Indonesia.
Built with Bootstrap. Made on Mac.