Adham Somantrie

Adham Somantrie

ATM Error?

Posted on 2007-11-01 09:37:55. 1624 views.


Apakah Anda mengenal taskbar yang ada di bawah layar itu? sebuah logo dan tulisan "Start" yang ada di tombol kiri bawah? Baloon notification yang ada di kanan bawah, di dekat tray icon?

Maaf kalau kualitas gambarnya buruk. Foto ini diambil di salah satu ATM di Paris Van Java saat buka puasa bareng BBV, Minggu (16/09) kemarin. Menggunakan kamera ponsel. Difoto dengan terburu-buru, karena posisi ATM yang ada di ruang terbuka. Saya takut kalau saja aktifitas dokumentasi saya ini termasuk ilegal

Dream Widescreen LCD Monitors

Posted on 2007-11-03 13:12:57. 2909 views.
Sebagai pengguna notebook, terkadang ukuran menjadi dilema. Apakah memilih notebook yang memiliki layar kecil dengan keuntungan portabilitas yang lebih tinggi namun kenyamanan berkurang, atau notebook yang memiliki layar lebih besar demi kenyamanan namun portabilitasnya berkurang. Saya sendiri lebih menyukai pilihan pertama, apalagi PowerBook Nano yang berukuran 12 inci ini saya rasa cocok untuk menemani aktifitas saya. Twelve is me. Untungnya walaupun berukuran 12 inci, layar PowerBook ini memiliki resolusi 1024x768 pixel, setara dengan monitor desktop 15 inci pada umumnya.

Namun terkadang layar berukuran kecil bisa sangat tidak nyaman, misalnya saat menonton DVD. Silahkan bayangkan bagaimana nyamannya menonton DVD dengan layar 12 inci. Dan saat bekerja dengan banyak window, maupun bekerja dengan spreadsheet atau dokumen berukuran besar, kenyamanan ini sangat berkurang.

Solusi umumnya adalah, tetap menggunakan notebook berukuran kecil demi portabilitas namun menggunakan layar monitor tambahan berukuran besar saat bekerja di tempat (desktop).

Setelah iseng-iseng mengamati monitor LCD berukuran 17 inci, ternyata pada umumnya masih memiliki resolusi 1280x1024, dan sangat sedikit sekali yang widescreen. Untuk yang berresolusi tinggi, harganya masih sangat mahal. Bahkan bisa dibilang tanggung, sebaiknya langsung saja membeli LCD berukuran besar sekalian seperti Dell E228WFP yang berukuran 22 inci.



Dengan harga di Indonesia sekitar 4,1 juta hingga 4,3 juta rupiah, tampaknya LCD ini bisa sangat menghibur mengingat ukurannya yang sangat besar, 22 inci, dengan resolusi yang cukup untuk bekerja dengan workspace yang luas, 1680x1050 pixel. Dan sialnya (atau untungnya?), di Amerika produk ini bisa didapatkan dengan harga hanya USD269! Tapi jangan lupa: syarat dan ketentuan berlaku. Silakan lihat screenshot dan ikuti link dari gambar di bawah ini.



Tapi juga tersedia versi premiumnya, Dell 2007WFP UltraSharp yang memiliki resolusi lebih tajam (ppi, pixel per inch, lebih tinggi). Dengan resolusi yang sama, 1680x1050 pixel, namun memiliki ukuran yang lebih kecil, yakni 20 inci, sehingga pixelnya lebih padat. Yang konon katanya monitor ini menggunakan LCD panel yang sama dengan Apple Cinema Display HD 20". Tapi, kalau tidak terlalu mementingkan ketajaman resolusi, tampaknya 22 inci lebih lega, dan lebih murah tentunya! menarik bukan?

Untuk yang membutuhkan tampilan yang lebih tajam, ada baiknya untuk memilih versi UltraSharp ini. Tetapi ternyata harganya lebih mahal, di Indonesia sekitar 4,8 juta hingga 5,2 juta rupiah. Hmmm, sebagai perbandingan, Apple Cinema Display HD 20" di Indonesia harganya sekitar 6 jutaan. Tapi, mari kita lihat harga khusus Dell untuk produk ini, USD 399! syarat dan ketentuan berlaku tentunya!

Seandainya saya punya uang sebanyak itu, tentunya saya lebih memilih casing alumunium Apple Cinema Display HD. Agar serasi dengan casing alumunium PowerBook tentunya. Di samping faktor teknis dan harga, faktor selera juga menentukan pilihan, tentunya...



Tapi entah kapan saya bisa memiliki monitor ini, selain faktor utama (baca: dana yang terbatas), ternyata kamar saya juga tidak memiliki ruang kosong yang muat untuk meletakkan sebuah monitor. Bahkan untuk LCD 14" sekalipun, hahahahahaha.... tampaknya lebih baik membeli lensa.

Ada Apa (lagi) Dengan Telkomsel? (SOLVED)

Posted on 2007-11-04 23:18:41. 1978 views.
Hmm.. gak tau tadi kenapa dapet SMS kaya gini:



Loh? itu kan pulsanya masih ada... masih cukup lah buat ngapa-ngapain.

Terus diikuti dengan SMS ini:



Loh? kok ada minimal treshold for GPRS usage? perasaan kemaren-kemaren pake GPRS buat koneksi internet pake laptop sampe pulsa mendekati Rp. 0,- gak ada beginian, tapi langsung putus begitu pulsa tidak mencukupi.

Ah, jangan-jangan masa aktif kartuku sudah habis... Tapi kok bisa? perasaan kemarin baru ngisi pulsa deh... coba cek dulu pake *888#



Nah loh, itu masih sampe 26 November 2007. Dipake sms-an aja masih lancar-lancar aja.
Catatan: itu pulsa berkurang soalnya abis ngirim MMS.

Hmmm.... sebenernya udah beberapa hari ini sering dapet SMS gitu sih. Kalo sekarang mungkin deh karena pulsanya dikit (tapi biasanya Telkomsel ngomel-ngomel kalo pulsanya udah dibawah Rp. 10.000,- kok). Lah, kemaren-kemaren? Pulsanya masih 30 ribuan kok dapet SMS gituan?

Daripada pusing, coba hubungi deh Caroline (Telkomsel Customer Care by Online) di 116 (atau 111 jika dari kartuHALO). Udah dari kemaren-kemaren sih coba telpon ke sini, tapi line sibuk mulu... dan untungnya malem ini akhirnya berhasil nyambung juga.

Akhirnya setelah bercerita panjang lebar mengenai hal yang terjadi, akhirnya saya bertanya: Mungkinkah sekarang Telkomsel menerapkan batas minimal pulsa untuk mengakses GPRS? Dan ternyata, mas-mas tersebut menyatakan bahwa tidak ada kebijakan seperti itu (ceunah, red). Katanya, kemungkinan ada ketidakstabilan dalam jaringannya. Tidak ada solusi dari perbincangan dengan Mas CS tersebut.

Wah capek deh... pastinya sulit banget kalo kita mo ngomong teknis ama customer care, kalo ama technical support lain cerita. Ya sudah, bagi yang merasa punya hubungan dekat dengan telkomsel, mungkin bisa bantu... Tante Mira mungkin?

Update 5 November 2007 14:34 WIB

Tadi pagi, akhirnya coba iseng lagi telepon Caroline 116. Kali ini Mbak Meisya yang ada di ujung telepon sana. Setelah berbincang-bincang mengenai masalah ini, beliau menyatakan kemungkinan ada masalah di jaringan Telkomselnya, yakni salah dalam pemposisian saya. Beliau menyarankan saya untuk melakukan pemposisian ulang dengan mematikan ponsel saya selama beberapa menit dan menghidupkannya kembali.

Setelah ponsel saya matikan dan saya tinggal mandi, lalu saya aktifkan kembali setelah mandi dan beberes, saya coba untuk menggunakan layanan GPRS. Dan, lancar, tiada masalah. Tiada SMS dari 222 itu lagi...

Dan untuk masalah "GPRS Threshold" itu, menurut beliau tidak ada batas minimal pulsa untuk menggunakan GPRS, selama pulsa masih memadai untuk koneksi GPRS, kita masih dapat menggunakan akses GPRS.

Terima kasih Mbak Meisya...

Beli Lensa Apa Ya?

Posted on 2007-11-06 13:31:54. 2014 views.
Sabtu (03/11) kemarin, kamera pesanan saya, Canon EOS 350D, akhirnya tiba. Saya memutuskan untuk menjual kamera lama dan beralih ke DSLR. Saya membeli kamera ini tanpa lensa dari JPC Kemang melalui internet. Sungguh online store yang sangat bagus, pelayanannya baik dan memuaskan, Recommended!

Lalu mengapa saya tidak sekalian membeli lensa? Secara saya sudah memiliki lensa tele Canon EF 75-300mm f/4-5.6 USM III. Namun untuk kepentingan tertentu, pasti saya akan membutuhkan lensa normal/wide. Tetapi karena rentang zoom lensa kit Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 USM tidak mencukupi bagi saya, dan ditambah dengan informasi bahwa performa dari lensa kit ini kurang baik, maka saya memutuskan untuk mencari lensa lain.

Memang saya bukanlah fotografer profesional, fotografi adalah untuk kesenangan dan menyalurkan bakat "sok nyeni" (so far). Jadi saya hanya mencari lensa kelas consumer. Saya tidak akan mencari lensa dengan performa terbaik (kelas profesional, performance class), karena harganya pasti sangat tidak bersahabat. Ya, kalau lebih mahal dari harga lensa kit adalah wajar. Setelah melihat-lihat spesifikasi di internet dan harga di Indonesia, berikut lensa yang menjadi nominasi:

1. Sigma AF 18-125mm f/3.5-5.6 DC.
Sigma 18-125

Sebenarnya saya hanya ingin mencari lensa yang memiliki focal length range lebih lebar dari 18-55mm, mungkin sekitar 18-85mm. Namun lensa kit 18-85mm hanya tersedia versi IS, yang tentunya mahal. Maka saya mencoba mencari lensa 3rd party. Dan tampaknya lensa ini merupakan pilihan yang baik. Dengan rentang yang luas, saya tidak perlu membawa banyak lensa untuk berbagai focal length.

2. Sigma AF 18-200mm f/3.5-6.3 DC.
Sigma 18-200

Namun ketika melihat lensa ini, yang harganya tidak jauh dari yang 18-125, tentunya pilihan ini menjadi lebih menarik karena rentangnya lebih luas lagi. Dan dengan bukaan aperture yang sama besar. Mungkin dengan lensa ini, lensa tele saya akan jarang terpakai.

3. Canon EF 28-105mm f/3.5-4.5 II USM.
Canon EF 28-105

Setelah melihat-lihat, saya berpikir untuk mencari lensa dengan mount EF, bukan EF-S. Karena lensa EF masih kompatibel dengan kamera Canon Analog, misalnya Canon EOS 500 milik adik saya. Karena rentang 18-85 (non-IS tentunya) tidak saya temukan informasinya di internet, maka saya coba untuk melihat lensa ini. Rentang zoom-nya cukup lebar untuk travelling dan bukaannya cukup besar.

4. Canon EF 24-85mm f/3.5-4.5 USM.
Canon EF 24-85

Seperti lensa yang sebelumnya, namun lensa ini "lebih wide". Lensa ini mirip dengan lensa adik saya, Canon EF 28-90 f/4-5.6 USM, yang sayangnya tidak saya temukan reviewnya di situs photozone.de. Hanya saja memiliki bukaan yang lebih besar daripada lensa adik saya tersebut.

Hmmm... sampai detik ini, tampaknya pilihan lebih condong ke nomor 4. Namun, tentu saja pilihan tersebut hanya berdasarkan spesifikasi teknis dan review karena saya belum mencoba lensa-lensa tersebut secara langsung. Mungkin rekan pembaca yang memiliki atau pernah menggunakan lensa-lensa tersebut diatas bisa memberikan komentar? Atau ada saran lensa lain?

G5 Aluminium Wallpaper

Posted on 2007-11-08 12:30:34. 1883 views.
G5 Aluminium Wallpaper

Inspired by Apple PowerMac G5 (and MacPro) holey aluminium front case.
This package contains wallpapers with these resolutions:

* 240x320
For cellphone with 240x320 pixel screen resolution.
SonyEricsson K790, K800, K810, S500, T650, W580, W830, W850, W880, and others.

* 1024x768
For PowerBook G4 12", non-widescreen 15" PC monitor and notebook PC.

* 1280x800
For MacBook, and widescreen 14" notebook PC.

* 1280x1024
For non-widescreen 17" PC monitor, and non-widescreen 14" notebook PC.

* 1440x900
For MacBook Pro 15"

* 1680x1050
For MacBook Pro 17", Apple Cinema Display HD 20", and 20" or 22" widescreen PC monitor.

Get it now on my deviantart page.

Please tell me for any feedbacks. It might be any revision in the future.
Thanks. Ciao!

Any donations are welcome hahahaha....

Beralih ke Leopard?

Posted on 2007-11-13 10:46:11. 1437 views.
Apple telah meluncurkan Mac OS X Leopard (10.5) beberapa waktu yang lalu. Leopard memang luar biasa, apalagi saat ini pasar Mac sedang berkembang pesat. Namun apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk meninggalkan Tiger dan beralih ke Leopard?

Layaknya sistem operasi baru, tentunya ada hal yang belum mendukungnya atau didukungnya secara penuh, baik perangkat keras maupun perangkat lunak.

Masalah yang paling utama biasanya adalah perangkat keras (hardware). Leopard hanya meminta Mac dengan prosesor PowerPC G4, PowerPC G5, dan Intel Core. Dan untuk kelas G4, disyaratkan clockrate minimal 867 MHz. Serta meminta RAM minimal 512 MB. Untuk Mac baru, tentunya tidak menjadi masalah karena sudah dilengkapi dengan prosesor Intel Core 2 Duo dan memori minimal 1GB. Yang menjadi masalah adalah untuk Mac lama. Jika spesifikasi mesin Anda tidak memadai atau hanya dapat memenuhi standar minimal, adalah bijak untuk tetap mengandangkan Tiger.

Tapi melihat pengalaman emol, tampaknya Leopard dapat berjalan dengan baik pada iBook G4-nya. Tentunya spesifikasi minimal ini tidak cukup tinggi dan sebanding dengan fitur-fitur barunya. Tidak seperti OS tetangga yang menuntut perangkat keras terbaik hanya untuk animasi.

Di luar masalah perangkat keras, tenyata Leopard masih memiliki masalah dengan beberapa perangkat lunak populer. Menurut daftar ini, aplikasi seperti Adobe CS3 tidak belum kompatibel dengan Leopard hingga Adobe meluncurkan update. Microsoft Office 2004 juga memiliki sedikit masalah walaupun kompatibel. Bahkan Apple Aperture tidak dapat dijalankan di Leopard.

Selain itu, dukungan perangkat lunak terhadap perangkat keras juga harus diperhatikan, misalnya dukungan iSync terhadap ponsel yang Anda miliki, juga perangkat keras lain yang belum didukung oleh Leopard, karena driver untuk Tiger sebagian besar tidak dapat digunakan di Leopard.

Ini seperti ponsel W850i saya yang belum di dukung oleh iSync 2.x, hingga saya mendapatkan plugin iSync 2.3 yang tidak kompatibel di iSync 2.4 yang membuat saya tetap di 10.4.8 walaupun pada waktu itu sudah tersedia 10.4.10. Untungnya Leopard menggunakan iSync 3.0 yang sudah mendukung W850i. Jadi, pastikan ponsel anda didukung oleh iSync, atau jika tidak didukung, pastikan bahwa ada plugin yang bisa digunakan di Leopard.

Selain itu, perhatikan juga fasilitas yang mendukung jaringan. Seperti bug pada 802.1X Client di Leopard yang mendera AA Nata sang calon walikota.

Jika Mac Anda digunakan untuk kepentingan produksi atau pekerjaan, sebaiknya Anda masih tetap menggunakan Tiger. Apalagi jika ternyata banyak aplikasi produksi Anda yang belum bisa berjalan sempurna. Jika Anda memungkinkan untuk dual-boot, gunakan sistem ini.

Atau jika Anda memiliki komputer lain yang tidak digunakan untuk kepentingan produksi, Anda bisa mencoba di komputer ini.

Jika komputer Anda hanya digunakan untuk kepentingan sehari-hari dan tidak menggunakan aplikasi pihak ketiga Anda dapat menggunakan Leopard. Namun pertimbangan untuk mencoba Leopard dengan dual-boot terlebih dahulu adalah pilihan yang bijak.

Pastinya, adalah langkah bijak untuk melakukan backup pada data-data penting Anda sebelum beralih. Pilihan fresh install tampak lebih baik daripada upgrade.

Jika Anda masih ragu, ada baiknya Anda mengikuti saya untuk tetap menggunakan Tiger dan beralih saat waktunya sudah tepat, setelah Leopard diperbaik dan aplikasi siap dengan Leopard. 10.5.2 mungkin? atau 10.5.3? Hehehehe...

Bandung ComTech 2007, BeMall

Posted on 2007-11-17 21:02:45. 1428 views.
Beberapa hari yang lalu, saya menerima sebuah email dari Rendy melalui mailing list BBV. Isinya kurang lebih menginformasikan bahwa salah satu anggota BBV, Diki, akan memberikan seminar pada Sabtu, 17 Nopember 2007, di BeMall. Secara Diki adalah aktifis open source dan anggota id-ubuntu, saya yakin seminar tersebut tidak akan jauh dari sistem operasi Ubuntu Linux.

Karena hari Sabtu ini saya tidak ada rencana kegiatan, dan Lia pun sedang pergi ke pangalengan untuk rafting bersama astacala, maka saya pun pergi menuju BeMall sebagai penggembira untuk meramaikan seminar tersebut. Tampaknya pagi ini jalanan cukup "meriah" karena ternyata ada banyak pawai dalam rangka memperingati hari jadi Kota Bandung. Untungnya saya tidak terjebak dalam keramaian tersebut hingga sampai di BeMall dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun.



Presentasi seminar dibawakan oleh tiga orang aktifis Linux: Yulian Ardiansyah, Diki Andeas, dan Andi Sugandi; dengan judul "Free and Open Source Software (FOSS) untuk Industri Kreatif Bandung". Secara umum, presentasi ini menunjukkan bahwa untuk penggunaan kantoran (administrasi) maupun aplikasi produksi sudah dapat menggunakan produk FOSS dan tidak harus menggunakan aplikasi komersial ataupun proprietary. Juga mendemokan penggunaan aplikasi OpenOffice untuk keperluan kantor dan administrasi, aplikasi GIMP untuk pengolahan gambar, aplikasi InkScape untuk keperluan ilustrasi (vektor), aplikasi musik serta recording dan olah suara, sampai penggunaan aplikasi produksi film (animasi tiga dimensi, video editing, dan sebagainya) termasuk pemutaran sepotong film yang diproduksi penuh dengan aplikasi FOSS. Sayang sekali Diki yang terkenal dengan comic strip ChickenStrip-nya tidak mendemokan pembuatan komiknya dengan InkScape, hehehe.



Selama seminar berlangsung, tim dari KLuB (Klub Linux Bandung) juga membagibagikan CD Ubuntu Linux 7.10 (Gutsy Gibbon). Saya pun mendapatkan sekeping CD tersebut. Hanya saya sangat disayangkan CD tersebut diberikan dengan "apa adanya" tanpa kotak maupun plastik pembungkus, sehingga tampaknya para penonton sedikit kesulitan untuk menyimpan dan membawa CD tersebut. Memang hal ini mungkin dilakukan untuk menekan biaya, tapi akan lebih baik lagi jika bisa dilengkapi dengan bungkus CD.



Setelah seminar selesai, tim KLuB pun menuju food court untuk makan siang. Saya pun ikut bersama rombongan tersebut. Sambil menunggu makanan, kami pun berbincang-bincang. Saya sempat berkenalan dengan Mas Yulian yang ternyata orangnya sangat open dan ramah. Perbincangan sangat hangat mulai dari topik sekitar Ubuntu, Google OS (Android), hingga seputar masalah sosial budaya Kota Bandung.

Setelah makan siang, rombongan pun turun kembali ke lower ground floor, kecuali Mas Yulian yang langsung berangkat ke Jatinangor karena ada acara lain.

Ternyata sudah ada Pak Budi Rahardjo yang bermain musik bersama band-nya. Tampaknya Pak BR sudah serius sekali untuk bermusik, sampai bela-belain datang jauh-jauh hanya untuk mengisi acara.



Pak Budi, mungkin sudah saatnya bapak meninggalkan dunia IT dan menjadi musisi, hehehe... Atau mungkin sewaktu muda Pak BR memimpikan untuk menjadi rockstar tapi baru kesampaian sekarang?



Pak BR pun sempat menyanyikan lagu "Tercipta Untukmu" milik Ungu. Tampaknya sangat berjiwa muda sekali...



Setelah itu, Saya memutuskan untuk pulang. Namun batal karena hujan turun ketika saya baru keluar dari BeMall. Dan kembali berkeliling sembari melihat-lihat pameran yang ada (tidak, saya sudah tidak punya plan berbelanja keperluan komputer untuk setahun ke depan). Dan akhirnya bertemu Diki lagi di stand XL yang sedang "menjajal" modem HSDPA dari XL. Tampaknya Diki bukan mencoba, tapi sedang ngoprek agar modem tersebut bisa digunakan di laptop-nya yang menggunakan Ubuntu, hehehe...

Setelah itu, ternyata dimulai workshop Ubuntu yang mendemokan cara instalasi Ubuntu Linux.



Secara beberapa pengisi acaranya adalah dari LUG STT Telkom. Tampak Awangga menjadi moderatornya. Apalagi mbak yang jaga stand TelkomFlexi cakep, tapi susah difoto, kayanya dia tau kalo mau difoto, hehehehe...



Waktu sudah cukup sore, hujan pun sudah reda, dan saya pun pulang.

Serj Tankian: Elect The Dead

Posted on 2007-11-22 16:40:13. 2235 views.
Serj Tankian
Lama sudah tidak mendengar kabar dari System of a Down sejak album terakhirnya Mermerize-Hypnotize. Setelah berusaha mencari informasi, ternyata band ini memang memutuskan untuk beristirahat setelah dua album itu, dan masing-masing personilnya mengerjakan proyek pribadi masing-masing.

Serj Tankian, yang merupakan vokalis dari band tersebut, akhirnya meluncurkan album solo-nya di tahun 2007 ini. Menurut kabarnya, peluncuran resminya pada 23 Oktober 2007 kemarin. Namun sampai Senin kemarin (19/11), saya belum dapat menemukan CD ini di toko musik Disc Tarra yang ada di BSM. Mungkin tidak ada label di Indonesia yang memproduksi album ini, secara untuk album ini Serj Tankian tidak melibatkan major label, tetapi memproduksi di bawah label-nya sendiri: Serjical Strike.

Satu-satunya cara untuk mendengarkan album ini secara legal selain membeli CD impor adalah dengan mengakses situs pribadi Serj Tankian. Kalau untuk media elektronik seperti televisi atau radio, saya kurang mengetahuinya, karena saya tidak pernah mendengarkan radio atau menonton televisi (selain berita MetroTV dan Bioskop TransTV).

Elect The Dead
1. Empty Walls (3:49)
2. The Unthinking Majority (3:46)
3. Money (3:53)
4. Feed Us (4:31)
5. Saving Us (4:41)
6. Sky Is Over (2:57)
7. Baby (3:31)
8. Honking Antelope (3:50)
9. Lie Lie Lie (3:33)
10. Praise the Lord and Pass the Ammunition (4:23)
11. Beethoven's Cunt (3:13)
12. Elect the Dead (2:54)

Musiknya masih sejenis dengan musik System of a Down. System of a Down termasuk musisi yang sukses membawa nuansa musik etnis timur tengah ke publik mainstream, apalagi ke publik musik rock. Membuat musik System of a Down menjadi unik. Dan keunikan ini lah yang membuat saya suka dengan musik mereka, tidak seperti musisi rock lain yang sejenis.

Dan menurut Wikipedia, album ini juga tersedia dalam versi khusus, special edition, yang memberikan CD tambahan berisi 4 lagu:

1. Blue (2:45)
2. Empty Walls (Acoustic) (3:46)
3. Feed Us (Acoustic) (4:21)
4. Falling Stars (3:05)

Untuk pembelian melalui iTunes Music Store, juga tersedia tambahan 4 track:

13. The Reverend King (2:49)
14. Blue (2:45)
15. Falling Stars (3:05)
16. Lie Lie Lie (Music Video) (pre-order only)

Sumber:
Situs Resmi Serj Tankian
Serj Tankian di Wikipedia
Album Elect The Dead di Wikipedia

Greeny Wallpaper

Posted on 2007-11-25 01:10:03. 2139 views.
Greeny Wallpaper - Preview

Inspired by Unofficial Apple Mac OS X Leopard "Grassy Wallpaper", the I take this picture from my photo stock.

Camera: Canon EOS 400D.
Lens: Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 II (kit) lens.
Shutter speed: 1/100 sec.
Aperture: f/5.6.
ISO Sensitivity: ISO 100.
Focal Length: 55mm.
Date: October 15th, 2007.
Location: Pekanbaru, Riau, Indonesia.

This package contains wallpapers with these resolutions:

* 240x320
For cellphone with 240x320 pixel screen resolution.
SonyEricsson K790, K800, K810, S500, T650, W580, W830, W850, W880, and others.

* 1024x768
For PowerBook G4 12", non-widescreen 15" PC monitor and notebook PC.

* 1280x800
For MacBook, and widescreen 14" notebook PC.

* 1280x1024
For non-widescreen 17" PC monitor, and non-widescreen 14" notebook PC.

* 1440x900
For MacBook Pro 15"

* 1680x1050
For MacBook Pro 17", Apple Cinema Display HD 20", and 20" or 22" widescreen PC monitor.

Get it now on my deviantart page.

Please tell me for any feedbacks. It might be any revision in the future, or other resolutions.
Thanks. Ciao!

Any donations are welcome hahahaha....

FireWire (Saat Ini) Hanya Untuk Profesional (Saja)?

Posted on 2007-11-28 06:43:49. 4119 views.
FireWire (IEEE 1394) adalah standar koneksi yang ditemukan oleh Apple. Maka tidak heran jika di setiap Mac tersedia koneksi ini, baik untuk kelas consumer (iBook, MacBook) maupun kelas professional (PowerBook, MacBook Pro). Bahkan kelas profesional, Apple menyediakan koneksi varian FireWire 800 yang lebih cepat.

Hanya saja, FireWire kurang populer di kalangan pengguna karena relatif lebih mahal. Baik itu dari sisi perangkat keras, juga karena sistem royalti yang digunakan oleh Apple. Vendor yang cukup setia menggunakan teknologi FireWire ini adalah Sony, yang mengimplementasikan di semua jajaran produk HandyCam-nya, dan memodifikasi FireWire menjadi "mini-FireWire" yang disebut sebagai "Sony i.LINK".

Kesuksesan FireWire adalah pada dunia video. Apakah ini karena i.LINK pada setiap Sony Digital HandyCam? . Hampir semua video recorder digital mengadopsi koneksi ini untuk berinteraksi dengan komputer karena throughput-nya yang lebih baik dari USB. Dan bisa dibilang, sebagian besar penggunaan FireWire adalah untuk keperluan video. Selain itu, FireWire juga suka digunakan sebagai koneksi untuk harddisk eksternal bagi yang menginginkan kecepatan yang lebih dari USB.

Sebagai produk dari Apple, iPod juga pada awalnya dapat dikoneksikan menggunakan koneksi FireWire. Namun, "mungkin" untuk alasan peningkatan penjualan, iPod mulai didesain untuk dapat juga digunakan menggunakan koneksi USB. Namun sejak generasi kelima iPod (dan generasi pertama iPod Nano), koneksi FireWire tidak dapat digunakan secara penuh pada iPod, hanya dapat digunakan untuk keperluan battery charging saja.

Kapasitas iPod yang cukup lega (bahkan lebih dari cukup), terkadang dimanfaatkan sebagai penyimpan data eksternal layaknya harddisk eksternal. Namun dengan tidak dapat digunakan koneksi FireWire untuk penggunaan data, tentunya performansi dalam transfer data menurun jika menggunakan USB. Mungkin hal ini dapat mengecewakan sebagian besar pengguna. Dan untuk pengguna Mac, dengan koneksi FireWire, mereka dapat menggunakan iPod sebagai harddisk eksternal dan dapat melakukan "boot" dari iPod yang telah diisi Mac OS X. Ya, memang dengan beberapa ubahan, Mac berbasis Intel pun dapat melakukan "boot" dari harddisk eksternal USB.

iPod adalah salah satu perangkat kelas consumer yang menggunakan koneksi FireWire. Sementara harddisk eksternal berkoneksi FireWire umumnya digunakan oleh pengguna antusias dan profesional. Apakah kini FireWire tidak ditujukan untuk pengguna rumahan? tentunya selain penggunaan MiniDV camera. Padahal dengan meningkatnya penjualan Mac (yang tentunya dilengkapi dengan port FireWire), penggunaan FireWire diharapkan dapat meluas.

Daftar Pustaka:
Apple - Hardware & Drivers : FireWire
Wikipedia: FireWire
Wikipedia: iPod
HowStuffWorks: How FireWire Works

Site Search

Loading...

Ads

short url service Edward Forrer 30% Off Discount Wadezig! Internet Sehat I'm Going to PestaBlogger Dukung Startup Lokal - SparxUp Awards

Featured Contents

iPod Touch Experience Jailbreak iPod Touch iPhone OS 3.1 Telkomsel Indonesia dan iPhone 3GS Menggunakan Layanan PayPal Tanpa Kartu Kredit

Nike+

Facebook Connect

Connect with Facebook

Share