Adham Somantrie

Blog. Design. Code. Digital. Brand.
And also a happy runner.

Private Collection Achmad Albar

Published on 2007-03-03 22:01:58

Private Collection Achmad Albar

Kebetulan kemaren (02/03) setelah maen ke apartemen juragan batere ngalor-ngidul bertiga ama Aam ke BIP. Mulai dari food-court yang sekarang tidak memiliki smoking area lagi, ngurusin batere, ngurusin Endonesah, sampe nonton Ghost Rider. Sebelum pulang, saya menyempatkan naik lagi untuk ke toko musik. Dan mencari CD yang sudah lama dicari: Private Collection Achmad Albar. Bayangin aja, hari gini mau nyari lagu-lagu lama dengan kualitas CD? kapan lagi? kalo kasetnya sih mungkin banyak. Secara jaman dulu (80-an) masih jarang tuh label yang mau produksi CD.

Berisi hits-hits yang dulu sempat populer di jamannya. Seperti "Sudahlah Aku Pergi" atau "Bis Kota" (yang dinyanyikan bersama band-nya: God Bless) yang menjadi salah satu lagu wajib saya. Serta dua lagu yang dinyayikan berdua dengan Gito Rollies: "Dona-Dona" dan pastinya "Kartika" secara suara Gito Rollies mendesah-desah gitu. Hahaha... Juga ada lagu yang dinyanyikan bersama dengan group "Pakarock", yakni bersama rocker-rocker endonesah jaman dulu: Om Ikang Fauzi dan Tante Nicky Astria. Ada lagu "Jangan Bedakan Kami" dan "Satu Dalam Harapan"

Read more...

20 Comments

Deception Point

Published on 2007-03-20 23:09:43

Deception Point
Buku ini dibeli di Toko Buku Gunung Agung setelah membeli CD Achmad Albar di BIP kemarin. Setelah membaca karangan Dan Brown lainnya, (sebelumnya saya sudah membaca The Da Vinci Code, Digital Fortress, dan Angels and Demons) memang dapat disimpulkan secara subjektif buku ini tidak sebaik The Da Vinci Code maupun Angels and Demons. Buku ini saya beli karena takut menyesal jika ternyata ceritanya bagus. Walaupun Andhika telah menawarkan untuk meminjamkan bukunya kepada saya, sebagai penggemar karya Dan Brown, saya tidak mau seperti pada awal saya mengenal karyanya: The Da Vinci Code, yang saya pinjam dari Ridho. Menyesal rasanya jika tidak memiliki buku tersebut, tapi saya tidak memiliki alasan yang kuat untuk membeli buku tersebut dikarenakan saya telah membacanya. Buat apa membeli sebuah buku yang sudah kita tahu isinya dan tidak berniat untuk membaca ulang? tentunya hanya akan menjadi sebuah pajangan yang mubazir.

Secara materinya yang kurang saya senangi dibanding dengan ketiga buku lainnya, namun materi yang ada di buku ini cukup bagus dan membuka wawasan seputaran militer dan pemerintahan negara Amerika Serikat. Namun dari segi cerita, buku ini lebih baik daripada Digital Fortress yang mulai dari pertengahan cerita sudah dapat ditebak siapa yang menjadi dalang dari semua ini. Ya, seperti biasa, dalam ceritanya, Dan Brown suka sekali mempermainkan pembaca dengan membingungkan pembaca dalam menerka siapa-siapa saja yang menjadi aktor dibalik semua masalah yang ada di dalam ceritanya.

Ceritanya menjelang pemilihan presiden di Amerika Serikat. Presiden yang sedang bekerja adalah seorang yang melindungi NASA. Sementara rivalnya menggunakan isu ke-tidak-efisien-an NASA dan menuduh NASA telah menghabiskan uang negara yang berasal dari pajak. Sehingga posisi presiden saat ini dan NASA sangat terpojok, ditambah dengan dekatnya waktu dengan pemilihan presiden, tentu hal ini merugikan pihak presiden untuk memenangkan pemilu yang berikutnya. Namun, ternyata NASA menemukan sebuah meteorit yang sangat luar biasa yang dapat membuktikan bahwa ada kehidupan di luar planet bumi. Ya, tentunya yang bernama meteorit berasal dari luar bumi, dan jika ada tanda kehidupan di meteorit tersebut berarti ada kehidupan di luar bumi bukan? Tapi, tentu saja sesuai dengan judulnya: Deception Point, Titik Muslihat, tampak ada sesuatu yang janggal yang terjadi dalam cerita ini. Dan beberapa (atau banyak?) orang tampak menjadi sangat sibuk dengan adanya kejanggalan ini. Dan selanjutnya bagaimana? baca saja sendiri ya... hehehehehe...

Read more...

9 Comments

Canon PowerShot S3 IS

Published on 2007-03-25 12:08:58

Rabu (21/3) kemarin, saya dan adik saya memutuskan untuk membeli sebuah kamera digital untuk keperluan dokumentasi pribadi sehari-hari. Ya, tadinya saya menabung untuk membeli sebuah telepon seluler baru yang dapat terkoneksi dengan PowerBook. Tapi setelah ditinjau ulang, tampaknya sebuah kamera digital lebih bermanfaat daripada sekedar mengganti telepon seluler.

Untuk survey awal, saya memanfaatkan katalog di situs Bhinneka untuk memilih dan menentukan kandidat kamera digital yang akan dibeli. Setelah menentukan tidak untuk memilih kamera tipe "pocket", akhirnya terpilih beberapa kamera hi-end kelas konsumer. DSLR? maunya sih, tapi dana sangat terbatas. Sementara kandidatnya adalah Kodak EasyShare Z650 (sekitar 2,7 juta rupiah), Z710 (2,9 juta), dan Z612 (3,1 juta). Ada Sony CyberShot DSC-H2 yang sangat menarik, namun harganya sedikit memberatkan (3,9 juta). Ada juga Fujifilm FinePix S5600 (3,6 juta) yang cukup menarik. Kamera-kamera ini terpilih karena dapat difungsikan dalam mode manual. Walaupun masih jenis point-and-shoot, bukan SLR, namun saya lebih menyukai memotret dengan mode manual. Walaupun saya sendiri tidak mengerti teknik dalam memotret.

Setelah mendapat beberapa model sebagai kandidat, kami pergi menuju BEC untuk survey barang. Ketiga model kamera Kodak diatas dapat ditemukan. Begitu juga dengan Fujifilm FinePix S5600. Hanya Sony CyberShot H2 yang tidak ditemukan, tapi yang ada malah Sony CyberShot H5 yang lebih baik (dan tentunya jauh diatas budget). Selain itu, kami juga menemukan Canon PowerShot S3 IS, yang tidak ada di katalog Bhinneka. PowerShot S3 tersebut ditawarkan dengan harga Rp.3.600.000,- hingga 3.750.000,-.

Read more...

19 Comments

© 2003 - 2017 Adham Somantrie at Jakarta, Indonesia — the city that never sleep.
Built with Bootstrap, jQuery, FontAwesome, Isotope and Adobe Edge Web Fonts. Made on MacBook Pro.