Adham Somantrie

Digital media communications. MBA student. Techie. Founder of siteo.us. Editor for MakeMac. And also a runner.

hi@adha.ms adhams @adhams @adham Adham Somantrie

Indonesia Photoweek 2007

Minggu (30/12) kemarin akhirnya saya bersama Daru ikutan ke Braga. Sesuai informasi dari Krishna, 29-31 Desember 2007 ada Braga Photo Festival. Berhubung tidak terlalu bersemangat karena padatnya kegiatan, saya baru datang pada tanggal 30 Desember 2009 yang bertepatan dengan acara rally foto dan pemecahan rekor MURI "fotografer dan model terbanyak". Saya dan Daru baru sampai di lokasi sekitar jam 12 siang. Tadinya saya menyangka, hanya ada acara diskusi fotografi dan pameran foto. Ternyata ada acara rally foto juga (ketinggalan berita nih, terlalu serius ngejain TA sih!)

Hingga pada akhirnya saya "ikut-ikutan" foto, walaupun saya dan Daru tidak mendaftarkan diri sebagai peserta. Menyesal juga sebenarnya, karena setelah melihat hasil foto teman-teman yang berfoto di pagi hari, sungguh cuaca yang bagus. Soalnya di siang hari, seperti biasa Bandung mendung.

Beberapa foto model, dapat di lihat di sini, sini, sini, dan sini. Foto model gadungan juga bisa dilihat di sini, sini, sini, dan sini.

Tentunya beberapa rekan-rekan dari PhotoST mengikuti acara ini. Beberapa rekan yang sudah lulus dan bekerja di luar kota Bandung pun hadir, sehingga tak pelak acara ini pun dijadikan ajang reuni.

Mudah-mudahan acara seperti ini akan diadakan lagi tahun depan. Dan pastinya, saya akan turut berpartisipasi secara legal.

PhotoST at PhotoWeek 2007

Dari kiri ke kanan: Uniardana, Krishna, Hardo, Pacul, Margawitra, Bram, Mira, Wira, Saya, Daru.

6 Comments

Published on 2008-01-03 09:21:06. 2973 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Ramai-Ramai Bisnis di Ruang Maya

Social Computing is not a fad. Nor is it something that will pass you or your company by. Gradually, Social Computing will impact almost every role, at every kind of company, in all parts of the world. (Forrester Research, Social Computing - How Network Erode Institutional Power, and What to Do About It)

SEBAGIAN anak muda, khususnya di kota-kota besar, mungkin sama-sama merasakan bahwa hidup masa kini tidak bisa dilepaskan dari internet. Kepentingan tugas kuliah, pekerjaan, hiburan hingga mencari teman, semuanya melibatkan internet. Belakangan, transaksi jual beli di internet juga semakin diakrabi.

Kenyataannya, perdagangan berbasis sistem elektronik khususnya internet (e-commerce) memang semakin marak (booming). Kini, tidak sedikit orang mulai melirik belanja secara online. Malas berdesakan di mal, mengirit ongkos BBM, hingga kesibukan, menjadi alasan orang tak bisa berbelanja ke toko secara fisik. Prospek online shop semakin cerah. Beberapa mahasiswa pun turut mencium peluang tersebut dan tak ragu terjun membuka online shop. Seperti apa ceritanya?

Okky Diane Palma, mahasiswa Fikom UI 2004, punya keinginan membuka butik sendiri. Namun, karena butuh banyak tenaga dan biaya, ia pun menunda mimpi itu. Belakangan, timbul ide di benak Okky yang mengaku sangat akrab dengan dunia virtual ini, yaitu berjualan secara online. "Saya suka beli barang-barang lucu, tetapi kalau dibeli nanti malah menuhin lemari. Namun, akhirnya dibeli aja, untuk dijual lagi," kata Okky pada Kampus, saat menceritakan mulanya ia membuka online shop Kandang Sapi Buntal (www.dianepalma.multiply.com) pada Februari 2007.

Di online shop-nya, Okky menjual beragam kebutuhan pakaian perempuan, dari mulai sepatu, baju, tas sampai aksesori. Untuk suplai barang-barang sendiri, ia melakukan pencarian (hunting) di pasar lokal dan luar negeri, hingga memproduksi sendiri. Pelan-pelan online shop-nya pun mulai diketahui banyak orang. Okky juga kerap ber-offline dengan ikut berbagai bazar kampus.

Ada lagi Galuh Sitompul, mahasiswa Fikom Unpad 2002, yang juga membuka online shop Rumah Sepatu (www.shoemaniack.multiply.com). Awalnya, ia iseng mencari penghasilan tambahan dengan menawarkan pembuatan sepatu custom pada teman-teman kampusnya. Ia kemudian berpikir tidak ada salahnya melebarkan distribusi jualannya lewat internet.

Agar usaha bisa sukses, seseorang tentunya harus tahu bagaimana membuat orang lain tertarik pada produknya. Begitu juga dengan berjualan di internet, ada banyak cara untuk mempromosikan produk. Misalnya, posting di forum dan milis, memberi pesan pribadi lewat e-mail, hingga menumpang promosi di guest book sebuah website. Bagi Galuh, cara promosi yang efektif adalah rajin meng-update barang. "Itu akan ngundang orang datang, karena tertarik koleksi yang variatif," katanya.

Masih banyak anak muda lainnya yang kini juga tengah coba-coba membuka online shop. Kalau tidak percaya, kawan-kawan Kampus bisa browsing di salah satu situs yang lagi in sekarang, yaitu Multiply. Di sana ada banyak online shop yang rata-rata baru berdiri pertengahan akhir 2007 lalu. Yang paling menonjol adalah situs online shop khusus pakaian perempuan. Baju dan tas tidak bermerek sampai label desainer internasional tersedia di sana . Ada juga situs yang menjual perangkat komputer, buku, pernak-pernik otomotif, sampai film-film serial.

Tren terkini memang hampir semua perusahaan kecil ataupun besar membuat dan menggunakan situs untuk mendukung kegiatan promosi. Setidaknya ada dua macam situs yang bisa dipakai untuk membuka online shop. Pertama, situs penyedia fasilitas blog gratis, misalnya, Blogspot, Blogdrive, dan Multiply serta yang kedua yakni situs berbayar. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan. Bila menggunakan fasilitas gratis, tentunya tidak perlu keluar uang untuk menyewa hosting. Namun, ada juga yang memilih situs berbayar agar terkesan lebih profesional, seperti trio Tania Mirella, Luke Liono, dan Mitsuko Wong yang baru saja meluncurkan online shop-nya (www.byutik.com) awal November 2007 lalu. "Kita juga bisa dapat alamat yang lebih mudah dihafal, dan desainnya bisa 100% sesuai dengan yang kita mau," kata Tania, mahasiswa Desain Produk FSRD ITB 2003.

Uniknya, trio yang berteman sejak SMA ini menggerakkan bisnis mereka secara lintas negara, sebab Tania kuliah di Bandung , Mistuko kuliah di Taiwan , dan Luke kuliah di Singapura. Mitsuko dan Luke pun mendapat tugas spesial berburu barang bagus untuk dibawa ke Indonesia, sementara Tania mengurusi situs dan promo material.

Nah, lain lagi dengan Adham Soemantrie, mahasiswa Teknik Komputer STT Telkom 2003. Ia juga mencari pendapatan dari internet, namun tidak membuka situs sendiri. Adham berjualan baterai laptop melalui sistem authorized dealer, yaitu mengambil barang dari induknya dengan "harga distributor". Ia tidak memikirkan masalah branding, ia mengusung merek sama dengan induk yaitu di situs www.gudangbatere.com.

Kalau ada yang kurang menyenangkan dari membuka online shop, itu biasanya biaya internet yang membengkak. Namun demikian, kalau penjualan bagus, tentu biaya internet berapa pun pasti akan tertutupi. Masalah lain adalah manajemen waktu, khususnya untuk kuliah. Apalagi, jika penjualan mulai laris manis, namun pegawainya hanya satu yaitu diri sendiri yang mengerjakan semua, dari mulai online, menjawab pembeli, membungkus, hingga ke tempat paket barang.

Di luar itu, "Membuka online shop itu menyenangkan, karena tidak perlu membayar pegawai, tempat, dan lain-lain," kata Okky. "Pas buat mahasiswa, bisa disesuaikan dengan waktu luang," kata Galuh. Jangan salah, keuntungannya juga lumayan lho! Okky dalam seminggu bisa mengirim paket ke 20 alamat, dan satu alamat bisa membeli 3-4 barang. Sementara Galuh dalam sebulan bisa mengirim 100-150 paket pesanan per bulan. Taruhlah, untung dari setiap barang Rp 25 ribu, berarti Rp 2-Rp 3 juta sudah pasti ada dalam genggaman.

**

"BELANJA online itu suka deg-degan saat nunggu barang, apalagi saat membuka pembungkusnya. Kalau barangnya bagus dan sesuai, ya senang. Tetapi, kalau jadinya ngaco atau malah nggak nyampe rumah," kata Lintang yang sudah beberapa kali berbelanja online.

Dalam bisnis online, yang paling dibutuhkan adalah rasa kepercayaan besar dari pelanggannya. Tidak dimungkiri, kejahatan di internet atau yang berhubungan dengan transaksi elektronika masih menjadi topik panas. Bahkan, pelanggaran hukum dan etika bukan hanya dilakukan oleh penjual pada pembeli, tetapi bisa juga sesama penjual. "Foto barang-barang koleksi saya ternyata pernah diambil dan dipampang oleh orang lain di situsnya tanpa permisi," kata Galuh.

Pada e-commerce, pembayaran setidaknya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu transfer antarbank dan via kartu kredit. Namun sekarang ini, online store yang ada, kebanyakan baru berada di tahap catalog shopping dan tidak sampai pada payment processing. Rata-rata hanya menerima pembayaran melalui transfer antarbank, sedangkan pembayaran melalui kartu kredit belum banyak. Kita ada juga pikiran ke arah sana, asal harus yakin dulu keamanannya," kata Tania.

Menurut Adham, para pembeli harus pintar dalam melakukan belanja online. Jangan sampai menyesal karena barang tidak juga sampai di tangan. Untuk mencegah terjadinya cyber crime, selain kewaspadaan dari pembelinya, juga dibutuhkan peraturan yang mengikat dari pemerintah. Kini masih dibahas RUU ITE (Rancangan undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik) yang rencananya diberlakukan tahun 2008 .. "Kalau buat usaha kecil-kecilan rumahan seperti online shop, kondisi internet di Indonesia yang masih `rimba` gini, malah bisa bikin banyak keuntungan untuk online shop berkembang. Tetapi, kalau ada peraturan mungkin bikin orang lebih mikir untuk mulai karena banyak ini dan itunya. Walaupun itu bagus, jadi semacam seleksi, mana online shop yang serius dan nggak serius," ucap Tania.

Yang jelas, pengguna internet dunia yang terus bertambah merupakan pangsa pasar online yang patut diperhitungkan. Jadi, apa kawan-kawan Kampus berminat ikut menjadikan internet sebagai ladang penghasilan? ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Sumber: Pikiran Rakyat - Kampus - Ramai Ramai Bisnis di Ruang Maya (3 Januari 2008)
Artikel terkait: Pikiran Rakyat - Kampus - Cara Pintar Belanja Online

27 Comments

Published on 2008-01-04 00:41:57. 4625 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Analisa Translasi IPv6-IPv4 Menggunakan Faith

Kata Pengantar:
Saya telah memutuskan bahwa tugas akhir saya akan bersifat open-source dengan alasan edukasi dan proses pembelajaran. Oleh karena itu, saya mempublikasikan sebagian dari draft tugas akhir saya di blog ini. Insya Allah, jika saya berhasil menjadi sarjana, saya akan mempublikasikan buku tugas akhir saya juga. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Dan, karena bersifat open-source, saya harap ada masukan dari pembaca untuk memperbaiki tulisan ini, sehingga tugas akhir saya menjadi lebih baik lagi.

Link terkait: IPv6/IPv4 Translator dengan Faith

Januari 2008, Adham Somantrie.

Sistem transport relay translator FAITH ini menggunakan faithd sebagai aplikasi translator daemon dan sebuah pseudo-interface: faith0. Paket paket IPv6 yang akan ditranslasikan menjadi paket IPv4 harus diterima oleh pseudo-interface faith0, untuk itu harus dikonfigurasikan packet routing agar paket-paket IPv6 tersebut diteruskan ke interface faith0.

Pseudo-interface faith0 adalah interface faith yang bekerja untuk menangkap trafik TCP IPv6. Paket paket ini kemudian ditangani oleh aplikasi translator, yakni faithd. Faithd akan mentranslasikan paket-paket tersebut dan akan diteruskan ke tujuan melalui interface yang mampu mengirimkan paket IPv4. faithd akan menggunakan alamat IPv4 yang telah dipetakan ke alamat IPv6 sebagai alamat tujuan paket IPv4 tersebut.

Faithd akan mentranslasikan paket paket IPv6 yang tertangkap oleh interface faith0 yang memiliki prefiks alamat IP tujuan yang sesuai dengan yang telah dikonfigurasikan. Pada skenario tugas akhir ini prefiksnya adalah 3ffe:ffff:eeee::. Jika ada paket yang memiliki alamat IP tujuan dengan prefiks tersebut, maka faithd akan mentranslasikan header IPv6 paket tersebut menjadi header IPv4. Proses ini dinamakan header conversion. Alamat IP sumber paket akan digantikan dengan alamat IPv4 gateway. Sementara alamat IP tujuan akan digantikan dengan 32 bit terakhir dari alamat IPv6 tujuan paket.

Tidak seperti IPv6, IPv4 memiliki header checksum untuk memeriksa integritas paket sesuai dengan RFC 791. Dalam proses translasi, faithd menghitung checksum dari header paket yang telah ditranslasikan.


Gambar 1: Paket dari klien ke gateway


Gambar 2: Paket dari gateway ke server

Untuk segmen di lapis transport, interface faith0 hanya dapat menangkap segmen dengan protokol TCP. Sehingga metode ini tidak dapat digunakan untuk mentranslasikan aplikasi yang menggunakan protokol UDP. Umumnya aplikasi yang mengirim data secara realtime seperti VoIP ataupun aliran video (video streaming) menggunakan protokol RTP yang digabungkan bersama protokol UDP.

Karena IPv4 yang digunakan untuk mewakili komputer-komputer pada jaringan IPv6 hanya ada satu alamat, faith juga melakukan proses multiplexing pada lapis transport seperti overloading NAT (Network Address Translation). Selain merubah alamat IP sumber, faith juga merubah alamat port sumber. Faith menyimpan alamat IP dan alamat port sebelum dan sesudah translasi di address pool untuk mengembalikan alamat tersebut jika ada balasan dari komputer tujuan. Untuk alamat port tujuan, faith tidak melakukan perubahan. Hal ini dilakukan agar lebih dari satu komputer pada jaringan IPv6 dapat mengakses layanan yang sama dari sebuah server di jaringan IPv4 tanpa ada segmen-segmen yang tertukar walaupun komputer-komputer pada jaringan IPv6 tersebut menggunakan alamat port yang sama.

Protokol TCP memiliki checksum untuk menjaga integritas data yang bersumber dari data header dan data payload. Jika ada perubahan pada header maupun payload selama proses translasi, maka checksum ini perlu dikalkulasikan ulang agar penerima dapat memproses data dengan baik.


Gambar 3: Segmen dari klien ke gateway


Gambar 4: Segmen dari gateway ke server

Aplikasi faithd ini juga bekerja sama dengan aplikasi lain dan berfungsi sebagai Application Layer Gateway (ALG). Dalam skenario tugas akhir ini, faithd bekerja sama dengan aplikasi ftpd dan berfungsi sebagai ALG untuk mentranslasikan protokol di lapis aplikasi, yakni protokol FTP. ALG ini berfungsi untuk mentranslasikan protokol lapis aplikasi jika protokol tersebut berbeda syntax untuk jaringan yang berbeda, atau protokol lapis aplikasi tersebut membawa data berupa alamat IP atau alamat port.

Berikut adalah contoh translasi di lapis aplikasi. Perintah dari klien kepada server untuk meminta Passive Mode FTP adalah "PASV" untuk IPv4. Tetapi perintah yang sama untuk jaringan IPv6 adalah "EPSV", sesuai dengan RFC 2428.


Gambar 5: Data lapis aplikasi dari klien ke gateway


Gambar 6: Data lapis aplikasi dari gateway ke server

14 Comments

Published on 2008-01-08 04:53:36. 4185 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Integrasi Yahoo! Emoticons


Setelah sekian lama saya menginginkan adanya smileys di artikel dan komentar pada blog ini, akhirnya saya mencoba meluangkan waktu untuk merealisasikannya. Yang membuat lama pada proses perencanaan adalah karena saya ingin smileys ini bersifat modular seperti plug-ins, sehingga untuk proses menambahkan dan membuangnya akan lebih gampang. Seperti sistem layout template blog ini. Saya harus membuat sendiri sistem ini dikarenakan saya menggunakan CMS buatan saya sendiri.

Smileys yang saya gunakan adalah saya ambil dari Yahoo! Messenger emoticons. Pilihan ini saya ambil karena menurut saya secara subjektif, smileys ini sangat umum dan populer penggunaannya di internet.

Sementara proses realisasinya sudah saya lakukan sejak Jum'at (11/01) kemarin. Saya upload materinya saat saya sedang beristirahat di sela-sela acara keluarga sewaktu di Pekanbaru, Riau. Saya menggunakan koneksi wi-fi dari kamar hotel Aston Pekanbaru yang ternyata kecepatan aksesnya tidak seburuk kualitas hotelnya. Hasil speedtest menunjukkan 120 kbps untuk downlink. Kecepatan yang lebih dari cukup untuk sebuah "hotspot".

Daftar emoticons tersebut dapat dilihat langsung di situs Yahoo! Messenger Emoticons.

17 Comments

Published on 2008-01-14 19:54:46. 2944 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

MacBook Air: Envelopes Sold Separately

Yup... MacWorld 2008, Moscone West, San Francisco. Kita semua sudah memprediksikan sub-notebook terbaru dari Apple, MacBook Pro Nano! Yakni MacBook Pro yang lebih tipis, dengan ukuran dibawah 15". Dan ternyata kita meleset. MacBook Air is!

MacBook Air. Notebook tertipis di dunia saat ini. Dengan berat kurang dari 2 kilogram. Tentunya tidak akan mengorbankan kenyamanan, secara memiliki layar 13.3" dengan resolusi 1280x800 pixel dan LED backlit serta full-size keyboard seperti MacBook, dan jangan lupakan backlit iluminated keyboard with ambient sensor!! Perbedaannya hanya pada tipisnya, dan aluminium case.

Tentunya dengan ketipisan ini, banyak sekali yang mesti dikorbankan. Port dikebiri, yang tersisa hanya satu buah USB port, satu buah audio out, dan sebuah micro-DVI port. Dan tak lupa tentunya MagSafe charger port. Media penyimpanan pun sudah menggunakan harddisk 1.8" berkapasitas 80GB (standar) dan dapat diganti dengan 64GB SSD (Solid State Disk) yang tahan guncangan serta lebih hemat konsumsi listriknya. Dengan konfigurasi standar, diklaim mampu bertahan 5 jam.

Bahkan, ethernet port pun dihilangkan. Untuk menanggulangi pengurangan itu, disisipkan lah teknologi wi-fi IEEE 802.11a/b/g/n (802.11 n draft) dan bluetooth. Dan, MacBook Air ini dapat "meminjam" optical drive dari Mac atau PC Windows lain, "wirelessly"

Biasanya komputer ultra-portabel mengorbankan kecepatan. Tetapi tidak dengan MacBook Air. MacBook Air dilengkapi dengan RAM on-board sebesar 2GB dan prosesor Intel Core 2 Duo 1.6GHz (dapat diupgrade menjadi 1.83GHz) yang sebenarnya, walaupun tidak sepenuhnya benar. Apple memesan prosesor khusus kepada Intel. Yakni, prosesor Intel Core 2 Duo yang sama dengan yang ada di pasaran, namun dengan ukuran fisik yang jauh lebih kecil!

Jangan heran jika pada keynote tadi malam, Steve Jobs pun membuktikannya dengan memasukkan MacBook Air ini ke dalam amplop. Envelopes Sold Separately... Wakakakaka....

OK, ditawarkan 1799USD. Mahal? tapi buktinya malam ini banyak yang ingin membeli. Termasuk AA Nata yang sudah ngidam-ngidam dari tahun lalu. Hehehe...

Ya, ini jauh diluar dugaan saya. Dan tentunya saya tidak akan membeli MacBook Air karena tidak sesuai dengan kebutuhan saya. Saya tetap akan menunggu MacBook Pro Nano... Dan rencana spontan saya untuk menjual PowerBook pun dibatalkan. Saya tetap dengan resolusi saya tahun 2008: PowerBook dengan HDD 160GB, dan sebuah Cinema Display HD 20".

Dalam keynote tadi malam, juga diluncurkan firmware baru untuk iPhone dan iPod Touch serta SDK untuk para developer agar dapat mengembangkan aplikasi untuk perangkat itu. Apple TV 2.0 merupakan perbaikan dari generasi sebelumnya dengan beberapa fitur baru. Selain itu, perangkat baru yang diperkenalkan adalah Time Capsule.

Time Capsule, mirip dengan AirPort Extreme. Hanya saja, ia dilengkapi dengan built-in harddisk drive dengan kapasitas 500GB atau 1TB yang dapat diakses melaui jaringan, dengan kabel maupun tanpa kabel. Ya, sangat sesuai untuk fitur "Time Machine", karena itu lah dinamakan "Time Capsule".

Time Capsule, merupakan perangkat dengan fungsi sebagai access point, router, NAT, NAS, bahkan mendukung IPv6 tunneling. Memiliki 4 ethernet port dengan kemampuan gigabit ethernet, 1 port WAN, dan 3 port LAN. Serta memiliki sebuah port USB yang dapat digunakan untuk harddisk eksternal, maupun printer agar dapat digunakan beramai-ramai. Sebuah solusi yang baik untuk pengguna rumahan. Hanya dengan 299USD (versi 500GB) atau 499USD (versi 1TB), Anda bisa mendapatkan sebuah wireless router dan NAS serta backup storage untuk rumah Anda.

13 Comments

Published on 2008-01-16 14:56:52. 3136 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Tak Oke

Direkam secara spontan di kost Rian, Setiabudi, Bandung. 19 Januari 2008.
Vokal: Adham Somantrie.
Vokal latar: Rian Pratama.
Gitar: Yamaha CX330 CX40, oleh Adham Somantrie.
Kamera: Ponsel SonyEricsson W850i, oleh Rian Pratama.
Mikrofon: Bluetooth Headset, Motorola.
Penyunting video: Rian Pratama, menggunakan QuickTime dengan MacBook.

Aaahh... Oke...

PS:
Link pada YouTube.com
Video yang sama, pada imeem.com

10 Comments

Published on 2008-01-20 00:48:52. 2642 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

IPv6: Internet Protocol version 6

IPv6 (RFC 2460) dirancang sebagai perbaikan dari IPv4 (RFC 791), dan bukan merupakan perubahan yang ekstrim dari IPv4. Fungsi-fungsi yang bekerja pada IPv4 juga ada pada IPv6, sedangkan fungsi-fungsi yang tidak bekerja pada IPv4 dihilangkan pada IPv6. Perubahan dari IPv4 ke IPv6 dapat dibagi dalam beberapa kategori, yaitu:

1. Kapabilitas pengalamatan yang semakin besar. Pengalamatan yang digunakan meningkat dari 32-bit pada IPv4 menjadi 128-bit pada IPv6. Hal ini digunakan untuk mendukung hirarki pengalamatan dan jumlah pengalamatan node yang lebih banyak, dan konfigurasi alamat-alamat secara otomatis yang lebih sederhana.

2. Penyederhanaan format header. Beberapa field pada header IPv4 telah dihilangkan atau dibuat menjadi optional untuk mengurangi cost processing dari penanganan paket dan untuk menjaga cost bandwidth dari IPv6 sekecil mungkin walaupun ada peningkatan ukuran alamat. Walaupun panjang pengalamatan IPv6 empat kali lebih panjang daripada pengalamatan pada IPv4, panjang header IPv6 hanyalah dua kali lebih panjang daripada header IPv4.

3. Kemampuan pelabelan aliran. Kemampuan baru ditambahkan, yakni memberi label pada paket yang mengalir pada jaringan tertentu ketika pengirim meminta perlakuan khusus, seperti QoS (quality of service) atau layanan real-time.

4. Peningkatan dukungan untuk header tambahan dan header pilihan (optional). Perubahan pada penandaan pilihan pada header memungkinkan proses pelewatan paket yang lebih efisien, batasan-batasan panjang option yang lebih besar, dan flaksibilitas untuk option yang mungkin ada di masa depan.

5. Kapabilitas untuk QoS (quality of service). Sebuah kapabilitas untuk memingkinkan pemberian label pada paket-paket dari aliran trafik tertentu dimana pengirim membutuhkan penanganan khusus.

6. Kapabilitas autentifikasi dan privasi. IPv6 mendukung autentifikasi, integritas data, dan kerahasiaan data tertentu.

Format header pada IPv6 menyederhanakan format header pada IPv4. Perbandingan antara format header IPv6 dan IPv4 adalah sebagai berikut:


Gambar 1. Format Paket IPv4


Gambar 2. Format Paket IPv6

2 Comments

Published on 2008-01-21 14:30:21. 3402 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

IPv4/IPv6 Translation for File Transfer Application

Today's internet is on migration process to IPv6 (Internet Protocol Version Six) network. It depends on capability of countries or intitutes that can bring theirselves IPv6 ready. IPv6 have bigger addressing range capability than the previous one, IPv4, that have smaller addressing range capability. This can make internet goes crowded and fullfilled, then need a new addressing system such as IPv6.

Data exchange and data sharing are today's most popular application on computer networks. FTP (File Transfer Protocol) is used widely by internet users for data exchange. Integration of native IPv6 networks and native IPv4 networks needs translation process.

This final task is done to analyze integration of file exchange service with FTP on IPv4 network infrastructure and IPv6 network infrastructure. Network performance such as delay of translation process will be analyzed for different infrastructures.

Final result of this final task is an integration between IPv4 network with IPv6 network that can be used for file exchange between those two different network.

1 Comments

Published on 2008-01-25 08:54:35. 2030 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nama Lengkap

Saya memiliki sebuah kebiasaan untuk menyimpan nama lengkap orang di daftar alamat (Address Book maupun Phone Book). Adalah sebuah kebiasaan yang saya pikir adalah sangat normal dan sangat positif, walaupun banyak orang menilai aneh hal ini.

Beberapa manfaat yang saya rasakan dengan melakukan kebiasaan ini adalah:

1. Saya bisa mendapatkan nama lengkapnya secara langsung seandainya saya membutuhkannya, misalya untuk dimasukkan ke dalam surat atau dokumen resmi. Bahkan dengan ejaan yang benar. Tidak jarang saya meminjam KTP teman saya untuk melihat ejaan namanya sebelum saya memasukkan ke daftar alamat di ponsel maupun di PowerBook.

Ya, untuk saya ejaan nama itu sangat penting. Apalagi sebagai pemilik nama dengan ejaan yang tidak lazim, Adham Somantrie, orang sering salah menuliskan atau mengetikkan: Adam Sumantri, Soemantrie, Soemantri, bahkan Soemantry. Tentunya mistype ini berdampak buruk terhadap sampai atau tidaknya email yang dikirimkan ke saya.

2. Tidak ada keraguan untuk yang memiliki nama yang sama. Tanpa bermaksud melecehkan, kita tahu bahwa ada beberapa nama "pasaran". Apalagi untuk yang memiliki banyak teman atau relasi, tentunya ada beberapa orang yang memiliki nama yang sama.

Kita ambil contoh saja Bunga, bukan nama sebenarnya. Misalnya saya memiliki tiga orang teman yang memiliki nama Bunga. Pertama, Bunga Andini (lagi-lagi, bukan nama sebenarnya) teman SMA saya. Kedua, Bunga Citra Lestari (tetap saja bukan nama sebenarnya), teman kencan saya. Dan yang ketiga, Bunga Lily Putri (ya.. ya.. ya... bukan nama sebenarnya), teman kerja saya.

Jika saya memasukkan ketiga kontak tersebut di dalam daftar telepon di ponsel tanpa menggunakan nama lengkapnya, tentunya akan sangat membingungkan memiliki tiga buah nama Bunga dengan nomor telepon yang berbeda. Beberapa cara yang "kurang sopan" misalnya menggunakan "nama sebutan" sebagai pelengkap. Misalnya Bunga Gendut, jika ternyata yang bersangkutan identik dengan tubuh gendut di dalam pikiran kita. Atau cara lain, membubuhkan nama lembaga afiliasi-nya, misalnya Bunga SMA 1, atau Bunga PT. Indonesia Investasi Jaya Abadi.

Namun akan ada sedikit kesulitan yang akan didapatkan jika ternyata nama panggilannya yang biasa kita gunakan sangat tidak ada hubungannya dengan nama aslinya. Misalnya Bunga Lily Putri ternyata memiliki nama panggilan akrabnya Neneng. Dimana korelasi antara kedua nama tersebut selain sama-sama memiliki hurup n dan g?

Bagaimana menurut Anda?

19 Comments

Published on 2008-01-30 23:52:27. 4894 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Nike+

Archive

2004SeptemberOktoberNovemberDesember

2005JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2006JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2007JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2008JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2009JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2010JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2011JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2012JanuariFebruariMaretAprilMei

2004 - 2012Full Archive

© 2003 - 2012, Adham Somantrie. Bandung and Jakarta, Indonesia.
Built with Bootstrap. Made on Mac.