Are you currently viewing from mobile device? Switch to mobile version!

Adham Somantrie

Digital media communications. MBA student. Techie. Founder of siteo.us. Editor for MakeMac. And also a runner.

hi@adha.ms adhams @adhams @adham adhams Adham Somantrie Adham Somantrie

Net Gen are Bad Employees. Or Good?

Net Gen (Internet Generation) atau Generasi Internet — generasi yang tumbuh dan berkembang bersama internet dalam kehidupannya — adalah generasi yang berbeda dengan generasi konvensional sebelumnya. Istilah ini saya dapat dari buku Wikinomics. Dari FreSh 7 kemarin, Pak Husin Wijaya dari MarkPlus menyebutkan sebagai Generation Z.

Kemampuan sosial, komunikasi, inovasi dan karakter psikologinya berbeda.

Juga disebutkan, karena perbedaan karakter ini, juga menyebabkan perbedaan di dalam kehidupan mereka: mereka adalah pegawai yang buruk, bad employees. Inovasi dan idealisme mereka terkadang menjadi bumerang bagi mereka sendiri: menolak untuk melakukan pekerjaan yang didesain oleh orang lain namun tidak sesuai dengan keinginan mereka. Terkadang, mereka juga memiliki jiwa kreatif yang berlebihan — tanpa kontrol yang baik akan menjadi tidak produktif bagi perusahaan. Melakukan hal yang jauh lebih baik daripada yang diminta: terkadang baik, namun bisa saja malah menjadi tidak sesuai dengan permintaan klien.

Tidak suka dengan peraturan yang ketat — bahkan yang tidak ketat sekalipun. Mereka menganggap peraturan-peraturan itu menjadi penghalang dan mengekang kebebasan dalam berkreasi. Tidak jarang, aturan perusahaan dilanggar. Namun pelanggaran itu terkadang dengan tujuan inovatif dan kreatif, itu sisi positifnya.

Co-innovative & Prosumer. Inovasi adalah bagian dari hidup mereka. Mereka berinovasi walaupun tidak diminta — improvisasi dalam hidup. Walaupun mereka adalah konsumen dan tidak dapat menjadi produsen, namun dapat memberikan nilai tambah (baik itu inovasi, maupun sekedar layanan) terhadap produk sehingga dapat dijual (lagi) kepada konsumen akhir (end user).

Hal ini dapat kita artikan secara positif: mereka bukanlah tipe pegawai, mereka adalah tipe pejuang, wirausahawan, entrepreneur.

Nah. Yang menjadi masalah adalah, ketika net-gen ini merupakan bad employees dan juga bukan seorang entrepreneur. Mereka tidak dapat bekerja secara profesional, baik sebagai pengusaha maupun mitra kerja.

Lalu bagaimana menurut Anda? Apakah Anda juga termasuk ke dalam golongan net-gen juga? Atau, bisakah net-gen ini menjadi pegawai yang baik (good employees)? Kira-kira bagaimana caranya?

PS: Illustration picture are courtesy of marchiorimom.

14 Comments

Published on 2009-03-02 20:01:17. 2490 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

PechaKucha Jakarta Vol. 1

PechaKucha Jakarta Vol. 1

PechaKucha Jakarta Vol. 1, adalah gelaran PechaKucha perdana untuk kota Jakarta. PechaKucha adalah gelaran yang berkonsep cukup unik. PechaKucha layaknya marathon presentasi dengan waktu ketat dan dilakukan oleh banyak pembicara, seperti yang sudah saya tuliskan pada liputan FreSh 7. Gelaran perdana ini dilaksanakan di Es Teler 77, Jl. Adityawarman - Jaksel, pada 10 Maret 2009 (19.00-22.00 WIB).

Setiap pembicara hanya diberi "jatah" 20 layar (slide) yang setiap layar tersebut harus berjalan selama 20 detik. Sehingga durasi total presentasi adalah 20 x 20 detik = 400 detik, atau 6 menit 40 detik.

Untuk yang biasa memberikan presentasi panjang lebar, tentu saja ini merupakan sebuah kesulitan. Tapi, petugas pemasaran saja biasanya hanya meminta waktu 3 hingga 10 menit untuk menjelaskan produk yang dipasarkannya. Nah, mengapa kita tidak bisa dengan 6 menit 40 detik?

PechaKucha adalah gerakan internasional. Sudah banyak gelaran PechaKucha di belahan dunia lain. Walaupun ini adalah yang pertama kali digelar di Jakarta, namun PechaKucha sudah digelar di Bandung pada 2008.

Untuk menghadiri gelaran ini tidak dipungut bayaran. Gratis. Namun karena disponsori oleh EsTeler 77, para peserta yang gratis pun tetap mendapat voucher yang dapat ditukarkan dengan 1 gelas minuman ringan (soft drink).

Karena konsepnya adalah untuk menginspirasi, bukan forum diskusi, maka tidak ada sesi tanya jawab antar peserta dengan narasumber.

Foto-foto? silakan lihat album foto PechaKucha di Flickr saya dan album foto PechaKucha di Facebook saya.

Adham Somantrie

9 Comments

Published on 2009-03-12 08:54:18. 11404 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Jika Situs Sosial Menjadi Berbayar

Situs pertemanan atau situs jejaring sosial bukanlah hal yang aneh untuk saat ini. Sebagian besar pengguna internet bergabung di sana. Bahkan situs-situs "biasa" pun menambahkan "fitur pertemanan" antar anggota untuk menampilkan data situs tersebut sesuai dengan "kondisi sosial" penggunanya.

Seandainya situs Plurk, Facebook, Friendster, ataupun Twitter mengalami perbaikan (under maintenance), banyak pengguna yang mengeluhkan bahkan hingga protes. Dan tidak sedikit yang berujar: "udah dikasih gratis kok masih protes?"

Layanan-layanan situs sosial tersebut disediakan secara gratis untuk digunakan. Untuk operasional dan perawatan tentu saja dibutuhkan biaya. Dengan memberikan layanan secara gratis, tentunya dana tersebut perlu dicari dari luar pengguna: misalnya iklan atau sponsor. Namun bagaimana jika situs tersebut menarik bayaran ke penggunanya?

Menarik bayaran ke pengguna adalah keputusan yang sangat masuk akal, tetapi dengan resiko tinggi: ditinggal para pengguna.

Tentu saja, tidak semua orang mau membayar untuk menjadi anggota. Apalagi situs tersebut dianggap tidak produktif: uang yang dikeluarkan tidak sebanding dengan apa yang didapat. Jelas, ini mengurangi populasi pengguna layanan.

Anggap saja biaya langganannya cukup murah dan terjangkau. Untuk kelas internasional, mungkin hanya sekitar 10-50 USD per tahun. Mungkin untuk kondisi ekonomi Indonesia, angka tersebut masih dirasa mahal. Tetap saja "menghalangi" orang untuk menggunakan layanan tersebut. Apalagi dengan prinsip "kalau bisa gratis, kenapa mesti bayar (walaupun murah)". Selain itu, juga ada orang yang mampu dan mau membayar untuk berlangganan layanan, namun terhalang secara teknis: tidak bisa melalukan pendaftaran atau pembayaran. Misalnya, pembayaran harus dibayar dengan kartu kredit atas nama sendiri, sementara (calon) pengguna tersebut tidak memiliki kartu kredit.

Selain menghalangi pengguna secara langsung, juga membuat situs tersebut menjadi eksklusif. Ketika situs itu eksklusif, tidak banyak orang di dalamnya, tentu saja banyak orang yang malas bergabung: situs sosial tidak dapat memenuhi kebutuhan sosial, yakni mencari teman.

Namun, jika situs dijalankan dengan swadaya dan swadana, tentu saja pemilik situs menjadi terbebani. Mungkin awalnya hanya proyek pribadi, hanya untuk memuaskan batin, tetapi ketika situs tersebut membludak dari sisi pengguna, dibutuhkan infrastruktur yang bagus untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan yang sangat banyak itu.

Jalan tengah. Yakni konsep "setengah berbayar". Dimana situs tersebut memberikan layanan secara gratis bagi pengguna. Namun memberikan pilihan berbayar dengan menawarkan fitur-fitur tambahan atau kapasitas yang lebih besar. Misalnya Flickr: memberikan layanan penyimpanan foto secara gratis kepada semua orang, namun menawarkan Flickr Pro seharga 24.90 USD per tahun dengan memberikan fitur tambahan dan kapasitas yang jauh lebih besar.

Atau, Anda bisa memasang tempat iklan di situs Anda, dan iklan hanya ditampilkan kepada pengguna layanan gratis. Iklan tidak akan ditampilkan kepada pengguna berbayar.

Siapkah Anda untuk membuat situs layanan di Indonesia secara gratis?

10 Comments

Published on 2009-03-15 23:17:16. 4337 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

FreSh 8: Mobile Creativity

Forum bulanan FreSh kembali diadakan untuk bulan Maret pada Kamis (19/03) kemarin di Mazee, fx. Walaupun di saat bersamaan Ndoro Kakung membuat kopdar dengan wapres di Pisa Cafe, tidak mengurangi antusiasme para pengguna internet Indonesia untuk menghadiri FreSh. Dan untuk perhelatan kedelapan di bulan Maret 2009 ini mengangkat topik Mobile Creativity.

Ramya membuka forum dengan introduksi seputar FreSh itu sendiri. Konsep dan masa depan (roadmap) FreSh untuk ke depan. Juga kemungkinan untuk mengadakan FreSh di luar Jakarta. Selain itu, beliau juga mengingatkan acara Facebook Developer Garage Indonesia (FBDG) pada tanggal 28 Maret 2009 nanti.

Pembicara pertama adalah Pak Italo Gani dari M-Stars.

Mobile as media, part of digital media, capable to be interactive and powerful. Mobile application service is also part of mobile media. Ponsel dapat menjadi media promosi yang hebat. Dengan karakteristiknya: mobile, always-on, dan pertumbuhannya di Indonesia yang begitu dahsyat (mass already).

Pertumbuhan mobile internet user lebih besar daripada pengguna internet dektop (PC). Apalagi didukung dengan kondisi geografis Indonesia yang lebih cocok untuk infrastruktur komunikasi nirkabel. Pengguna mobile internet di Indonesia adalah yang terbesar ketiga di dunia.

Mobile marketing service secara umum ada dua jenis: permisson marketing dan non-permission marketing. Yakni yang dengan seizin pengguna, dan yang tanpa izin. Pemasaran tanpa permisi ini dapat dikategorikan spam.

Permission based marketing layak untuk dipertimbangkan. Operator telah siap, dengan adanya registrasi prabayar juga komunitas pelanggan maka operator telah memiliki profil para pengguna layanannya. Sehingga iklan dapat diantarkan kepada pengguna yang profilnya sesuai dengan sasaran iklan. Operator dapat menawarkan persetujuan untuk menerima iklan kepada pelanggan. Sementara bentuk iklannya dapat berbentuk SMS, atau juga dalam bentuk ringback tone (RBT). Interaktivitas iklan terhadap pelanggan juga lebih baik. Dengan SMS, dapat diimplementasikan sebagai polling, voting, ataupun SMS interaktif dengan cerita atau permainan. Iklan dalam bentuk RBT juga lebih impresif daripada iklan di radio.

Keuntungannya yang lain adalah bentuk iklan yang begitu beragam. Dapat berupa SMS yang berisi petunjuk kepada alamat web, WAP, atau rujukan unduh aplikasi mobile. Dan, karena pelanggan yang terdaftar menerima iklan atas persetujuan dari mereka, maka mereka akan lebih memperhatikan iklan yang mereka dapat. Bukan sekedar baca lalu hapus.

Pembicara kedua adalah Turucha "T" Fuad dari Yahoo! Mobile. Head of Mobile South East Asia.

Mobile is the next frontier. Indonesia adalah pengguna ponsel terbesar di Asia Tenggara: lebih dari 100 juta pelanggan (100 juta nomor telepon). Dengan 70 juta di antaranya adalah pengguna mobile internet. Dan diramalkan akan meningkat 70% di tahun 2009. Selain itu, pasar Indonesia cukup unik: viral, social and community driven consumers.

Fakta yang sama: mobile user tumbuh jauh lebih cepat daripada pengguna PC.

Mobile for all day life: ponsel digunakan hampir dalam setiap aspek kehidupan, dari pagi hingga malam. Digunakan untuk berita, radio, musik, bekerja, bermain, hiburan, internet, dan lain-lain. Dan fakta lainnya: ponsel lebih sering digunakan daripada komputer (PC).

Mobile Internet di Indonesia sudah cukup siap. Perangkat-perangkat (handsets, mobile devices) sudah tersedia banyak dan digunakan secara luas. Sementara infrastruktur jaringan juga sudah memadai: banyak operator (cellular service provider) yang menyediakan layanan internet dengan harga terjangkau, mulai Rp. 10/KB hingga Rp. 0,1/KB. Dengan USD 1.00 bisa mendapatkan hingga 100MB.

Sementara aplikasi yang bisa dirambah adalah mobile web dan native/universal mobile application (Java-based, iPhone App, Blackberry App, Symbian-based, etc.)

Dan Yahoo! memiliki mobile service: OneSearch, untuk fitur pencarian internet di ponsel; OneConnect, untuk layanan aplikasi internet, email, dan social-networking; dan OnePlace, untuk RSS, localized content, bookmarks, dan dukungan pihak ketiga.

Untuk itu, Yahoo! memberikan Yahoo! Blueprint mobile development platform. Sebuah framework yang dapat digunakan secara bebas oleh pengembang layanan internet bergerak.

Pembicara selanjutnya, Andreas Surya dari MobileMonday.

Tiga orang pembicara pada malam ini mengusung topik yang sama: mobile internet. Jadi, isinya tidak akan jauh berbeda, walaupun tidak sama persis juga.

Pada dasarnya, Indonesia adalah bangsa yang bersifat mobile. Semua usaha dapat dibuat versi mobilenya, termasuk "gerobak mobile shop" seperti tukang sayur keliling, tukang las keliling, penjahit keliling, tukang baso keliling, dan lainnya.

Lebih dari 90% pendapatan operator masih bersumber dari voice dan SMS (termasuk data). Sementara untuk layanan nilai tambah (value added service, VAS) hanya sekitar 3%, dan ini pun diperebutkan oleh kurang lebih 100 content provider.

Padahal, mobile internet user di Indonesia sangat masif. Indonesia adalah pengguna Opera Mini terbesar kedua di dunia. Indonesia adalah negara pengguna Yahoo! Mobile terbesar di Asia Tenggara.

Namun, tahun 2009 sangat potensial sekali untuk perkembangan mobile internet. 2009 adalah waktunya para operator bersaing dalam layanan data, bukan lagi layanan suara atau SMS. Shift to mobile internet service.

Kolaborasi pun dibutuhkan untuk membuat sesuatu yang baru, dan juga cemerlang di bidang mobile internet. Dengan menggunakan framework dan marketplace yang sudah ada untuk membangun dan berbisnis aplikasi mobile internet yang hebat: iPhone Apps, Apple Appstore, Yahoo! Blueprint, Nokia Ovi Store, Blackberry Apps.

Innovate!

Dan pembicara terakhir adalah dari tim Koprol yang diwakili oleh Satya.

Koprol, adalah sebuah situs sosial khas Indonesia. Sama seperti Twitter dan Plurk, namun tidak sekompleks Facebook. Yang membuat menarik adalah layanan ini juga berbasis lokasi. Sehingga kita bisa melihat teman-teman kita yang berada di wilayah yang sama. Hal ini juga didukung dengan tersedianya versi mobile. Sehingga pelanggan dapat menggunakannya dari ponsel. Selain itu, pengguna juga dapat menulis ulasan(review) dan menilai(rating) tempat-tempat tersebut.

Namun, saat ini Koprol masih dalam masa uji coba. Belum menerima pendaftaran pengguna secara terbuka. Pendaftaran hanya bisa dilakukan dengan undangan dari pengguna yang sudah ada.

Untuk ke depannya, Koprol akan membuat aplikasi khusus untuk para pengguna Blackberry dan iPhone, juga pengguna lainnya dengan aplikasi ponsel Java-based.

Dan, setelah semua pembicara memberikan presentasinya, ditutup dengan acara puncak: photo session!

Sampai jumpa di FreSh April.

Thank's FreSh, I've got my free AtMostFear fx "perosotan" voucher.

Adham Somantrie. Participant.

PS: Foto-foto menyusul. Soalnya menunggu dari memori D40 Krisna.

1 Comments

Published on 2009-03-20 19:15:58. 3193 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Ads

Archive

2004SeptemberOktoberNovemberDesember

2005JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2006JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2007JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2008JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2009JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2010JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2011JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2012JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2013JanuariFebruariMaretAprilMei

2004 - 2013Full Archive

© 2003 - 2013, Adham Somantrie. Bandung and Jakarta, Indonesia.
Built with Bootstrap. Made on Mac.