Adham Somantrie

Adham Somantrie

Browsing via SSH Tunneling

Posted on 2007-02-03 19:22:58. 12807 views.
Berhubung sudah dibahas oleh matriphe untuk client under Windows, sekarang mari kita bahas penggunaannya untuk client dengan sistem operasi berbasis UNIX, misalnya Mac OS X, FreeBSD, atau Linux. Dan tentu saja kali ini saya memakai Mac OS X.



Mari kita lihat contoh skenario dari gambar di atas. Sebuah jaringan lokal terhubung ke internet melalui sebuah PC router yang berfungsi sebagai NAT, singkatnya, PC router terhubung dengan internet dan membagi koneksi ini ke jaringan lokal. Dan PC router ini menggunakan sistem operasi FreeBSD. Lalu ada sebuah server lagi yang bertindak sebagai proxy server, dalam kasus ini server tersebut menggunakan sistem operasi Linux dengan aplikasi Squid sebagai proxy servernya. Serta sebuah host client bandel yang menggunakan sistem operasi Mac OS X.

OK. Secara default, segala akses ke internet melalui PC router selain dari proxy server adalah terblokir (digambarkan dengan tanda panah hitam nomor 4). Sehingga, untuk berhubungan dengan internet, client mesti melewati proxy server. Seperti gambar di atas, tanda panah hitam nomor 1 menunjukkan hubungan client dengan proxy server. Tanda panah hitam nomor 2, menunjukkan bahwa request dari client diteruskan ke internet melalui PC router. Dan tanda panah hitam nomor 3, menunjukkan bahwa request dari proxy server diteruskan ke internet, juga terjadi proses translasi alamat privat ke alamat publik oleh NAT.

Biasanya pemilik jaringan memaksa client agar melewati proxy server selain untuk menghemat bandwidth juga untuk manajemen accounting. Misalnya membatasi quota volume tiap user, membatasi kecepatan download user, ataupun membatasi ukuran file yang boleh di-download oleh user, serta memblokir alamat-alamat yang mengandung kata-kata tertentu. Namun dasar client bandel, selalu mencoba untuk mengakali limitasi yang diberikan oleh proxy server. Hehehehe...

Untuk membuat koneksi SSH, tentu saja baik klien dan server mesti memiliki aplikasi untuk ssh. Karena servernya menggunakan FreeBSD yang berbasis UNIX, tentu saja sudah memiliki aplikasi sshd sebagai SSH server. Dan aplikasi ini harus aktif agar dapat diakses dari host lain. Biasanya aplikasi sshd ini diaktifkan oleh admin untuk remote console, sehingga sang admin tidak perlu mengakses servernya secara fisik. Sementara untuk kliennya, biasanya sistem operasi berbasis UNIX memiliki aplikasi ssh. Untuk klien yang menggunakan sistem operasi Windows, dapat menggunakan aplikasi PuTTY seperti yang telah dijelaskan oleh matriphe di blognya.

Kita misalkan alamat IP PC router tersebut di sisi LAN adalah 10.14.0.1. Maka kita harus login ke komputer tersebut dengan menggunakan perintah ssh. Kita mulai saja. Pada OSX, jalankan aplikasi Terminal.app, lalu login ke komputer korban dengan sintax sebagai berikut. Namun tetap saja Anda membutuhkan password dan username yang valid untuk digunakan. Hehehehe...

$ ssh -D 4567 root@10.14.0.1

Parameter -D 4567 adalah untuk mengaktifkan port-forwarding dinamis di komputer lokal dengan port 4567. Nomor portnya sendiri adalah bebas, Anda dapat menggunakan port berapa saja yang tidak terpakai. Gunakanlah port dengan nomor di atas 1000. root@10.14.0.1 berarti kita akan login sebagai root di komputer dengan alamat IP 10.14.0.1. Anda tidak harus login sebagai root, sebagai user lain juga bisa.

Setelah koneksi SSH dengan korban tercipta, mari kita setting browser kita. Di sini saya mencontohkan dengan browser Firefox. Masuk ke preferences, lalu cari bagian network connections. Pilih "Manual Proxy Configurations", kosongkan semua field, lalu isi field "SOCKS Host" dengan alamat loopback, yakni 127.0.0.1, lalu isi port-nya sesuai dengan port yang Anda gunakan. Sebagai contoh, saya sertakan gambar contoh di bawah.



Lalu mari kita lihat hasilnya.



Dengan SSH Tunneling ini, request akan langsung dikirimkan ke PC router tanpa melewati proxy server (digambarkan dengan garis putus-putus biru nomor 5) melalui jalur tunnel ssh yang telah dibuat sebelumnya. Lalu request ini langsung di kirimkan ke internet, seolah-olah request ini dikirimkan dari PC router langsung (digambarkan dengan garis putus-putus biru nomor 6). Jadi Anda berinternet seolah-olah berada di komputer PC router tersebut. Untuk bandwith, tentu sudah jaminan mutu tanpa ada limitasi proxy maupun dari PC router itu sendiri.

Semester 8

Posted on 2007-02-11 00:41:12. 1003 views.
Setelah sekian minggu menikmati liburan, akhirnya tiba juga semester 8. Dalam beberapa minggu ini cukup banyak aktifitas yang dilakukan untuk mengisi liburan, mulai dari jalan-jalan ke Dufan dan Ciwidey, membaca buku yang tebalnya 600-an halaman terdiri dari 11 bab, tapi baru sampe bab 7, hingga mengerjakan kembali web ini.

Untuk web, selain mendesain layout dan tampilan baru saya juga merancang ulang database dan membangun kembali aplikasi Content Management System (CMS) dari awal. Ya, terlalu banyak yang mau dibenahi di web ini, sehingga saya terpaksa membuat struktur database yang baru, dan juga aplikasi yang baru. Mudah-mudahan saja dapat segera online. Untuk front-end-nya sendiri sudah hampir selesai, tinggal finishing. Sementara untuk back-end-nya masih jauh dari selesai, untuk operasional sih sudah bisa jalan. Yang menjadi masalah adalah konversi database dari aplikasi yang lama ke yang baru, mudah-mudahan bisa lancar.

Ini preview tampilan web untuk versi 7.

Adham Somantrie 2007th

Sementara ini tampilan untuk back-end-nya.

AdhamCore - Manage Posts

AdhamCore - Edit Post Entry

Semester 8 sudah di depan mata. 16 sks lagi, tapi saya mengambil 23 sks di semester 8 ini. Lebih baik lebih daripada kurang bukan?

Bismillahirrahmanirrahim...
In the name of God, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...

Apple Macbook Pro Pakai Dua Sistem Operasi

Posted on 2007-02-12 13:54:31. 4916 views.
Komputer notebook sekarang jadi pilihan utama bagi siapa saja, baik yang ingin mengganti notebook-nya yang lama atau mereka yang baru pertama kali memilikinya. Pilihan yang tersedia di pasaran pun beragam, dengan spesifikasi yang berbeda-beda satu sama lainnya.

Bagi Apple Inc (kata "Computers" dihilangkan dari nama perusahaan setelah mengumumkan iPhone bulan lalu) komputer notebook bukan hanya sekadar komoditas seperti pada merek-merek lain.

Kita pun condong menganggap produk Apple lebih pada state-of-the art dalam komputer, sebuah gabungan antara kemajuan teknologi dan desain futuristik yang menjadi ciri produknya seperti iPod maupun produk lainnya.

Salah satu keunggulan Apple Inc selama ini adalah konsistensi dalam menghadirkan berbagai produknya, termasuk notebook seri MacBook Pro. Dan, ketika Kompas mencoba salah satu notebook terbaru Apple, seri MacBook Pro 15 inci yang menggunakan prosesor terbaru Intel Core2Duo T2600 kecepatan 2,16 GHz dan prosesor grafik ATI Mobility Radeon X1600, ada yang berbeda dengan notebook ini dibanding notebook lain.

Pada awalnya, para pengguna fanatik komputer Mac merasa keberatan dengan keputusan Apple untuk menggunakan prosesor Intel menggantikan seri prosesor sebelumnya seperti G3, G4, maupun G5 yang berbasis RISC (Reduced Instruction Set Computer) yang lebih sederhana (lihat juga Kompas 20/2/2006). Namun, setelah mencoba MacBook Pro 15 inci selama beberapa saat, terasa produk terbaru Apple ini mampu menghadirkan sebuah nuansa yang berbeda.

Selama ini, komputer-komputer buatan Apple Inc dianggap sebagai produk eksklusif karena harganya yang tinggi, dan sistem operasinya yang berbeda dengan yang dikenal kebanyakan pengguna komputer di dunia yang menggunakan mesin Wintel (menggunakan Windows buatan Microsoft dan prosesor buatan Intel).

Dua sistem

Berbeda dengan sistem komputer notebook lain, MacBook Pro 15 inci selain memiliki berbagai fitur yang khas inovasi Apple, seperti rongga FireWire 800 untuk akses kecepatan tinggi serta sistem operasi Mac OS 10.4, salah satu fitur baru yang menarik setelah komputer Apple menggunakan prosesor Intel adalah aplikasi Boot Camp.

Aplikasi Boot Camp ini memungkinkan MacBook Pro yang digunakan juga memilih sistem operasi Windows XP (atau Vista) buatan Microsoft. Artinya, mereka yang sebelumnya menggunakan sistem operasi Windows sekarang juga bisa digunakan pada komputer buatan Apple, dan semua aplikasi yang jalan pada mesin Wintel bisa berfungsi sepenuhnya.

Aplikasi menarik lainnya yang dicoba Kompas dan menjadi lebih menarik daripada Boot Camp adalah aplikasi yang disebut sebagai Parallels Desktop for Mac buatan Parallels Inc, sebuah perusahaan yang berpusat di Renton, AS. Aplikasi ini memungkinkan sistem operasi Mac OS 10.4 berjalan bersamaan dengan sistem operasi Windows XP sehingga aplikasi-aplikasi yang hanya berjalan di atas sistem Windows XP (seperti Microsoft Outlook, Microsoft Project, Quicken, dan sejenisnya) bisa tetap dipergunakan.

Notebook MacBook Pro dengan memori 1 GB mampu menjalankan aplikasi ini tanpa harus rebooting, atau mengalami gangguan dengan menghadirkan dua jendela menjalankan kedua sistem operasi tersebut. Kemampuan ini yang tidak dimiliki pada komputer notebook lain, walaupun ada juga informasi yang melaporkan keberhasilan menggunakan sistem operasi Mac OS 10.4 di atas notebook bukan buatan Apple.

Lebih cepat

MacBook Pro terbaru ini juga dilengkapi dengan kamera video pada bagian tengah yang disebut iSight serta sistem catu daya listrik MagSafe Power Adapter dengan kabel yang tersambung ke notebook menggunakan magnet serta terlepas sendiri bila tertarik. Notebook ini sebenarnya bukan hanya dimaksudkan untuk menjadi komputer desktop, sehingga Apple pun melengkapinya dengan Sudden Motion Sensor yang melindungi hard disk ketika notebook terjatuh.

Daya tahan baterai MacBook Pro ini pun cukup memadai untuk digunakan di luar kantor atau rumah. Daya tahan baterai bisa mencapai 2,5 jam ketika digunakan untuk menonton film DVD dan mencapai sekitar empat jam bila digunakan untuk keperluan akses jaringan internet, menulis menggunakan pengolah kata, atau untuk mengedit foto digital.

Ketika membandingkan MacBook Pro dengan Core2Duo dan notebook Apple sebelumnya yang menggunakan prosesor G4, misalnya, kemampuan yang dihasilkan oleh notebook terbaru berbasis prosesor Intel ini bekerja lebih cepat ketika menggunakan aplikasi pengeditan foto seperti Adobe Photoshop.

Apple mengklaim bahwa MacBook Pro yang dijadikan sebagai "gacoan"-nya bekerja lima kali lebih cepat dibanding seri PowerBook menggunakan prosesor G4, serta menggunakan memori RAM (Random Access Memory) dua kali lebih cepat, dan tak menyebabkan terjadinya jeda pada saat membuka berbagai aplikasi secara bersamaan.

Mereka yang baru pertama kali ingin menggunakan notebook sebagai perangkat bekerja dan hiburan, pasti tidak akan kecewa pada kinerja dan fitur yang mampu disediakan MacBook Pro yang menggunakan prosesor Intel ini. Desain klasik dengan layar lebar serta fitur nirkabel dan rongga Gigabit Ethernet pasti memuaskan siapa saja. (rlp)

Sumber : Kompas 12 Februari 2007
Referensi : Apple MacBook Pro

Goes to Curug Cimahi

Posted on 2007-02-24 08:26:37. 3202 views.
Sabtu (17/02) kemarin, Saya beserta teman-teman sekelas kembali melakukan aktifitas jalan-jalan. Saya, Yenni, Ridho, Andhika, Isnal, Danang, Retno, Mila, Ila, Efi, Robi, Erry, Dadang, Kisowo, Ginting, Teguh, Nyoman, Ayu, Astri, dan Ike kali ini memilih Curug Cimahi sebagai tujuannya.

Seperti biasa, perjalanan dimulai dengan mengumpulkan para iblis peserta di STT Square, yakni persimpangan di kampus tercinta. Acara jalan-jalan ini hampir saja gagal dikarenakan pembatalan secara sepihak oleh Mel, lebih tepatnya, karena tanpa Mel, maka tiada kamera digital. Untung kami masih punya kamera backup, yakni milik Erry. Namun apa daya, Erry datang tanpa kamera digital. Setelah beberapa konflik internal lainnya, seperti Isnal yang baru tau ada acara jalan-jalan 5 menit sebelum keberangkatan dan Danang yang ditodong oleh anak-anak setelah beliau baru saja pulang kuliah, serta kurangnya perhitungan yang menyebabkan over capacity (jumlah peserta 19 orang, sementara jumlah motor hanya 9) akhirnya kami berangkat juga tanpa Erry dan Dadang. Karena mereka kembali ke rumah Erry di Cimahi untuk mengambil kamera digitalnya. Hal ini pula yang menyebabkan kami memilih tujuan di seputaran Cimahi.

Tentu saja perjalanan dari Bojongsoang ke Cimahi mesti melalui kota Bandung. Secara lagi weekend, tentu saja Anda dapat membayangkan kondisi lalu-lintas kota Bandung yang macet dan sembrawut. Konvoi 10 motor tanpa ada bantuan voor rider dari pihak yang berwenang tentu saja dapat menyebabkan perjalanan menjadi kacau, apalagi dengan slogan "banyak jalan menuju Cimahi Roma", setiap pengendara tentu memiliki preferensi default routing yang berbeda-beda.

Di perjalanan pun tidak sedikit permasalahan yang terjadi, mulai dari kasus ban bocor sampai peserta yang memisahkan diri tanpa konfirmasi untuk beberapa keperluan. Saya sendiri bergabung dengan kloter 2 yakni bersama Ridho, Andhika, dan Yenni yang tadinya menunggu Danang dan Teguh yang melarikan diri untuk mengisi bensin. Setelah masing-masing kloter beristirahat dan beribadah di tempat yang berbeda, akhirnya seluruh peserta terkumpul lagi di warung gorengan di depan gerbang Villa Istana Bunga. Lalu akhirnya berangkat menuju Curug Cimahi.

Seluruh peserta tampak berbahagia setelah memasuki pintu masuk Curug Cimahi. Dan tentu saja semua antusias untuk menuruni tangga menuju curug. Hal ini dapat terlihat dari beberapa photo-session yang kerap kali dilakukan. Tapi ternyata, it is a long road to heaven, wakakakaka... Akhirnya tampak beberapa peserta yang mulai kehilangan keceriaannya dalam menuruni tangga yang panjang dan tiada akhirnya. Apalagi ditambah dengan mulai turunnya hujan, walaupun masih gerimis tapi membuat beberapa peserta menjadi terburu-buru.

Menuju Curug

Menuju Curug

Setelah sampai di bawah, terbayarlah semua perjuangan itu. Air terjun dengan tangan terbuka menyambut kehadiran kami. Tapi tampak cuaca kurang berbahagia, hingga turunlah hujan dan kami berteduh di pondok yang ada. Walapun demikian, keadaan tidak dapat menahan semangat '45 para peserta yang sangat antusias untuk menikmati air terjun dan tentu saja tujuan utama : photo session. Yang pada akhirnya hasil foto kurang bagus dikarenakan turunnya hujan. Dengan "pose of the day": di atas batu!

Percikan air terjun pun terasa sampai sekitar belasan meter dari tempatnya jatuh. Sehingga peserta menjaga jarak agar tidak terpercik. Tapi entah apa yang menjadi daya tariknya, sehingga semua peserta lambat laun mendekati air terjun hingga beberapa meter saja dari air terjun

Curug Cimahi

Setelah sekian lama, berpose di depan air terjun dan bebatuan cadas akhirnya tidak menarik lagi. Peserta pun mencari tantangan lain: menuju hilir air terjun (hilir? pokoknya yang di bawah itu... gak tau namanya apa... hehehehe...). Aktifitas ini dimulai oleh beberapa oknum, yang akhirnya diikuti oleh sebagian besar peserta. Termasuk Mila dan Ila yang akhirnya di-wisuda oleh teman-teman dari TE-27-05 di bawah air terjun, hingga mereka berdua diakui sebagai 2 orang sarjana teknik telekomunikasi.

Sebelumnya, kami mau meminta maaf kepada teman-teman sekelas yang lain yang tidak mengikuti acara ini dikarenakan kurangnya komunikasi dan koordinasi. Tapi tenang, bulan depan kita akan jalan-jalan lagi kok. *wink*

Cuaca Bandung Tidak Bersahabat

Posted on 2007-02-28 23:10:14. 5244 views.
Dalam beberapa minggu ini tampaknya Bandung kembali dingin. Setelah beberapa bulan yang lalu Bandung tidak menjadi dirinya sendiri, panas! Alangkah tidak logisnya saat itu, saya tidur di kamar tanpa selimut dengan kondisi pintu terbuka lebar. Bahkan, terkadang sampai berkeringat. Tragis sekali bukan? Untungnya cuaca kota Bandung sudah kembali dingin saat ini.

Tapi, beberapa hari yang lalu tampaknya Bandung lebih dingin dari biasanya. Saya tidur dengan kondisi pintu dan jendela tertutup rapat dan menggunakan selimut. Namun pada malam selasa kemarin, sekitar jam 3 pagi, tubuh saya menggigil kedinginan layaknya orang yang sedang demam. Asumsi saya saat itu, saya sakit demam. Tapi ketika saya memeriksa suhu tubuh dengan merasakan panas di kepala dan leher menggunakan tangan, sepertinya tidak ada yang salah dengan suhu tubuh saya saat itu. Lalu saya memutuskan untuk mengambil sweater dan tidur menggunakan sweater selain menggunakan selimut.

Paginya apa yang terjadi? seluruh tubuh saya terasa pegal-pegal dan sakit. Masuk angin? karena suhu terlalu dingin? jadilah tubuh ini cuma tulang yang dibungkus kulit. Tentu saja tidak dapat melawan suhu yang sangat dingin. Walaupun ada beberapa lapis lemak, tampaknya mereka tidak mau menyebar ke seluruh tubuh, tetap saja menetap di sekitaran perut. Wakakaka.

Setelah dianalisa, saya menemukan adanya lubang ventilasi di atas pintu yang diperkirakan menjadi tempat masuknya angin malam tersebut. Secara kamar saya langsung berhubungan dengan udara luar. Keesokan harinya, sebelum tidur saya menyempatkan diri untuk menutup ventilasi tersebut dengan karton dan plester. Benarkah demikian? setidaknya sekarang saya merasakan beratnya saat membuka pintu dikarenakan adanya perubahan tekanan di ruangan. So far so good. Kejadian sebelumnya tidak terulang lagi. Setidaknya sampai saat ini.

Dan ternyata, angin malam yang tidak bersahabat ini pula yang selama ini membuat badan saya terasa pegal-pegal saat bangun tidur. Dan kini, saya selalu menggunakan sweater saat tidur. Apa perlu menggunakan pemanas ruangan seperti di Eropa saat musim dingin? hehehehe...

Site Search

Loading...

Ads

short url service Edward Forrer 30% Off Discount Wadezig! Internet Sehat Available Ad Spot Available Ad Spot

Featured Contents

iPod Touch Experience Jailbreak iPod Touch iPhone OS 3.1 Telkomsel Indonesia dan iPhone 3GS Menggunakan Layanan PayPal Tanpa Kartu Kredit

Nike+

Facebook Connect

Connect with Facebook

Share