Are you currently viewing from mobile device? Switch to mobile version!

Adham Somantrie

Digital media communications. MBA student. Techie. Founder of siteo.us. Editor for MakeMac. And also a runner.

hi@adha.ms adhams @adhams @adham adhams Adham Somantrie Adham Somantrie

Private Collection Achmad Albar

Private Collection Achmad Albar

Kebetulan kemaren (02/03) setelah maen ke apartemen juragan batere ngalor-ngidul bertiga ama Aam ke BIP. Mulai dari food-court yang sekarang tidak memiliki smoking area lagi, ngurusin batere, ngurusin Endonesah, sampe nonton Ghost Rider. Sebelum pulang, saya menyempatkan naik lagi untuk ke toko musik. Dan mencari CD yang sudah lama dicari: Private Collection Achmad Albar. Bayangin aja, hari gini mau nyari lagu-lagu lama dengan kualitas CD? kapan lagi? kalo kasetnya sih mungkin banyak. Secara jaman dulu (80-an) masih jarang tuh label yang mau produksi CD.

Berisi hits-hits yang dulu sempat populer di jamannya. Seperti "Sudahlah Aku Pergi" atau "Bis Kota" (yang dinyanyikan bersama band-nya: God Bless) yang menjadi salah satu lagu wajib saya. Serta dua lagu yang dinyayikan berdua dengan Gito Rollies: "Dona-Dona" dan pastinya "Kartika" secara suara Gito Rollies mendesah-desah gitu. Hahaha... Juga ada lagu yang dinyanyikan bersama dengan group "Pakarock", yakni bersama rocker-rocker endonesah jaman dulu: Om Ikang Fauzi dan Tante Nicky Astria. Ada lagu "Jangan Bedakan Kami" dan "Satu Dalam Harapan"

Lagu yang gak pernah mati dan pernah dinyanyikan oleh banyak artis, mulai dari (Alm.) Nike Ardilla, Nicky Astria, hingga Tere: "Dunia Panggung Sandiwara" karya musisi rock kebanggaan endonesah: Om Ian Antono. Dan ada satu lagu yang aku sendiri blom pernah denger, tapi ternyata lagunya bagus, "Pengangguran". Coba dengerin deh.

Hanya saja, kemasan CD-nya sangat sederhana. Walaupun ada cover tambahan, tapi isi sampulnya hanya berisi teks lagu saja, tidak diberikan informasi mengenai lagu tersebut diambil dari album mana saja ataupun tahun produksi lagu-lagu tersebut. Setelah melihat "copyright" yang ada di sampul CD tersebut, ternyata : © 1994. Waw! luar biasa! Tampaknya ini CD yang diproduksi ulang. Dan label (atau produser?) CD tersebut sesuai dengan dengan toko musik tersebut: Harika (Harmonika Irama Karisma). Pantes aja CD nya ada di toko tersebut. Dan ternyata CD ini dapat dikenali dengan baik oleh iTunes, yakni sudah terdaftar di CDDB, sehingga saat saya memasukkan CD ke DVD drive PowerBook, iTunes langsung mendownload daftar judul lagu dan musisinya. Walaupun cover albumnya tidak dapat ditemukan oleh iTunes untuk CoverFlow-nya

Tinggal satu CD lagi nih yang blom ketemu: The Very Best of Anggun C Sasmi. Ada yang punya informasi toko musik yang masih menjual CD ini?

Track list:
1. Dunia Panggung Sandiwara
2. Syair Kehidupan
3. Sudahlah Aku Pergi Listen!
4. Wanita Indonesia
5. Dona Dona (Feat. Gito Rollies)
6. Robek
7. Jangan Bedakan Kami (Feat. Nicky Astria & Ikang Fauzi, Pakarock)
8. Kartika (Feat. Gito Rollies)
9. Prahara
10. Bis Kota
11. Menanti Kepastian
12. Satu Dalam Harapan (Feat. Nicky Astria & Ikang Fauzi, Pakarock)
13. Cintaku Tidak Sedikit
14. Pengangguran

Price: IDR 30.000,-
Produksi: Genta Records dan Harika.

20 Comments

Published on 2007-03-03 22:01:58. 7155 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Deception Point

Deception Point
Buku ini dibeli di Toko Buku Gunung Agung setelah membeli CD Achmad Albar di BIP kemarin. Setelah membaca karangan Dan Brown lainnya, (sebelumnya saya sudah membaca The Da Vinci Code, Digital Fortress, dan Angels and Demons) memang dapat disimpulkan secara subjektif buku ini tidak sebaik The Da Vinci Code maupun Angels and Demons. Buku ini saya beli karena takut menyesal jika ternyata ceritanya bagus. Walaupun Andhika telah menawarkan untuk meminjamkan bukunya kepada saya, sebagai penggemar karya Dan Brown, saya tidak mau seperti pada awal saya mengenal karyanya: The Da Vinci Code, yang saya pinjam dari Ridho. Menyesal rasanya jika tidak memiliki buku tersebut, tapi saya tidak memiliki alasan yang kuat untuk membeli buku tersebut dikarenakan saya telah membacanya. Buat apa membeli sebuah buku yang sudah kita tahu isinya dan tidak berniat untuk membaca ulang? tentunya hanya akan menjadi sebuah pajangan yang mubazir.

Secara materinya yang kurang saya senangi dibanding dengan ketiga buku lainnya, namun materi yang ada di buku ini cukup bagus dan membuka wawasan seputaran militer dan pemerintahan negara Amerika Serikat. Namun dari segi cerita, buku ini lebih baik daripada Digital Fortress yang mulai dari pertengahan cerita sudah dapat ditebak siapa yang menjadi dalang dari semua ini. Ya, seperti biasa, dalam ceritanya, Dan Brown suka sekali mempermainkan pembaca dengan membingungkan pembaca dalam menerka siapa-siapa saja yang menjadi aktor dibalik semua masalah yang ada di dalam ceritanya.

Ceritanya menjelang pemilihan presiden di Amerika Serikat. Presiden yang sedang bekerja adalah seorang yang melindungi NASA. Sementara rivalnya menggunakan isu ke-tidak-efisien-an NASA dan menuduh NASA telah menghabiskan uang negara yang berasal dari pajak. Sehingga posisi presiden saat ini dan NASA sangat terpojok, ditambah dengan dekatnya waktu dengan pemilihan presiden, tentu hal ini merugikan pihak presiden untuk memenangkan pemilu yang berikutnya. Namun, ternyata NASA menemukan sebuah meteorit yang sangat luar biasa yang dapat membuktikan bahwa ada kehidupan di luar planet bumi. Ya, tentunya yang bernama meteorit berasal dari luar bumi, dan jika ada tanda kehidupan di meteorit tersebut berarti ada kehidupan di luar bumi bukan? Tapi, tentu saja sesuai dengan judulnya: Deception Point, Titik Muslihat, tampak ada sesuatu yang janggal yang terjadi dalam cerita ini. Dan beberapa (atau banyak?) orang tampak menjadi sangat sibuk dengan adanya kejanggalan ini. Dan selanjutnya bagaimana? baca saja sendiri ya... hehehehehe...

Jika di buku The Da Vinci Code, Dan Brown banyak menyinggung tentang seni, agama, dan peradaban, atau pada Digital Fortress banyak disinggung mengenai komputer dan kriptografi, di buku ini tampak banyak dibahas mengenai geologi, ilmu alam, militer dan pemerintahan Amerika Serikat, dan tak lupa dengan beberapa cerita politis.

9 Comments

Published on 2007-03-20 23:09:43. 4090 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Canon PowerShot S3 IS

Rabu (21/3) kemarin, saya dan adik saya memutuskan untuk membeli sebuah kamera digital untuk keperluan dokumentasi pribadi sehari-hari. Ya, tadinya saya menabung untuk membeli sebuah telepon seluler baru yang dapat terkoneksi dengan PowerBook. Tapi setelah ditinjau ulang, tampaknya sebuah kamera digital lebih bermanfaat daripada sekedar mengganti telepon seluler.

Untuk survey awal, saya memanfaatkan katalog di situs Bhinneka untuk memilih dan menentukan kandidat kamera digital yang akan dibeli. Setelah menentukan tidak untuk memilih kamera tipe "pocket", akhirnya terpilih beberapa kamera hi-end kelas konsumer. DSLR? maunya sih, tapi dana sangat terbatas. Sementara kandidatnya adalah Kodak EasyShare Z650 (sekitar 2,7 juta rupiah), Z710 (2,9 juta), dan Z612 (3,1 juta). Ada Sony CyberShot DSC-H2 yang sangat menarik, namun harganya sedikit memberatkan (3,9 juta). Ada juga Fujifilm FinePix S5600 (3,6 juta) yang cukup menarik. Kamera-kamera ini terpilih karena dapat difungsikan dalam mode manual. Walaupun masih jenis point-and-shoot, bukan SLR, namun saya lebih menyukai memotret dengan mode manual. Walaupun saya sendiri tidak mengerti teknik dalam memotret.

Setelah mendapat beberapa model sebagai kandidat, kami pergi menuju BEC untuk survey barang. Ketiga model kamera Kodak diatas dapat ditemukan. Begitu juga dengan Fujifilm FinePix S5600. Hanya Sony CyberShot H2 yang tidak ditemukan, tapi yang ada malah Sony CyberShot H5 yang lebih baik (dan tentunya jauh diatas budget). Selain itu, kami juga menemukan Canon PowerShot S3 IS, yang tidak ada di katalog Bhinneka. PowerShot S3 tersebut ditawarkan dengan harga Rp.3.600.000,- hingga 3.750.000,-.

Canon PowerShot S3 IS

Tadinya anggaran yang dianggarkan untuk kamera digital sekitar 2,5 juta hingga sekitar 3 jutaan. Namun adik saya tampak sangat antusias dengan PowerShot S3. Singkat cerita, hasil pertimbangannya memutuskan untuk memilih PowerShot S3 walaupun mesti merogoh kocek lebih dalam memperbesar nominal yang mesti didebit. Dalam pembeliannya, saya diberikan bonus SD Card dengan kapasitas 1 GB yang bukan merupakan paket penjualan standar dari produsen. Harga yang disepakati adalah Rp. 3.575.000,- dengan garansi resmi 1 tahun oleh Canon.

Untuk fiturnya sendiri saya tidak terlalu mengerti mengenai kamera. PowerShot S3 ini memiliki sensor yang dapat menghasilkan gambar dengan resolusi maksimal 6 MegaPixel (2816 x 2112 pixel) yang juga dapat menghasilkan gambar dengan rasio widescreen (2816 x 1584 pixel). Selain mengambil gambar diam, kamera ini juga dapat merekam gambar bergerak (video, movie) serta dilengkapi dengan mic stereo. Kamera ini memiliki kemampuan perbesaran hingga 12 kali zoom optikal ditambah dengan 4 kali zoom digital (total 48 kali). Untuk pratampilan gambar, dapat menggunakan viewfinder maupun layar LCD 2 inch yang dapat di putar (sistem flip). Kemampuan ISO: Auto, High, 80, 100, 200. 400, dan 800. Untuk spesifikasi lengkap Anda dapat merujuk ke situs resminya.

Sementara yang menjadi masalahnya untuk saat ini adalah baterainya. Kamera ini tidak menggunakan baterai lithium-ion, tapi masih menggunakan baterai "klasik" ukuran AA (bisa jenis alkaline maupun NiMH-rechargeable) sebanyak 4 unit (di dalam paket pembelian disertakan 4 unit baterai non-rechargeable alkaline merk Panasonic). Dimana saya membeli secara terpisah baterai Sanyo dengan kapasitas 2700mAH (kapasitas yang diklaim oleh produsen, bukan kapasitas aktual). Dimana saya sudah memiliki charger di rumah yang biasa digunakan untuk mengisi baterai AAA untuk pemutar musik portabel saya. Masalahnya, kapasitas charger tersebut hanya 2 baterai, sehingga untuk mengisi 4 baterai saya harus melakukan pengisian sebanyak 2 kali. Dan menurut buku petunjuk charger tersebut, untuk pengisian baterai dengan kapasitas 2500mAH saja memerlukan waktu sekitar 24 jam. Ya, saya harus membeli sebuah charger baru. Ada yang punya rekomendasi? Yang juga berarti charger lama saya akan dibebastugaskan.

Links:
PowerShot S3 IS (Canon Asia)
PowerShot S3 IS (Canon USA)
PowerShot S3 IS (Flickr)

19 Comments

Published on 2007-03-25 12:08:58. 11787 views.
Tagged in:

Siteous & Share Printer Friendly Version Download as PDF

Ads

Archive

2004SeptemberOktoberNovemberDesember

2005JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2006JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2007JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2008JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2009JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2010JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2011JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2012JanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

2013JanuariFebruariMaretAprilMei

2004 - 2013Full Archive

© 2003 - 2013, Adham Somantrie. Bandung and Jakarta, Indonesia.
Built with Bootstrap. Made on Mac.