Adham Somantrie

Digital media communications. MBA student. Techie. Founder of siteo.us. Editor for MakeMac. And also a runner.

hi@adha.ms adhams @adhams @adham Adham Somantrie

Ketika Pikun dan Kue-Kue Menghilang

Cookie Monster
Entah kenapa, beberapa hari ini Firefox saya tiba-tiba pikun parsial. Konfigurasi, tambahan (addons), penanda laman (bookmarks), sejarah (history), dan kata sandi (password) memang masih diingatnya, namun semua kue (cookies) hilang. Firefox saya tidak mampu menjaga kue-kue milik saya ketika aplikasi tersebut ditutup.

Kue-kue ini sangat penting bagi saya. Dengan adanya kue-kue ini, tentu saja saya tidak perlu melakukan proses otentifikasi ke situs-situs setiap saya memulai Firefox. Dengan kasus ini, pilihan "Ingat Saya" (remember me on this computer) di halaman otentifikasi situs menjadi sia-sia. Tidak bisa saya gunakan.

Konfigurasi Firefox sudah benar. Tidak ada yang salah. Telah diatur agar mengingat semua sejarah dan menyimpan kue-kue hingga basi dengan sendirinya.

Sepertinya memang ada yang salah dengan berkas penyimpanan kue ini. Dan, benar saja. Ketika berkas ini saya hapus, Firefox akan membuatkan berkas yang baru untuk penyimpanan kue-kue. Lalu, semua kembali berjalan dengan baik seperti sedia kala.

Untuk melakukan itu di Windows XP, tidak terlalu sulit. Tentunya, tutup terlebih dahulu aplikasi Mozilla Firefox. Klik tombol "Start" yang monumental itu, lalu pilih "Run". Lalu berikan "%APPDATA%MozillaFirefoxProfiles" pada kotak teks.

Akan terbuka sebuah jendela baru berisi satu (atau beberapa) folder. Buka folder yang sesuai dengan profil Firefox Anda. Nah, cari berkas "cookies.sqlite" dan "cookies.sqlite-journal". Dan hapus kedua berkas tersebut.

Jalankan kembali Mozilla Firefox. Dan selamat menikmati Firefox yang tidak lagi pikun dan akan menjaga kue-kue Anda hingga basi.

Adham Somantrie.

3 Comments

Published on 2011-01-05 12:58:48. 1216 views.
Tagged in: browser cookies xp windows trik tips firefox

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Logo Baru Starbucks

Starbucks

Di awal 2011 ini, Starbucks mengubah lagi logonya untuk yang kesekian kalinya. Terakhir kali Starbucks mengubah logonya pada tahun 1992 yang bertahan hingga akhir 2010. Identitas putri duyung (siren) dan warna hijaunya masih dipertahankan dalam logo baru ini, namun tulisan "Starbucks" dan "Coffee" ditiadakan.

Pertama, dengan menghilangkan tulisan "Starbucks", tentu saja brand recognition akan mengandalkan bentuk dan warna logo. Untuk pasar sudah mendapatkan brand awareness Starbucks, tentu saja dapat dengan mudah mengenali Starbucks hanya dengan identitas logo dan warna. Beberapa brand seperti Nike dengan "Swoosh" dan Apple dengan buah apel tergigit juga tidak mencantumkan tulisan brand bersamaan dengan logo mereka. Tentu saja, ini hanya bisa dilakukan jika brand tersebut benar-benar sudah dikenal baik oleh pasar. Untuk Apple, dari logonya saja sudah berbentuk buah apel, ini mudah. Sama halnya dengan Shell dengan gambar kerang. Namun, untuk Nike, perlu membuat pasar mengenali logo "Swoosh" dengan baik selama bertahun-tahun.

Di sisi lain, hal ini akan baik dalam globalisasi, terutama untuk pasar yang tidak menggunakan huruf latin seperti Negara Arab, Cina, Jepang, dan negara-negara yang menggunakan huruf Cyrillic. Karena tidak perlu merubah tulisan "Starbucks" yang ada pada logo sebelumnya. Tapi, tentu saja brand awareness harus sudah tinggi. Jika tidak, maka resikonya adalah, orang awam akan bingung dengan logo itu — "itu logo apa?"

Penghilangan kata "Coffee" memiliki beberapa makna. Pertama, masih terkait dengan brand recognition, pasar diasumsikan sudah tahu bidang usaha Starbucks ini tanpa harus diberikan embel-embel "Cofee". Kedua, saya curiga ini sama dengan yang dilakukan oleh Apple Computers, Inc. dengan menjadi Apple, Inc., yakni perluasan pasar. Jika Apple memperluas pasar dari komputer ke pasar mobile dan industri hiburan, bisa jadi Starbucks akan memperluas lagi pasarnya di industri gaya hidup. Saat ini saja, Starbucks tidak hanya "menjual" kopi, ada teh dan susu serta makanan yang dijajakan di "warungnya". Tentu saja termasuk menjual gaya hidup.

Di samping brand dan identitas, perubahan logo sering juga terkait dengan kultur perusahaan (corporate culture). Namun, bisa dibilang perubahan logonya termasuk "minor", karena identitasnya tidak berubah (logo dan warna). Tapi bisa jadi, secara internal Starbucks juga melakukan revolusi di dalam perusahaan.

Mari kita tunggu saja gebrakan-gebrakan baru yang akan dilakukan Starbucks dengan logo barunya.

Adham Somantrie.

5 Comments

Published on 2011-01-07 12:46:03. 1728 views.
Tagged in: brand marketing starbucks logo

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Mac AppStore

Apple AppStore, mungkin cukup fenomenal. AppStore yang terintegrasi pada iTunes dan iOS ini termasuk ide yang cemerlang. Satu tempat pemberhentian untuk segala urusan seputar aplikasi: mencari, membeli, mengunduh, mengaktualkan. Tidak hanya pengguna yang dimanjakan, para pemgembang aplikasi pun dapat dengan mudah memperkenalkan dan memasarkan aplikasi mereka. Apple pun mengambil sedikit biaya dari para pengembang, sebagai biaya "sewa tempat".

Semua pihak senang!

Apple memang bukan yang pertama dalam pasar aplikasi. Namun untuk integrasi dengan produk perangkat keras, Apple yang pertama. AppStore sukses besar. Karena harga yang menarik, pengguna lebih suka untuk membeli secara legal daripada membajak aplikasi. Seiring dengan tingginya jumlah transaksi, tentunya keuntungan yang didapat Apple dan para pengembang pun semakin tinggi.

Tidak sedikit pula pihak pabrikan perangkat keras yang mengikuti jejak Apple. Tercatat Google menyusul dengan Android Market, lalu BlackBerry AppWorld, dan Nokia dengan Ovi Store. Microsoft juga tak mau ketinggalan untuk platform Windows Phone 7 mereka, Windows Phone Marketplace. Bahkan, Intel saja punya AppUp.

Sukses AppStore untuk iOS pun dilanjutkan Apple dengan Mac AppStore untuk Mac OS X. Tentunya dengan harapan yang sama pada iOS AppStore, mengurangi resiko pembajakan aplikasi yang akan berakibat tingginya angka transaksi pembelian aplikasi.

Tapi coba kita tinjau lagi iOS AppStore. Pada iOS, Apple menutup celah instalasi aplikasi selain melalui AppStore. Secara konsep, pengguna iOS harus mengunduh aplikasi (dan membeli, untuk aplikasi non-gratis), tidak bisa membajak aplikasi. Walaupun akhirnya ditemukan pula konsep Jailbreak untuk memasang aplikasi tidak resmi.

Mac AppStore? Sebagian para pengguna Mac sadar akan potensi eksklusivitas iOS AppStore. Mereka takut nantinya, semua aplikasi Mac OS X harus diunduh (dan dibeli) melalui Mac AppStore seperti pada iOS. Bisa jadi, nanti bakal ada "Jailbreak" untuk Mac. Memang Apple belum menutup kemungkinan instalasi aplikasi dari luar Mac AppStore. Namun, dengan konsep pasar (marketplace) yang menarik ini, tentunya pengembang akan lebih menyukai Mac AppStore karena resiko pembajakan lebih kecil.

Tapi, coba kita lihat aplikasi Twitter for Mac yang eksklusif hanya tersedia di Mac AppStore. Jika semua pengembang membuat aplikasinya eksklusif Mac AppStore, maka secara tidak langsung pengguna Mac "diwajibkan" untuk menggunakan Mac AppStore.

Jika Mac AppStore ini menjadi suatu kewajiban. Bisa jadi, para pengembang aplikasi kecil yang mendapati posisi sulit. Karena untuk membuat aplikasinya terdaftar di AppStore, harus melewati serangkaian penyaringan yang terkadang aplikasi bagus dari pengembang besar pun tidak lolos. Selain itu pada iOS AppStore, para pengembang diwajibkan untuk membayar "keanggotaan", sekalipun aplikasi yang dijualnya itu gratis. Tentu ini bisa menjadi kendala tersendiri.

Bisa jadi, Steve Jobs akan menghadapi serangan balik "1984"-nya dulu jika Mac AppStore memonopoli pasar aplikasi OSX.

Adham Somantrie.

0 Comments

Published on 2011-01-10 09:57:14. 1330 views.
Tagged in: apple osx store app mac

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

JNE Shipping Tracker untuk Peramban

Add JNE Tracker to Firefox Search JNE sebagai salah satu perusahaan kurir dan ekspedisi di Indonesia, telah mengaplikasikan pelacakan paket daring (online package tracking) di situsnya. Saya sebagai pelanggan yang cukup sering menggunakan layanan JNE, sangat terbantu dengan adanya fasilitas pelacakan (trace and tracking) ini.

Sebenarnya tidak ada yang kurang dalam fitur ini. Kecuali mungkin frekuensi pemutakhirannya tidak sangat cepat, namun hal ini dapat dimaklumi. Namun, untuk beberapa pengguna internet yang tidak terlalu cepat, membuka halaman depan situsnya saja sudah cukup lama, hanya untuk memasukkan nomor pelacakan.

Saya pikir, bagaimana kalau langkah itu dilewatkan saja. Misalnya dengan membuat sebuah halaman lokal di komputer dengan berkas HTML. Namun, ternyata kotak teks yang berada di kanan atas Mozilla Firefox saya cukup menarik. Hingga akhirnya saya membuat sebuah tambahan untuk Mozilla Firefox. Sehingga cukup menggunakan kotak pencarian Firefox untuk melakukan pelacakan paket. Hanya satu halaman saja yang perlu diakses untuk memeriksa status pelacakan paket, ya melompati halaman depan untuk memasukkan nomor pelacakan.

Untuk menggunakannya, saya telah membuat satu halaman khusus untuk aplikasi ini di http://adha.ms/apps/jne/. Walaupun saya membuat ini untuk Mozilla Firefox, tapi seharusnya dapat pula digunakan pada Internet Explorer dan Google Chrome.

Semoga bermanfaat.

Adham Somantrie.

4 Comments

Published on 2011-01-14 12:50:24. 5139 views.
Tagged in: google chrome firefox browser jne

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Bagaimana untuk Berlari Plus dengan Nike+

Experience Nike+

Sebelumnya saya pernah membahas tentang Nike+ secara umum. Seiring waktu, sudah semakin banyak orang yang menggunakan Nike+ dan bergabung dengan komunitas Nike+ ini. Juga, semakin banyak orang yang penasaran dan ingin menggunakan layanan Nike+ ini, namun tidak tahu bagaimana caranya. Untuk itu saya akan mencoba menjelaskan bagaimana menggunakan Nike+ sesuai pengalaman saya.

Cara yang pertama dan original adalah dengan menggunakan iPod nano yang dilengkapi dengan Nike+ Sport Kit. Nike+ Sport Kit ini terdiri dari Nike+ sensor (in-shoe stride sensor) yang diletakkan di dalam sepatu dan Nike+ receiver yang ditancapkan di iPod nano. Semua iPod nano baik dari generasi pertama hingga generasi terakhir (generasi keenam, saat tulisan ini diturunkan) bisa digunakan untuk Nike+ dengan Nike+ Sport Kit. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui iTunes di Mac atau PC Anda.

Nike+ Sport Kit ditawarkan USD 29 di Apple Store US. Di pasar Indonesia harganya sekitar IDR 300.000,-

Pengguna iPod nano generasi keenam kini dapat menggunakan fitur Nike+ tanpa harus menggunakan Nike+ Sportband setelah mengaktualkan firmware ke versi 1.2. iPod nano dapat bekerja hanya dengan mengandalkan sensor accelerometer yang terintegrasi. Namun, jika Anda lebih menyukai sensor sepatu (footpod), Anda tetap dapat menancapkan penerima Nike+ ke iPod nano dan mengukur jarak lari Anda dengan Nike+ sensor di dalam sepatu. Juga untuk menyandingkan iPod nano dengan Polar WearLink+ Transmitter Nike+, Anda perlu menggunakan penerima Nike+ ke iPod nano.

Kedua, dengan menggunakan iPod Touch mulai generasi kedua (iPod Touch yang dilengkapi dengan speaker dan bluetooth) atau iPhone sejak generasi 3GS yang dipasangkan dengan Nike+ sensor pada sepatu. Tidak perlu menggunakan Nike+ receiver karena sudah terintegrasi di dalam iPod Touch dan iPhone tersebut. Namun, aplikasi ini perlu diaktifkan melalui Settings - Nike + iPod. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui iTunes di Mac atau PC Anda. Pada iOS versi baru, Anda dapat mengunggah data ini langsung melalui perangkat Anda menggunakan wi-fi atau jaringan data seluler.

Nike+ Sensor ditawarkan USD 19 di Apple Store US. Di pasar Indonesia harganya sekitar IDR 250.000,-

Pilihan ketiga, tidak melibatkan iPod maupun iPhone, yakni dengan menggunakan Nike+ Sportband. Ini pilihan yang ekonomis dan praktis untuk Anda yang tidak memiliki iPod/iPhone. Atau untuk Anda yang tidak suka berlari sambil membawa iPod/iPhone. Paket pembelian Nike+ Sportband ini terdiri dari Nike+ Sportband Link yang berupa gelang atau jam tangan, dan sebuah Nike+ sensor. Metode favorit saya adalah mengkombinasikan Nike+ Sportband dengan iPod Shuffle. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui aplikasi Nike+ Connect (sebelumnya Nike+ Utility) di Mac atau PC Anda.

Nike+ Sportband ini ditawarkan USD 59 di Amerika, di Nike Store Indonesia ditawarkan IDR 650.000,-

Nike+ SportWatch GPS by TomTom merupakan penerus dari Nike+ SportBand. Sesuai namanya, selain dapat disandingkan dengan Nike+ sensor di sepatu juga merekam rute serta jarak berlari Anda dengan GPS dari pabrikan TomTom. Nike+ SportWatch juga dapat disandingkan dengan Polar WearLink+ Transmitter Nike+ untuk memantau detak jantung Anda selama berlari. Ditawarkan seharga USD 199 sudah termasuk Nike+ sensor dalam paket penjualan, sementara WearLink+ dijual terpisah. Saat tulisan ini diturunkan, baik Nike+ SportWatch maupun WearLink+ belum tersedia secara resmi di pasar Indonesia.

Pilihan keempat, untuk Anda yang suka berlatih di pusat kebugaran (fitness centre). Beberapa perangkat kardio di gym sudah mendukung sistem Nike + iPod. Jadi Anda hanya perlu menancapkan iPod nano, iPod Touch, atau iPhone Anda pada mesin tersebut. Dan latihan Anda pun akan direkam. Data hasil rekaman lari akan diunggah dan disinkronkan melalui iTunes di Mac atau PC Anda. Catatan: khusus pilihan ini, saya belum pernah mencobanya karena saya belum pernah ke gym.

Pilihan terakhir, untuk para pengguna iDevices yang menggunakan iOS 4.0 ke atas dan dilengkapi dengan GPS. Misalnya iPhone 3GS, iPhone 4, dan iPad 3G. Cukup dengan membeli aplikasi Nike+ GPS seharga 1.99 USD. Maka Anda dapat menggunakan layanan Nike+ ini tanpa membeli perangkat tambahan lain (Nike+ sensor). Untuk itu, aplikasi ini akan menggunakan informasi lokasi yang didapat dari GPS untuk mengukur jarak dan rute lari Anda.

Aplikasi ini juga dapat digunakan di dalam ruangan dengan memanfaatkan accelerometer. Namun tampaknya Anda akan membutuhkan armband agar iPhone ikut bergerak bersama Anda karena aplikasi akan bergantung sepenuhnya pada accelerometer. Data hasil rekaman lari pada Nike+ GPS akan diunggah langsung dari perangkat Anda menggunakan wi-fi ataupun jaringan data seluler.

Tapi sepertinya Anda perlu mempertimbangkan dengan matang jika ingin berlari sambil membawa iPad.

Tambahan: Sensor Nike+ sebenarnya membutuhkan sepatu yang kompatibel dengan sistem Nike+, yakni yang memiliki ruang khusus di dalam sepatu untuk menyimpan sensor Nike+ ini. Namun, ini bukanlah hal yang mutlak. Anda dapat menggunakan sepatu apapun selama Anda bisa memasangkan sensor ini. Salah satu triknya saya dokumentasikan di YouTube. Yang perlu diingat adalah agar sensor berada pada posisi yang benar: logo Nike dan Apple pada sensor harus menghadap ke atas (melawan gravitasi).

Pemutakhiran: Bagaimana untuk Berlari Plus dengan Nike+ #2 (24 Oktober 2011). Menambahkan informasi Nike+ yang terintegrasi pada iPod nano generasi 6 dan Nike+ SportWatch GPS by TomTom.

19 Comments

Published on 2011-01-17 09:43:33. 5911 views.
Tagged in: ipod iphone lari run tutorial nikeplus

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nike+

Archive

2004SeptemberOktoberNovemberDesember

2005JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2006JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2007JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2008JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2009JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2010JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2011JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2012JanuariFebruariMaretAprilMei

2004 - 2012Full Archive

© 2003 - 2012, Adham Somantrie. Bandung and Jakarta, Indonesia.
Built with Bootstrap. Made on Mac.