Are you currently viewing from mobile device? Switch to mobile version!

Adham Somantrie

Digital media communications. MBA student. Techie. Founder of siteo.us. Editor for MakeMac. And also a runner.

hi@adha.ms adhams @adhams @adham adhams Adham Somantrie Adham Somantrie

Gadgets for Your Smart Home

Someone said, gadgets are boys' toys. For gadget lovers (hum... gadget freak, maybe?), it is a passion to implement the gadgets at home to build a 'smart home'. There are tons of gadget with wide-variety. And also, with tons of features and latest high technology. With tons variety of choices, it is become easier to realize this.

But, sometimes (eh, often?) lots of choice are making us more confused. Then, we should analyse the products before making a decision, which one we should buy. Here is some suggestion of gadgets for smart homes.

Too much electronic home appliances at your home? It should be too much 'remote controller' at your home. Will you bring lots of remote controllers across your home? It looks annoying. With universal remote control, you can control various appliances just with one remote controller. It is more fun to bring just one to control your appliances, all over your 'smart home'.

For more integration, you also can integrate your 'traditional' electric appliances such as lamps with your 'smart home control center', so you can control your home wirelessly. More advanced control, you can integrate with modern telecommunication technology such as internet and cellphone. Then, you can monitor your home from your office, and control them!

When internet goes to your home, then goes to your appliances, 'computer network' become more familiar with general peoples. You can get your computers connected each other. And, you also can connect other appliances, such as media player or modern game consoles. Further, wirelessly with wi-fi and bluetooth connection. A network media player can be connected to your home' local area network, then you can share multimedia contents across your computers and home multimedia appliances. Listening your iTunes library with your own hi-fi player?

Another things, but mostly ignored: data backup system. Massive capacity harddisks goes cheaper, and also optical media, this make everyone can make a data backup easier and cheaper. Then, NAS (network attached storage) become more popular. Another alternative, you can back your data up on the internet. There are some online backup services that you can use to store you backups.

If you got confused when choosing the right gadget for you from the tons of available gadgets on the market, maybe you need a gadget advisor.

6 Comments

Published on 2008-10-13 23:03:29. 2763 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

MacBook Revolution

Sejak pertama kali diluncurkan, MacBook (serta MacBook Pro), tidak banyak mengalami perubahan yang berarti. Bahkan, untuk desain, MacBook Pro tidak banyak berbeda dengan PowerBook G4 Aluminum. MacBook juga mirip dengan iBook G4, hanya saya ukurannya sudah mengikuti layar lebar.

Dan, Selasa 14 Oktober 2008 kemarin (Rabu, 15 Oktober 2008 WIB) Steve Jobs dan rekan-rekan dari Apple Inc. telah meluncurkan generasi baru dari seluruh jajaran notebooknya: MacBook, MacBook Pro, dan juga MacBook Air.

Desain
Hal pertama yang cukup signifikan adalah desain produk! MacBook kini sudah dalam balutan aluminum, layaknya MacBook Pro dan MacBook Air. Dan, kini juga mengusung warna hitam di sekitar layar, dengan balutan kaca yang mengkilap. Seperti pada iMac. Tentu saja dengan balutan kaca ini, layar MacBook dan MacBook Pro berprofil 'glossy', bukan 'matte' lagi seperti MacBook Pro sebelumnya.

MacBook Glass and MacBook Pro Glass

Sementara untuk MacBook Air, tidak ada perubahan dalam desainnya. Masih mempertahankan desain original MacBook Air. Layar keluarga MacBook kini telah menggunakan LED untuk pencahayaannya, sehingga lebih hemat daya, dan ramah lingkungan.

Desain keyboard MacBook Air telah mengikuti desain keyboard baru Apple yang diperkenalkan pada MacBook, spacey. Dan kini, MacBook mengikuti MacBook Air dengan penggunaan warna hitam pada keyboardnya. Cenderung lebih aman dari terlihat kotor. Dan, MacBook Pro pun akhirnya mengikuti desain keyboard ini. Semua MacBook telah menggunakan keyboard yang sama, dengan warna yang seragam. Bahkan, semuanya telah menaplikasikan pencahayaan atau iluminasi pada keyboard, kecuali varian paling bawah dari MacBook baru.

MultiTouch Trackpad kini semakin keren. Seluruh keluarga MacBook sudah menggunakan trackpad multitouch, dan ternyata lebih dari itu: tiada tombol yang terpisah, tombolnya adalah trackpad itu sendiri! tekan trackpad untuk klik!

Walaupun memiliki kualitas dan desain yang lebih baik, tetapi mengapa desain MacBook baru ini mirip sekali dengan hp Mini-Note, ataupun laptop Acer beberapa tahun silam? kombinasi hitam dan silver. Ya, Acer memang bukan alumunium.

Mesin
Selain RAM yang sudah menggunakan teknologi DDR3, perubahan besar adalah pada pengolah grafik: kini dengan nVidia GeForce 9400M! Tenaga yang cukup besar untuk memproses seluruh kegiatan grafik di komputer. Bahkan untuk MacBook Pro, disediakan pengolah grafik tambahan: nVidia GeForce 9600M GT! Anda dapat memilih salah satunya: 9400M untuk penghematan daya, atau 9600M GT untuk tenaga yang maksimal.

Yang artinya, kini semua MacBook sudah mampu menggunakan Apple Cinema Display HD 30 inci - dengan konektor tambahan, tentunya.

Para gamer juga tampaknya akan terpuaskan. Ada demo MacBook yang memainkan Need For Speed Carbon dengan baik di salah satu video di situs Apple.

Selebihnya tidak ada yang signifikan, hanya penyesuaian terhadap kecepatan prosesor. Dalam beberapa varian, kecepatan prosesor malah diturunkan. Namun kecepatan secara keseluruhan adalah meningkat. Karena pada Mac, GPU juga turut andil dalam komputasi di samping CPU.

Prosesor 2.4 GHz dengan 8600GT akan terasa lebih cepat daripada prosesor 3.0 GHz dengan GMA950 untuk penggunaan sehari-hari.

Mungkin dengan Snow Leopard (10.6) yang mengusung teknologi OpenCL, GPU handal ini akan banyak berperan dalam membantu prosesor dalam komputasi. Sehingga performa akan meningkat dengan signifikan.

DVI dan DisplayPort
Tampaknya Apple akan meninggalkan keluarga konektor DVI: DVI, MiniDVI, dan MicroDVI; dan akan beralih kepada koneksi DisplayPort. Ini dapat dilihat dari keseluruhan MacBook baru yang menggunakan konektor Mini-DisplayPort.

Apple LED Cinema Display
Disamping penyegaran keluarga MacBook, Apple Inc. juga memperkenalkan keluarga baru Cinema Display: Apple LED Cinema Display. Sebuah monitor LCD yang sudah menggunakan LED untuk pencahayaannya ini berukuran 24 inci dengan resolusi 1920 x 1200 piksel. Kini dengan tambahan iSight, mikrofon, dan speaker 2.1 yang terintegrasi.

Desainnya juga mengikuti gaya iMac: dengan balutan alumunium serta layar yang dilapisi kaca mengkilap dan dikelilingi bingkai hitam.

LED Cinema Display

Selain itu, juga tersedia port USB 2.0 yang berjumlah tiga. Serta, tambahan MagSafe connector untuk mengisi baterai MacBook. Dengan koneksi Mini-DisplayPort, tampaknya monitor ini memang didesain untuk melengkapi jajaran keluarga MacBook baru.

Semua Produk Memiliki Layar yang Mengkilap
MacBook dan MacBook Air telah menggunakan layar mengkilap (glossy) sejak awal kehadirannya. Layar mengkilap membuat tampilan layar menjadi semakin cemerlan. Sementara MacBook Pro sebelumnya ditawarkan dalam dua varian: glossy dan matte.

Kaum profesional grafis biasanya menggunakan layar matte untuk bekerja dengan alasan akurasi warna yang lebih baik karena terhindar dari glare. Namun, sekarang MacBook Pro hanya ditawarkan dengan layar mengkilap.

Bahkan, LED Cinema Display pun memiliki layar mengkilap.

Anda butuh layar matte? Anda terpaksa memilih Cinema Display (HD) tipe lama: tanpa iSight, audio, dan charger MagSafe. Apple Cinema Display lama masih disediakan dalam tiga ukuran: 20, 23, dan 30 inci.Dan untuk menggunakan Cinema Display lama dengan keluarga MacBook baru, Anda akan butuh tambahan konektor: Mini-DisplayPort to DVI-D converter.

Kemanakah Firewire 400?
Satu hal yang tampak aneh: Apple menghilangkan koneksi Firewire 400. MacBook Air memang tidak pernah memiliki koneksi Firewire. MacBook lama memiliki koneksi Firewire 400, namun MacBook baru tidak memiliki konektor Firewire sama sekali. MacBook Pro adalah satu-satunya notebook yang masih memiliki konektor Firewire, tetapi hanya Firewire 800. LED Cinema Display juga tidak mendukung Firewire 400.

Apakah ini berarti Apple akan beralih ke USB 3.0? ataukah, Apple ingin memusnahkan Firewire 400 agar orang-orang beralih ke Firewire 800. Atau, Apple benar-benar ingin membatasi penggunaaan Firewire hanya untuk kaum profesional saja?

Bagaimana dengan pemilik perangkat audio, portable video recorder, atau harddisk yang berbasis Firewire 400? Beralih ke USB atau Firewire 800? Menggunakan konverter Firewire 800/400? Atau tetap menggunakan MacBook lama?

Tautan:
MacBook
MacBook Pro
MacBook Air
LED Cinema Display

Tulisan di blog lain:
Adinoto - Special Event on Notebooks (Apple)
MakeMac - Yang Baru dari Apple Event 14 Oktober 2008

22 Comments

Published on 2008-10-16 01:36:35. 6460 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Mengolah Ketupat Lebaran Tahun Lalu untuk Lebaran Tahun Berikutnya

Lebaran, atau Hari Raya Idul Fitri (juga Idul Adha), merupakan salah satu hari besar bagi umat muslim. Sebagai negara yang banyak memiliki warga muslim, lebaran juga menjadi ajang 'liburan' nasional. Ketupat adalah salah satu makanan yang cukup identik dengan lebaran. Saya juga kurang tahu mengenai ketupat ini untuk wilayah di luar Indonesia.

Ketupat, yang berasal dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa, cukup populer di Indonesia. Mungkin karena sebagian warga Indonesia yang mengkonsumsi nasi. Ketupat adalah salah satu produk olahan dari beras selain nasi, lontong, ataupun bubur.

Saat lebaran, ketupat disajikan bersama-sama dengan makanan tradisional khas indonesia seperti rendang, opor ayam, ataupun sate.

Tidak bisa dipungkiri juga jika ketupat juga dapat ditemukan dalam keseharian di luar lebaran. Misalnya kupat tahu yang cukup populer di Tanah Pasundan, atau juga sebagai pelengkap sate.

Namun, ketupat dan lebaran tetap saja memiliki hubungan yang erat. Menjadi hiasan di saat lebaran, atau juga menjadi hiasan di kartu ucapan lebaran (bisa juga di dalam SMS jika sang pembuat SMS memiliki kemampuan seni teks yang cukup tinggi).

Untuk lebaran tahun lalu (2007/1428H), saya pun mencoba membuat kartu ucapan elektronik dengan menggunakan ketupat sebagai grafisnya. Untuk itu, saya meminjam beberapa ketupat kosong beberapa hari sebelum lebaran dari dapur. Ketupat itu saya pergunakan sebagai objek foto, menggunakan Canon EOS 400D dan Canon EF 75-300 mm.

Setelah tahap fotografi selesai, maka saya melakukan pengolahan foto digital, seperti penyesuaian warna dan pemotongan, lalu menambahkan teks ucapan selamat.

Saya tidak sempat mencetak ucapan itu untuk dijadikan kartu ucapan tradisional.

Namun saya menggunakan kartu ucapan elektronik tersebut dalam tulisan di blog saya: Selamat Idul Fitri 1428 Hijriyah!.

Ketupad

Di samping itu, saya juga mengirimkan kartu ucapan elektronik tersebut melalui MMS dan email kepada beberapa kerabat.

Setahun kemudian (2008/1429H), menjelang lebaran saya pun membuat kartu ucapan lagi. Namun, saya tidak menggunakan foto yang sama (hanya mengubah teks). Saya tidak ingin menggunakan kartu ucapan yang sama dengan tahun lalu: ketupat - ketupatnya udah basi dong? .

Saya kemudian berpikiran untuk mengambil foto saat sholat Ied. Sibuk mengambil foto saat hari raya tentu saja mengganggu proses ibadah sholat Ied kita. Oleh karena itu, para fotografer biasanya memanfaatkan "perbedaan hari lebaran" yang biasanya terjadi di Indonesia. Hari ini mengambil foto, lalu besoknya mengikuti sholat Ied. Atau kebalikannya, sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Namun, tahun ini kedua kaum tersebut kompak, sehingga trik di atas tidak bisa digunakan.

Dan saya pun mencoba membuat ucapan dengan gaya minimalis. Yang saya sertakan dalam tulisan di blog saya: Selamat Idul Fitri 1429 Hijriyah!

Kali ini, ucapan tersebut sengaja saya unggah di Flickr: Sorry - 1429H. Dengan tujuan, agar kartu ucapan tersebut dapat digunakan orang yang membutuhkannya. Karena dari pengalaman sebelumnya, banyak sekali yang meminta izin untuk menggunakan kartu ucapan tersebut di situsnya. Waktu itu (2007) saya tidak memberikan informasi lisensi terhadap kartu tersebut.

Kali ini saya berikan dengan lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial 2.0 Generic, yang membolehkan penggunaan dan penyebaran selama menyertakan kredit pembuat dan bukan untuk tujuan komersial.

Tidak hanya para blogger yang menggunakan kartu ucapan elektronik. Sebagian situs-situs menggunakannya. Tidak terkecuali sebuah situs layanan karir dari almamater saya: InfocomCareer. Namun tampak ada yang familiar di situs tersebut...

InfocomCareer Nyolong Ketupat Basi

Catatan: Tangkapan layar diambil pada 21 Oktober 2008, menggunakan akses internet dari jejaring Telkomsel Flash.

5 Comments

Published on 2008-10-21 23:01:05. 4610 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Ketik DI (sepasi) SINI

Dalam rangka Bulan Bahasa, Oktober, dalam sebulan ini ada beberapa kontemplasi mengenai penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai aturan EYD dan KBBI oleh para blogger — termasuk di dalamnya pengguna layanan Plurk.

Juga dalam rangka memenuhi janji para pemuda untuk menggunakan Bahasa Indonesia: Sumpah Pemuda 28 Oktober — blogger yang merasa sudah tidak muda lagi tentunya pernah menjadi pemuda juga. Namun, seperti yang telah saya utarakan dalam tulisan saya sebelumnya mengenai penggunaan Bahasa Indonesia yang baku untuk blog, tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan pendidikan dari usia dini hingga balita untuk mengajari manusia agar bisa berbahasa. Dan pendidikan Bahasa Indonesia dimulai dari awal masuk SD hingga lulus SMU — atau sederajat — bahkan hingga perguruan tinggi.

Walaupun tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baku dalam blog, namun kesalahan penulisan ada baiknya diminimalkan. Sesuai dengan salah satu tulisan Ikhlasul Amal dalam layanan Plurk:

Ikhlasul Amal [pikir] perlu disosialisasikan: KETIK DI SPASI SINI. *termasuk juga di sana, di mana

Ya, penggunaan kata "di" acapkali salah dan tertukar antara fungsinya sebagai kata depan dan sebagai imbuhan kata kerja pasif. Sepanjang ini, kesalahan ini yang paling umum ditemukan dalam dunia blog — tidak hanya dunia blog, juga di dunia perketikan lainnya: seperti SMS.

Kata "di" — dan "di-" — digunakan dalam dua kondisi: sebagai kata depan, dan kata kerja pasif.

"Di" sebagai kata depan umumnya digunakan untuk menunjukkan suatu lokasi atau tempat. Misalnya:

di sini: Saya meletakknya tas di sini. Inti dari permasalahannya adalah di sini.
di mana: Kamu sedang berada di mana? Barang itu ada di mana?
di rumah: Saya sedang menggambar di rumah.

Hal yang perlu diperhatikan adalah: antara kata depan "di" dan kata yang mengikutinya terdapat spasi. Bukan disambung seperti: "dimana" atau "dirumah". Maka dari itu, saya harap kampanye "Ketik DI spasi SINI" tersebut dapat mengedukasi masyarakat.

"Di-" sebagai kata kerja pasif digunakan untuk menunjukkan aktivitas (predikat) yang dilakukan objek kalimat terhadap subjek kalimat. Misalnya:

dijahit: Baju merah itu dijahit oleh ibu.

Aktivitas penjahitan dilakukan oleh ibu (objek kalimat) terhadap baju merah (subjek kalimat). Antara kata "di-" dan "jahit" tidak dipisahkan oleh spasi, melainkan disambung. Ini karena "dijahit" adalah bentuk pasif dari kata "menjahit". Di mana awalan "me-" dan kata kerja "jahit" juga tidak dipisahkan oleh spasi.

Contoh lain:

diperbaiki: Mobil kami diperbaiki oleh ayah.
disimpan, diminum: Air kelapa yang disimpan di dalam lemari es itu diminum oleh Budi.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberi pencerahan buat para pembaca dalam menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya bukanlah ahli Bahasa Indonesia, hanya seorang warga negara Indonesia yang sedikit perhatian terhadap bahasa nasionalnya. Jadi, tidak tertutup kemungkinan adanya kesalahan yang terjadi dalam tulisan ini. Saya sangat berterima kasih untuk kritik, saran, dan masukan yang membangun untuk tulisan ini.

Semoga bermanfaat.

— Adham Somantrie, ST.

22 Comments

Published on 2008-10-27 11:16:39. 3701 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Membaca Buku Kembali: Kertas, Bukan Elektronik

Beberapa tahun belakangan, saya telah meninggalkan salah satu hobi saya saat kecil, yakni membaca (buku). Namun sejak SMU dan kuliah (tahun 2000-an) kebiasaan saya ini berkurang dan terus berkurang hingga akhirnya hilang. Kegiatan perluasan wawasan dan aktualisasi informasi lebih banyak saya lakukan di depan komputer: dengan internet lebih interaktif!

Namun buku tetap memberikan pengalaman yang berbeda. Termasuk buku elektronik (e-book, electronic book). Akan tetapi, saya mungkin masih termasuk generasi konservatif, generasi yang lebih menyenangi membaca tulisan (ataupun gambar) dari buku kertas daripada dari layar komputer: buku elektronik — sekalipun itu Apple Cinema Display.

Tidak percaya? Tanyakan pada Diki.

Memang dalam beberapa tahun terakhir saya selalu membeli majalah sebagai bahan bacaan, bahkan sempat berlangganan untuk beberapa tahun. Adalah majalah Concept dan MacWorld Indonesia yang saya pilih sebagai bahan bacaan. Saya rasa, kedua majalah tersebut cukup seimbang untuk kedua belah otak saya: kiri dan kanan, walaupun tampak lebih berat ke kanan

Pertama kali saya kembali tertarik membaca buku adalah karena buku The Da Vinci Code, yang saya temukan di kamar teman saya: Ridho. Bahkan, saya duluan yang menuntaskan buku tersebut daripada sang pemilik Setelah itu, saya pun membeli ketiga buku lainnya.

Digital Fortress, banyak berhubungan dengan dunia komputer dan kriptografi. Saya beli pada pertengahan 2006, niatnya untuk mengisi waktu senggang di kala kerja praktek. Namun ternyata buku tersebut saya tuntaskan sebelum memasuki minggu kedua kerja praktek. Pada akhir 2006, saya lanjutkan dengan Angels and Demons. Dan beberapa bulan kemudian — awal 2007 — saya lengkapi dengan Deception Point.

Memang, buku-buku Dan Brown sesuai dengan selera saya. Keempat novel yang saya baca tersebut adalah versi terjemahan. Hanya buku Da Vinci Code yang tidak saya beli: untuk apa saya membeli buku yang sudah saya baca?

Ah, ternyata memang beda antara sekedar membaca, dengan memiliki dan membaca. Bagi saya, beberapa buku yang menyandang predikat "patut dimiliki" (must have) ataupun "untuk dikoleksi" (collectibe items), memang lah harus dimiliki. Dan lebih baik lagi jika yang kita punya itu adalah edisi khusus. Saya baru terpikir, untuk itulah ada buku yang dijual dalam versi khusus seperti hard cover ataupun illustrated.

Namun sekarang saya tidak dapat lagi menemukan buku Da Vinci Code edisi berilustrasi — bahkan versi lainnya — di toko buku. Dan, saya belum cukup gila untuk membeli ketiga buku lainnya dalam versi hard-cover (dengan isi yang sama!).

Selain novel, saya pun mencoba bernostalgia dengan membeli Tin-Tin : Petualangan di Tanah Sovyet. Seingat saya, saat saya kecil, buku Tin-Tin ini berukuran A4 dengan penuh warna untuk versi Bahasa Indonesia. Namun kini versi Bahasa Indonesianya berukuran lebih kecil (B4?) dan hitam-putih.

Atau mungkin jika Diki berniat meluncurkan chickenstrip edisi cetak, saya akan melakukan pre-order dan menghadiri konferensi pers peluncurannya.

Ah, kurang dari lima buku dalam setahun! Rak buku lebih banyak dipenuhi oleh kertas fotokopi soal-soal UTS/UAS dan hasil cetak materi kuliah (slide dan e-book) yang belum dimusnahkan. Saya rasa, saya harus kembali giat membaca buku. Walaupun banyak membeli buku berarti banyak mengeluarkan uang. Tapi, jika buku berisi ilmu yang berharga, wajar saja jika perlu pengorbanan untuk membacanya, dan pastinya untuk memilikinya. Tidak jarang pula, ilmu yang ada di dalam satu buku itu jauh lebih mahal daripada harga yang harus ditebus.

Buku yang sedang saya baca saat ini adalah The Apple Way oleh Jeffrey L. Cruikshank, versi terjemahan (Bahasa Indonesia). Bukan, buku ini bukan ditujukan untuk para penggemar komputer. Walaupun saya rasa buku ini sangat direkomendasikan untuk para Apple fanboys . Pada kenyataannya ini adalah buku mengenai manajemen. Mengenai hal-hal yang dapat diambil dari pengalaman dan kebijakan manajemen dari perusahaan Apple, Inc. (sebelumnya Apple Computers, Inc.).

Sementara buku lain yang ingin saya baca adalah iWoz. Sebuah buku biografi mengenai Steve Wozniak, rekan Steve Jobs dalam mendirikan Apple Computers, Inc., yang sesungguhnya menciptakan komputer Apple.

Karena cukup sulit mendapatkan buku ini, saya akhirnya mencoba layanan Amazon. Harga buku versi hardcover di Amazon lebih murah daripada versi biasa di Indonesia. Dengan ongkos kirim internasional, hanya menjadi sedikit lebih mahal. Dan sialnya, kalaupun saya menemukan buku ini di toko buku, kondisinya sudah tidak sempurna lagi — sudah dibuka dan dibaca orang. Ah, dasar orang Indonesia!

Dan sekarang saatnya menunggu kiriman dari Amazon.

Anda punya rekomendasi buku yang bagus?

Atau, mungkin saya perlu buku manajemen dan filsafat?

Atau, mungkin memang kapasitas otak saya yang sudah mencapai batas maksimum? low disk space!

11 Comments

Published on 2008-10-31 22:43:00. 3641 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Ads

Archive

2004SeptemberOktoberNovemberDesember

2005JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2006JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2007JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2008JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2009JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2010JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2011JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2012JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2013JanuariFebruariMaretAprilMei

2004 - 2013Full Archive

© 2003 - 2013, Adham Somantrie. Bandung and Jakarta, Indonesia.
Built with Bootstrap. Made on Mac.